Bangun-bangun sudah berada di tahun 2014. Tepatnya bulan November, bertepatan dengan gigi yang sedang sakit. Rasanya kek lagi sama saja. Masa iya harus mengulang hidup dari awal dengan bonus ngilu-ngilu gigi? Katanya kalau dapat kesempatan hidup kedua, kita bisa memperbaiki masa lalu. Tapi kenapa yang pertama kali datang malah sakit gigi? Bahkan mesin waktu pun rupanya tidak mampu mengurus masalah gigi berlubang. Aku baru saja mengalami perjalanan waktu ala drama China. Bedanya, aku bukan menjadi dewa judi yang bisa menebak angka dan menguasai meja kasino. Ataupun pengembara yang menyamar jadi CEO kobokan ninja. Aku cuma kembali menjadi sarjana pengangguran dengan ingatan masa depan, sementara isi kepala masih membawa penyakit lama. Ini adalah tahun ketika aku mulai bertarung dengan isi pikiranku sendiri. Orang-orang mungkin menyebutnya overthinking. Tapi aku lebih suka menyebutnya overkeriting. Bayangkan saja, melihat bulu-bulu jempol kaki sendiri mendadak layu sebelum bertindak. Aku ...
Ada yang menarik dari cara sebagian orang kiri menyerang Jacques Derrida. Kosakatanya dianggap njelimet, pemikirannya dicap tidak membumi, dan dekonstruksi dinilai tidak menghasilkan solusi konkret bagi buruh yang upahnya cekak, pekerja yang lembur sampai tumbang, atau masyarakat yang dihimpit kenaikan harga kebutuhan pokok. Kritik itu tidak sepenuhnya salah. Teori yang hanya berputar di kepala memang tidak otomatis mengenyangkan perut. Namun, ada pertanyaan yang lebih mengganggu: sejak kapan kesulitan memahami sebuah teori menjadi bukti bahwa teori tersebut tidak berguna? Dan sejak kapan Marxisme merasa cukup dengan mengutip Marx tanpa perlu mengoreksi cara dirinya sendiri bekerja? Mari kita bedakan persoalannya. Ini bukan pembelaan membabi buta terhadap postmodernisme. Saya justru berangkat dari tradisi Marxis. Tetapi menjadi Marxis tidak berarti wajib memusuhi setiap pemikiran yang datang dari luar tradisi tersebut. Kalau Marx mengajarkan kita membaca kontradiksi, mengapa kon...