Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan hari ini

Sentimen Negatif Milenial dan Gen Z terhadap Soeharto: Studi di Media Sosial (2023)

  Pendahuluan Indonesia saat ini sedang didominasi oleh dua generasi muda yang jumlahnya sangat besar, yaitu Generasi Milenial dan Generasi Z. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, jumlah Generasi Milenial yang lahir pada rentang tahun 1981–1996 dan saat ini berusia 27–42 tahun mencapai 69,38 juta jiwa. Sementara itu, Generasi Z yang lahir pada tahun 1997–2012 dan berusia 11–26 tahun berjumlah 75,49 juta jiwa. Gabungan keduanya mencapai lebih dari 144 juta jiwa, atau setara dengan 53,81% dari total penduduk Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa pandangan, sikap, dan pendapat kedua generasi ini memiliki bobot yang sangat besar dalam menentukan arus wacana publik di Indonesia saat ini, termasuk dalam menilai tokoh-tokoh sejarah bangsa. Sebagai sosok yang pernah memimpin Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto menjadi salah satu tokoh yang paling banyak dibicarakan di ruang publik, baik secara lisan maupun di media sosial. Berbagai pandangan mu...
Postingan terbaru

Si Paling Teks dan Wahabi Lingkungan

Malam itu, di studio dingin Kompas TV, perdebatan tentang tambang nikel berubah menjadi semacam sandiwara semantik. Seorang aktivis lingkungan—yang sehari-harinya bertemu sungai berwarna logam, tanah terkelupas, dan hutan yang hilang seperti rambut rontok era modern—duduk dengan tenang.  Wajahnya adalah campuran antara kesabaran dan keletihan: lelah harus terus menjelaskan bahwa kerusakan itu nyata. Di seberangnya, seorang tokoh ormas keagamaan besar duduk rapi, membawa wibawa moral yang licin dan diksi-diksi seminar yang lajunya mengalir lebih lancar daripada sungai-sungai yang kini berubah coklat pekat. Lalu muncullah istilah yang aneh sekaligus lucu: aktivis itu disebut seperti “ingin pemurnian teks”, bahkan cenderung “Wahabi lingkungan”. Padahal ia tidak sedang memegang kitab suci ekologis; ia memegang laporan lapangan, foto udara, dan video sungai yang mati. Istilah itu seperti dilempar dari mulut yang lebih terbiasa memurnikan dokumen ketimbang memurnikan udara. Justru ironi ...

Ketika Hiper-Logika Lebih Mistis dari Hantu Itu Sendiri

Ada masa ketika kepercayaan tentang dunia gaib berpindah dari cerita nenek, kasak-kusuk kampung, suara musang yang dikira kuntilanak, atau potongan video kabur penuh “semut”.  Di masa itu, pesan bisa berubah sesuai siapa yang menceritakan: makin jauh dari sumber, makin absurd. Sekarang? Dunia digital membalik keadaan. Konten horor muncul berkali-kali lipat lebih banyak, diproduksi tanpa henti oleh para pemburu viewer, kreator yang mengejar adsense, dan editor yang memoles suara jangkrik sampai terdengar seperti tangisan. Andaikan video seorang anak yang dikutuk jadi ikan pari tersebar hari ini, apakah view-nya bisa lebih banyak dibandingkan video lainnya tentang seorang pelatih paus orca yang dimangsa oleh peliharaannya sendiri? Ledakan Horor Digital dan Lahirnya Manusia Hiper-Logika Inilah era ketika horor menjadi industri. Ketika “pengalaman mistis” dipaketkan dalam format 60 detik lengkap dengan judul bombastis seperti “Jangan Nonton Jam 3 Pagi”, padahal isinya mungkin hanya kuc...

Pahlawan di Negeri yang Tak Punya Ingatan

Tiba-tiba lawak.   Kadang sejarah terasa seperti sebuah lelucon panjang yang tidak pernah tamat, seperti sinetron dengan plot yang terus diulang tapi para pemainnya berganti wajah. Tahun 2025, kita menyaksikan babak baru dari serial “Indonesia Hebat”: pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional , dan entah bagaimana, dalam daftar yang sama, ada juga nama Marsinah , buruh perempuan yang mati mengenaskan karena melawan ketidakadilan pada masa yang sama. Siapa yang menulis naskahnya, tapi naskah ini jelas punya selera humor yang tinggi—dan gelap. Sebab bagaimana mungkin sejarah yang berdiri di dua kutub bisa disatukan dalam satu piagam kehormatan yang sama? Seolah-olah negara sedang bercanda sambil menepuk bahu rakyatnya, berkata: “Sudahlah, semua punya jasa. Pelaku dan korban pun bisa berdamai—asal sudah wafat.” Di masa Orde Baru, Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan , julukan yang bahkan kini masih terngiang di telinga sebagian orang tua kita dengan nada nostalgia. ...

Alasan Kita Harus Mendukung Pak Harto Jadi Pahlawan dan Sikap Masyarakat Avengers

Kalau Marvel punya Avengers Initiative, Indonesia punya Pahlawan Nasional Initiative. Di sana, para Avengers bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran; di sini, pahlawan nasional sering justru dipilih dari mereka yang pernah menciptakan kehancuran, lalu dianggap berjasa karena berhasil mengendalikannya. Dan kini, kandidat terbarunya: Bapak Soeharto. Bapak pembangunan, bapak stabilitas, bapak segala bapak. Mantan presiden RI ke-2 ini kembali ramai dibicarakan karena wacana pemberian gelar pahlawan nasional. Begitu wacana itu mencuat, negeri ini langsung pecah jadi dua kubu: yang mendukung dengan air mata nostalgia, dan yang menolak dengan nada moral tinggi. Kubu pertama bicara soal “jasa besar”: swasembada pangan, infrastruktur, harga stabil, dan rasa aman (yang sebenarnya lebih mirip rasa takut). Kubu kedua bicara soal tragedi 1965, penculikan aktivis, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga kehancuran lingkungan akibat industrialisasi serampangan. Tempo (2023) menulis, sebagian ...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Menolak Stoikisme Pasif dalam Kontra-Politik: Studi atas Demokrasi Indonesia Kontemporer

Filsafat selalu menjadi cermin bagi zaman. Ketika dunia modern dilanda ketidakpastian, ketegangan sosial, dan kemerosotan moral politik, banyak orang kembali mencari pelipur batin pada ajaran lama—salah satunya Stoikisme.  Dalam beberapa tahun terakhir, Stoikisme menjelma menjadi “spiritualitas rasional” baru bagi masyarakat urban. Buku-buku seperti Meditations karya Marcus Aurelius kembali dicetak ulang, sementara berbagai kanal media sosial menyebarkan kutipan Epictetus atau Seneca dengan pesan menenangkan: kendalikan diri, jangan terpengaruh hal di luar kendali, dan fokus pada kebajikan pribadi. Namun, di balik daya tarik itu, terdapat problem serius ketika Stoikisme dipahami secara sempit: ia berpotensi menumbuhkan sikap pasif terhadap realitas politik dan sosial. Di tengah krisis demokrasi Indonesia yang semakin nyata sejak 2014—ketika kebebasan sipil menurun, pelanggaran hak asasi meningkat, dan ruang publik dikooptasi—sikap stoikisme pasif dapat berperan sebagai ideologi yan...