Ada yang menarik dari cara sebagian orang kiri menyerang Jacques Derrida. Kosakatanya dianggap njelimet, pemikirannya dicap tidak membumi, dan dekonstruksi dinilai tidak menghasilkan solusi konkret bagi buruh yang upahnya cekak, pekerja yang lembur sampai tumbang, atau masyarakat yang dihimpit kenaikan harga kebutuhan pokok. Kritik itu tidak sepenuhnya salah. Teori yang hanya berputar di kepala memang tidak otomatis mengenyangkan perut. Namun, ada pertanyaan yang lebih mengganggu: sejak kapan kesulitan memahami sebuah teori menjadi bukti bahwa teori tersebut tidak berguna? Dan sejak kapan Marxisme merasa cukup dengan mengutip Marx tanpa perlu mengoreksi cara dirinya sendiri bekerja? Mari kita bedakan persoalannya. Ini bukan pembelaan membabi buta terhadap postmodernisme. Saya justru berangkat dari tradisi Marxis. Tetapi menjadi Marxis tidak berarti wajib memusuhi setiap pemikiran yang datang dari luar tradisi tersebut. Kalau Marx mengajarkan kita membaca kontradiksi, mengapa kon...
Sudah lama Pepe tidak bertemu Ojin. Entah karena kesibukan, kemalasan, atau memang kehidupan sudah terlalu mahal untuk sekadar ngopi. Suatu sore Pepe akhirnya mengajak Ojin ketemu di warkop langganan. Tempatnya masih sama: kursi plastik, meja yang permukaannya sudah seperti peta kepulauan, suara motor lewat, dan televisi yang volumenya lebih besar daripada pendapat pelanggan. Baru duduk, Pepe langsung melihat berita di televisi. Rocky Gerung dilantik menjadi anggota Wantimpres oleh Presiden Prabowo. “Jin, lihat tuh. Rocky Gerung jadi Wantimpres.” Ojin yang sedang mengaduk kopi menoleh sebentar. “Memang berat Rocky Gerung berapa kilo?” Pepe diam. Mungkin dikiranya si Ojin batrenya ketuker sama batre tamagochi. Lima detik. Sepuluh detik. “Bukan berat badan, Berat berita coyy” ah relep. “Oh.” Ojin menyeruput kopi. “Kalau berat badan gue juga nggak tahu.” Pepe mulai keki. Bukan karena pertanyaannya bodoh. Masalahnya, Ojin memang sering begitu. Kalau orang sedang membicarakan sej...