Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

LAKI-LAKI YANG LELAH UNTUK MENANGIS

Setiap pria mampu memanipulasi keadaan. Hanya saja urusan hati adalah persoalan lain. (sumber: duniaku.idntimes.com) Oleh : Rozi Hariansyah Kondisi sekitar kampus yang terletak di pinggir jalan lenteng agung, Jakarta Selatan itu mendadak ramai. Tidak tahu siapa yang memulai, rombongan mahasiswa masuk menyerbu di depan pintu gerbang. Kira-kira tiga puluhan. Mereka rombongan dari berbagai kampus di Jakarta. Almamater yang mereka pakai berwarna-warni. Ada yang merah, hijau , kuning dan abu-abu. Kilauan matahari pada sore itu tidak bisa membohongi lagi, dari air muka mereka yang marah dengan beberapa mahasiswa yang tidak mau diajak aksi lagi. Lanjutan demo dua jam sebelumnya, telah membuat macet jalan dari arah Depok yang mau ke arah Jakarta itu. Mereka menegaskan keinginan  untuk tetap jalan longmarch sambil mengajak mahasiswa dari kampus lain demi demo bareng. Penolakan  dari kampus kita untuk lanjut dengan aksi pada sore itu berbuah petaka. Kampus kita ...

PANGGILAN MISI KAPTEN MAMPANG

Yakin kan aku bahwa pulang ke Markas adalah pilihan yang tepat. (sumber: google.com) Oleh: Rozi Hariansyah Meracik secangkir kopi hitam setiap pagi hari merupakan rutinitas yang harus sering dilakukan. Pada saat orang lain masih terbuyarkan angan-angan hampa dalam mimpi yang tak berujung, seharusnya kita selalu bersiap, untuk menghadapi dunia yang fana ini. Lalu Sastro, orang yang memperhatikanku dari tadi malah bilang begini, “Kebanyakan gaya loe cuma bikin kopi doang.” Sastro merupakan orang yang sudah bangun pada pagi ini, selain aku tentunya. Sastro yang menjadi kapten. Makanya aku disuruh bikin kopi. Sebenarnya Alipkeriting yang biasa disuruh menyeduh air panas. Tetapi orang yang dimaksud malah asyik ngorok di kasur berbahan kapuk yang bikin batuk-batuk. Aku pastikan ruang tidur yang ditempati Alipkeriting lebih mirip dibilang kapal pecah alih-alih kamar. Kami bertiga yang menempati rumah ini. Mungkin belum lama dari awal tahun 2016. Rumah yang kami jag...

STAF PENDUKUNG

Awalnya aku mengira tidak ada pekerjaan yang lebih rumit saat kita berada di lapangan. Ini bukan tentang menjadi pesepakbola atau pemain basket. Kena sinar matahari, bertarung dengan macet, pun semanis kecap bila bertemu orang lain untuk yang kerjanya lebih banyak di luar kantor. Tentu saja aku tahu rasanya karena selama ini aku lebih banyak berkutat menjadi salesman . Maaf lebih tepatnya adalah tukang buku, tukang cokelat, tukang nawar iklan dan tukang kopi, barangkali… Namun semua berubah saat mengira aku adalah orang lapangan. Menjadi seorang staf pendukung, itu berarti kamu juga harus bersiap bengong seharian di depan komputer. (Goal.com) Oleh : Rozi Hariansyah Serba bisa. Kata yang tepat untuk menyebut orang-orang yang pandai mengerjakan banyak hal dalam satu waktu, alih-alih menyebutnya ‘orang gila’, kata mantan bos ku dulu sewaktu masih bekerja di perusahaan penerbitan. Aku bekerja sebagai administrasi operasional di sebuah bimbingan belajar. Jadi ingat w...

AH SHE ALL

Aku kembali memeriksa pesan masuk di email, demi meyakinkan bahwa aku tidak keliru. Seorang perempuan sudah benar menyuruhku untuk hadir hari ini. Aku harus datang. Saatnya berburu. Oleh : Rozi Hariansyah Memburu kepastian. Sudah lelah menjadi laki-laki panggilan karena menunggu untuk tawaran kerja. Menjadi ‘Co-Punk’, cowok panggilan – istilah kerennya. Sesuatu yang keren apaan? setelah lulus kuliah pada penghujung tahun 2014, saatnya aku mencari pekerjaan. Normal kan, memiliki penghasilan sendiri, dan syukur bisa membahagiakan orang tua. Tetapi hampir enam bulan aku hanya beraktifitas dalam organisasi saja. Kadang nongkrong, minum kopi, bengong saat rapat atau ketiduran sampai siang. Awalnya aku kira dengan sambil berorganisasi, otomatis kita akan memiliki pekerjaan. Organisasi yang jenis apa dulu? Iya sih pekerjaan memang banyak, namun jadi relawan. Tetapi namanya organisasi ‘Avenjer’, masa mau diduitin. Karena dompet di kantong sudah mulai tawuran dan keo...