Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Alasan Kita Harus Mendukung Pak Harto Jadi Pahlawan dan Sikap Masyarakat Avengers

Kalau Marvel punya Avengers Initiative, Indonesia punya Pahlawan Nasional Initiative. Di sana, para Avengers bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran; di sini, pahlawan nasional sering justru dipilih dari mereka yang pernah menciptakan kehancuran, lalu dianggap berjasa karena berhasil mengendalikannya. Dan kini, kandidat terbarunya: Bapak Soeharto. Bapak pembangunan, bapak stabilitas, bapak segala bapak. Mantan presiden RI ke-2 ini kembali ramai dibicarakan karena wacana pemberian gelar pahlawan nasional. Begitu wacana itu mencuat, negeri ini langsung pecah jadi dua kubu: yang mendukung dengan air mata nostalgia, dan yang menolak dengan nada moral tinggi. Kubu pertama bicara soal “jasa besar”: swasembada pangan, infrastruktur, harga stabil, dan rasa aman (yang sebenarnya lebih mirip rasa takut). Kubu kedua bicara soal tragedi 1965, penculikan aktivis, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga kehancuran lingkungan akibat industrialisasi serampangan. Tempo (2023) menulis, sebagian ...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Menolak Stoikisme Pasif dalam Kontra-Politik: Studi atas Demokrasi Indonesia Kontemporer

Filsafat selalu menjadi cermin bagi zaman. Ketika dunia modern dilanda ketidakpastian, ketegangan sosial, dan kemerosotan moral politik, banyak orang kembali mencari pelipur batin pada ajaran lama—salah satunya Stoikisme.  Dalam beberapa tahun terakhir, Stoikisme menjelma menjadi “spiritualitas rasional” baru bagi masyarakat urban. Buku-buku seperti Meditations karya Marcus Aurelius kembali dicetak ulang, sementara berbagai kanal media sosial menyebarkan kutipan Epictetus atau Seneca dengan pesan menenangkan: kendalikan diri, jangan terpengaruh hal di luar kendali, dan fokus pada kebajikan pribadi. Namun, di balik daya tarik itu, terdapat problem serius ketika Stoikisme dipahami secara sempit: ia berpotensi menumbuhkan sikap pasif terhadap realitas politik dan sosial. Di tengah krisis demokrasi Indonesia yang semakin nyata sejak 2014—ketika kebebasan sipil menurun, pelanggaran hak asasi meningkat, dan ruang publik dikooptasi—sikap stoikisme pasif dapat berperan sebagai ideologi yan...