Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Si Paling Teks dan Wahabi Lingkungan

Malam itu, di studio dingin Kompas TV, perdebatan tentang tambang nikel berubah menjadi semacam sandiwara semantik. Seorang aktivis lingkungan—yang sehari-harinya bertemu sungai berwarna logam, tanah terkelupas, dan hutan yang hilang seperti rambut rontok era modern—duduk dengan tenang.  Wajahnya adalah campuran antara kesabaran dan keletihan: lelah harus terus menjelaskan bahwa kerusakan itu nyata. Di seberangnya, seorang tokoh ormas keagamaan besar duduk rapi, membawa wibawa moral yang licin dan diksi-diksi seminar yang lajunya mengalir lebih lancar daripada sungai-sungai yang kini berubah coklat pekat. Lalu muncullah istilah yang aneh sekaligus lucu: aktivis itu disebut seperti “ingin pemurnian teks”, bahkan cenderung “Wahabi lingkungan”. Padahal ia tidak sedang memegang kitab suci ekologis; ia memegang laporan lapangan, foto udara, dan video sungai yang mati. Istilah itu seperti dilempar dari mulut yang lebih terbiasa memurnikan dokumen ketimbang memurnikan udara. Justru ironi ...

Ketika Hiper-Logika Lebih Mistis dari Hantu Itu Sendiri

Ada masa ketika kepercayaan tentang dunia gaib berpindah dari cerita nenek, kasak-kusuk kampung, suara musang yang dikira kuntilanak, atau potongan video kabur penuh “semut”.  Di masa itu, pesan bisa berubah sesuai siapa yang menceritakan: makin jauh dari sumber, makin absurd. Sekarang? Dunia digital membalik keadaan. Konten horor muncul berkali-kali lipat lebih banyak, diproduksi tanpa henti oleh para pemburu viewer, kreator yang mengejar adsense, dan editor yang memoles suara jangkrik sampai terdengar seperti tangisan. Andaikan video seorang anak yang dikutuk jadi ikan pari tersebar hari ini, apakah view-nya bisa lebih banyak dibandingkan video lainnya tentang seorang pelatih paus orca yang dimangsa oleh peliharaannya sendiri? Ledakan Horor Digital dan Lahirnya Manusia Hiper-Logika Inilah era ketika horor menjadi industri. Ketika “pengalaman mistis” dipaketkan dalam format 60 detik lengkap dengan judul bombastis seperti “Jangan Nonton Jam 3 Pagi”, padahal isinya mungkin hanya kuc...

Pahlawan di Negeri yang Tak Punya Ingatan

Tiba-tiba lawak.   Kadang sejarah terasa seperti sebuah lelucon panjang yang tidak pernah tamat, seperti sinetron dengan plot yang terus diulang tapi para pemainnya berganti wajah. Tahun 2025, kita menyaksikan babak baru dari serial “Indonesia Hebat”: pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional , dan entah bagaimana, dalam daftar yang sama, ada juga nama Marsinah , buruh perempuan yang mati mengenaskan karena melawan ketidakadilan pada masa yang sama. Siapa yang menulis naskahnya, tapi naskah ini jelas punya selera humor yang tinggi—dan gelap. Sebab bagaimana mungkin sejarah yang berdiri di dua kutub bisa disatukan dalam satu piagam kehormatan yang sama? Seolah-olah negara sedang bercanda sambil menepuk bahu rakyatnya, berkata: “Sudahlah, semua punya jasa. Pelaku dan korban pun bisa berdamai—asal sudah wafat.” Di masa Orde Baru, Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan , julukan yang bahkan kini masih terngiang di telinga sebagian orang tua kita dengan nada nostalgia. ...