Ada masa ketika kepercayaan tentang dunia gaib berpindah dari cerita nenek, kasak-kusuk kampung, suara musang yang dikira kuntilanak, atau potongan video kabur penuh “semut”.
Di masa itu, pesan bisa berubah sesuai siapa yang menceritakan: makin jauh dari sumber, makin absurd. Sekarang? Dunia digital membalik keadaan. Konten horor muncul berkali-kali lipat lebih banyak, diproduksi tanpa henti oleh para pemburu viewer, kreator yang mengejar adsense, dan editor yang memoles suara jangkrik sampai terdengar seperti tangisan.
Andaikan video seorang anak yang dikutuk jadi ikan pari tersebar hari ini, apakah view-nya bisa lebih banyak dibandingkan video lainnya tentang seorang pelatih paus orca yang dimangsa oleh peliharaannya sendiri?
Ledakan Horor Digital dan Lahirnya Manusia Hiper-Logika
Inilah era ketika horor menjadi industri. Ketika “pengalaman mistis” dipaketkan dalam format 60 detik lengkap dengan judul bombastis seperti “Jangan Nonton Jam 3 Pagi”, padahal isinya mungkin hanya kucing kampung melompat ke genteng. Tapi yang jauh lebih ironis adalah munculnya manusia-manusia Hiper-Logika, yang seolah merasa diri penjaga gerbang rasionalitas modern.
“Halah, itu cuma CGI. Itu bohong. Dunia gaib itu tak ilmiah.”
Lucunya, mereka mengulang dogma yang persis seperti yang dulu mereka kritik: dogma yang percaya bahwa pikiran manusia mampu menjelaskan semua hal—sebuah keyakinan modern yang tak kalah mistis dari kuntilanak itu sendiri.
Manusia hiper-logis hari ini seperti polisi logika yang bertugas memukul rata semua fenomena: hoax, halu, editan. Dan tentu, sebagian memang demikian. Tetapi dari hancurnya kepercayaan terhadap “mistika lama”, mereka justru melahirkan mitologi baru: bahwa segala sesuatu pasti bisa ditangkap nalar manusia. Dunia ini seolah hanyalah kotak kecil dalam pikiran mereka.
Padahal, untuk makhluk yang bahkan tidak bisa melihat gelombang inframerah, rasa percaya diri mereka agak berlebihan.
Realitas yang Tak Peduli Apakah Kita Percaya
Kita hidup di zaman yang membuat kita lupa bahwa keterbatasan manusia adalah fakta paling material di dunia. Di titik ini, saya condong pada pemikiran materialis yang melihat bahwa dunia tidak membutuhkan manusia untuk eksis. Sebelum ada manusia, ada gunung, ada petir, ada mikroba, ada longsor, ada suara di hutan yang tidak pernah diberi nama.
Dan jika ada bagian realitas yang belum dipahami, keberadaannya tak akan berubah hanya karena manusia sedang sibuk berdebat di kolom komentar.
Di titik ini saya sering mengolok-olok orang-orang hiper-logis itu:
“Mereka tidak percaya kuntilanak, tapi percaya kalau logika mereka sudah sempurna. Mana yang lebih gaib?”
Contohnya sederhana. Di sebuah rumah sekretariat organisasi, tetangga bilang rumah itu ada “penghuninya”. Dari lima orang yang tidur di sana bergantian, empat pernah merasa diganggu. Satu orang—yang mungkin paling kalem—malah pernah melihat “sesuatu”. Hanya satu yang masa bodoh, tak pernah merasakan apa pun, tidur dari isya sampai subuh dengan damai.
Nah, apa kesimpulannya?
Pengalaman manusia tidak seragam. Ketidakseragaman pengalaman bukan bukti bahwa yang dialami salah. Yang bisa “dihalau” dari pikiran kita hanyalah yang berasal dari pikiran kita sendiri. Sementara yang belum diketahui tidak otomatis tidak ada.
Nah, jika ada fenomena material yang belum dipahami—entah gelombang frekuensi tertentu, fenomena psikologis, atau sesuatu di luar sensor biologis manusia—realitasnya tetap independen. Ia tidak menunggu manusia mengesahkannya. Ia tidak peduli disangsikan. Dalam dunia material yang dialektis, realitas bergerak tanpa perlu izin manusia.
Orang hari ini tentu saja jauh lebih takut miskin daripada takut hantu. Itu fakta sosiologis. Tetapi lucunya: rasa takut miskin pun tak membuat mereka lebih logis, hanya membuat mereka makin sinis terhadap hal-hal yang tidak masuk logika mereka. Padahal, ketakutan terhadap gaib dulu bukan sekadar delusi; ia adalah usaha memahami dunia yang terlalu besar.
Ironi manusia modern adalah ini:
mereka merasa telah keluar dari mistik, tapi terjebak dalam mistik baru bernama kesombongan epistemik.
Psikolog Carl Jung menyebut bahwa manusia selalu memproyeksikan “unknown” ke bentuk simbolik. Itulah mengapa kuntilanak di Jawa berbeda dengan pontianak di Kalimantan atau banshee di Irlandia. Budaya membentuk nama dan rupa, tetapi tidak membentuk realitas yang mungkin melatarbelakangi pengalaman itu.
Dengan kata lain: kuntilanak mungkin tidak seperti bayangan putih berambut panjang—itu produk seni rupa rakyat. Tetapi pengalaman manusia tentang “ada sesuatu” tidak hilang hanya karena modernitas datang membawa lampu LED.
Realitas tidak tunduk pada pikiran manusia. Keterbatasan tidak bisa dihapus oleh ketidakpercayaan. Yang tak diketahui tidak otomatis tidak ada.
Penutup: Mereka yang Mengejek Horor Tapi Dikejar Kredit Bank
Di sebuah dunia di mana ketakutan paling nyata adalah harga beras, cicilan motor, skrol-shaming, dan ancaman PHK, kita diam-diam menjadi makhluk yang lebih takut pada kemiskinan daripada pada hantu. Barangkali itu wajar. Tetapi jangan lupa satu hal:
Di luar sana, ada realitas yang tetap berjalan tanpa peduli pada debat manusia. Entah itu kuntilanak, infrasonik yang memicu halusinasi visual, hewan malam, atau fenomena material lain yang belum bisa kita ukur.
Menghujat horor tidak membuat kita lebih pintar. Mengabaikan yang tak dipahami tidak membuat kita jadi ilmiah. Menertawakan orang lain yang melihat “sesuatu” hanya membuktikan bahwa kita tidak siap menerima bahwa manusia tidak pernah menguasai seluruh realitas.
Kadang saya ingin sarkas begini:
“Mereka bilang kuntilanak itu bohong, tapi percaya penuh pada algoritma yang mencuri data mereka setiap hari. Pada akhirnya, saya hanya ingin mengatakan: kita boleh meragukan apa saja.
Tapi jangan jatuh pada kesombongan bahwa dunia ini hanya seluas logika manusia. Karena yang bisa diusir dari pikiran kita hanyalah yang lahir dari pikiran kita sendiri. Bukan realitas yang sedang menunggu untuk dipahami.***
Penulis : Rozi H

Komentar
Posting Komentar