Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2015

MENAKAR ISLAM DAN TEOLOGI PEMBEBASAN MENURUT ASGHAR ALI ENGINEER

Islam sebagai teologi pembebasan menurut Asghar ialah perjuangan persoalan bipolaritas spiritual-material kehidupan manusia dengan menyusun kembali tatanan sosial sekarang menjadi tatanan yang lebih adil, egaliter, dan tidak eksploitatif, juga sebagai pendorong sikap kritis.   Dimana kehidupan dan kekayaan spiritual tidak bisa hidup dalam masyarakat satu dimensi. Asghar menjelaskan kembali bahwa teologi hanya akan bermanfaat bagi tujuan-tujuan kemanusiaan berangkat dari kondisi kemanusiaan itu sendiri yaitu mengubah nasib masyarakat dari penjajahan pengetahuan, budaya dan teknologi menjadi tatanan masyarakat yang adil dan bersifat maju anti penindasan. (Kredit foto: wikipedia.org) Oleh Rozi Hariansyah Asghar Ali Engineer merupakan  pemikir kontemporer yang  membangun reputasinya sebagai ilmuwan, jurnalis ,reformer sosial, dan aktifis publik. Ketika dunia sedang tertidur, dia dengan mata terbuka menulis buku, artikel, kolom, dan memorandum tentang hak-hak si...

KETIKA PERSIAPAN LEBARAN TELAH MEMBEDAKAN KITA

Menghamburkan banyak uang menjelang lebaran rupanya sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia. Tak perduli bagi semua lapisan masyarakat. Baik yang kaya ataupun yang miskin. Apakah ini berlebihan? Aku khawatir iya. Di tengah harga kebutuhan pokok yang semakin sulit dijangkau, justru tradisi berbelanja bagi sebagian besar masyarakat menjadi gelombang pasang untuk menyambut hari lebaran. (Kredit foto: Kaskus.com) Oleh: Rozi H. Hal ini yang aku temui secara berulang-ulang menjelang lebaran. Sepanjang hari ini aku berkendara menaiki sepeda motor. Bukan karena teriknya matahari yang memaksa aku berhenti pada suatu tempat. Aku terjebak pada kemacetan yang tidak biasa. Sejauh mata memandang, ternyata aku melihat jalan yang aku tuju disesaki oleh beberapa kendaraan terparkir semrawut. Jelas saja, jalan utama yang biasa dilewati dua jalur, kini seperti setengahnya. Sepanjang toko, pasar dan pusat perbelanjaan di depanku mendadak ramai.  Tempat itu cenderung dipenuhi lau...

4 HAL MEMBUAT MAHASISWA JOMBLO BERKUALITAS

Mahasiswa jaman dahulu lebih berkualitas dibanding mahasiswa jaman sekarang. Jaman dahulu mahasiswa sibuk berusaha menurunkan rezim yang dianggap tidak pro-rakyat. Kalau sekarang? Jangankan meluluhkan sebuah rezim, Meluluhkan hati gebetan aja rasanya ngos-ngosan. Setelah orde baru tumbang, kebebasan ada dimana-mana.  Tetapi kualitas mahasiswa malah menurun. Lihat saja jumlah mahasiswa jomblo ngenes semakin banyak. Apa buktinya? Tengok gerakan mahasiswa kekinian. Selain jumlahnya semakin sedikit, kalau kita mau ngecek lorong kampus masing-masing, pasti mereka lagi asyik nyepikin mahasiswi yang sedang lewat di lorong kampus. Mahasiswa jomblo sekarang juga lebih sering haha-hihi-nya untuk nunjukin eksis depan gebetan. Yang gak kalah menyedihkan, hanya menyendiri di pojok kantin atau perpustakaan meratapi mantan dari kejauhan. Sisanya kuliah langsung pulang, buru-buru ngerjain tugas kuliah sambil stalking sosial media punya mantan. (Diskusi Forum Mahasiswa IISIP Jakarta, 2...

MERAWAT HARAPAN: MENCARI TEMAN TEMBAKAU SAMPAI PASAR GLODOK, JAKARTA

Manusia  butuh teman untuk menjalani hidup. Sebab teman ada untuk saling melengkapi. Saat sulit datang, teman bisa memberi solusi. Tidak hanya kita, manusia yang membutuhkan teman. Pun dengan tanaman tembakau  yang telah menghidupi  jutaan rakyat di Indonesia. Tembakau memiliki teman yang melengkapi hidup pencintanya. (Kredit: Tanaman Tembakau) Oleh: Rozi.H Sejak  Pemerintah mengeluarkan peraturan untuk membatasi bahan mengandung zat adiktif berupa  produk tembakau, yang muncul tahun 2012 lalu. Saya mencoba menjelajahi kawasan Pasar Glodok di Jalan Pancoran, Glodok Jakarta Barat, hanya untuk menemukan pedagang yang menjual teman tembakau. Perburuan dimulai dengan berjalan-kaki. Sampai di Pasar Glodok membuat saya urung melangkah. Saya bertanya pada seorang petugas parkir, dimana lokasi pedagang tembakau itu berada.  Ternyata dia tidak mengetahui secara persis. Terpaksa saya harus melangkah lebih jauh. Saya tidak sendirian. Bersama seorang ...