Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Marxism Bukan Agama, Derrida Bukan Musuh: Bro, Revolusi Kok Malah Jadi Lomba Paling Suci?

Ada yang menarik dari cara sebagian orang kiri menyerang Jacques Derrida. Kosakatanya dianggap njelimet, pemikirannya dicap tidak membumi, dan dekonstruksi dinilai tidak menghasilkan solusi konkret bagi buruh yang upahnya cekak, pekerja yang lembur sampai tumbang, atau masyarakat yang dihimpit kenaikan harga kebutuhan pokok. Kritik itu tidak sepenuhnya salah. Teori yang hanya berputar di kepala memang tidak otomatis mengenyangkan perut. Namun, ada pertanyaan yang lebih mengganggu: sejak kapan kesulitan memahami sebuah teori menjadi bukti bahwa teori tersebut tidak berguna? Dan sejak kapan Marxisme merasa cukup dengan mengutip Marx tanpa perlu mengoreksi cara dirinya sendiri bekerja? Mari kita bedakan persoalannya. Ini bukan pembelaan membabi buta terhadap postmodernisme. Saya justru berangkat dari tradisi Marxis.  Tetapi menjadi Marxis tidak berarti wajib memusuhi setiap pemikiran yang datang dari luar tradisi tersebut. Kalau Marx mengajarkan kita membaca kontradiksi, mengapa kon...

Akal Sehat dan Akal Cair Rocky Gerung

Sudah lama Pepe tidak bertemu Ojin. Entah karena kesibukan, kemalasan, atau memang kehidupan sudah terlalu mahal untuk sekadar ngopi.  Suatu sore Pepe akhirnya mengajak Ojin ketemu di warkop langganan. Tempatnya masih sama: kursi plastik, meja yang permukaannya sudah seperti peta kepulauan, suara motor lewat, dan televisi yang volumenya lebih besar daripada pendapat pelanggan. Baru duduk, Pepe langsung melihat berita di televisi. Rocky Gerung dilantik menjadi anggota Wantimpres oleh Presiden Prabowo.  “Jin, lihat tuh. Rocky Gerung jadi Wantimpres.” Ojin yang sedang mengaduk kopi menoleh sebentar. “Memang berat Rocky Gerung berapa kilo?” Pepe diam. Mungkin dikiranya si Ojin batrenya ketuker sama batre tamagochi. Lima detik. Sepuluh detik. “Bukan berat badan, Berat berita coyy” ah relep. “Oh.” Ojin menyeruput kopi. “Kalau berat badan gue juga nggak tahu.” Pepe mulai keki. Bukan karena pertanyaannya bodoh. Masalahnya, Ojin memang sering begitu. Kalau orang sedang membicarakan sej...

Sentimen Negatif Milenial dan Gen Z terhadap Soeharto: Studi di Media Sosial (2023)

  Pendahuluan Indonesia saat ini sedang didominasi oleh dua generasi muda yang jumlahnya sangat besar, yaitu Generasi Milenial dan Generasi Z. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, jumlah Generasi Milenial yang lahir pada rentang tahun 1981–1996 dan saat ini berusia 27–42 tahun mencapai 69,38 juta jiwa. Sementara itu, Generasi Z yang lahir pada tahun 1997–2012 dan berusia 11–26 tahun berjumlah 75,49 juta jiwa. Gabungan keduanya mencapai lebih dari 144 juta jiwa, atau setara dengan 53,81% dari total penduduk Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa pandangan, sikap, dan pendapat kedua generasi ini memiliki bobot yang sangat besar dalam menentukan arus wacana publik di Indonesia saat ini, termasuk dalam menilai tokoh-tokoh sejarah bangsa. Sebagai sosok yang pernah memimpin Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto menjadi salah satu tokoh yang paling banyak dibicarakan di ruang publik, baik secara lisan maupun di media sosial. Berbagai pandangan mu...