Langsung ke konten utama

Sentimen Negatif Milenial dan Gen Z terhadap Soeharto: Studi di Media Sosial (2023)

 Pendahuluan

Indonesia saat ini sedang didominasi oleh dua generasi muda yang jumlahnya sangat besar, yaitu Generasi Milenial dan Generasi Z. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020, jumlah Generasi Milenial yang lahir pada rentang tahun 1981–1996 dan saat ini berusia 27–42 tahun mencapai 69,38 juta jiwa. Sementara itu, Generasi Z yang lahir pada tahun 1997–2012 dan berusia 11–26 tahun berjumlah 75,49 juta jiwa. Gabungan keduanya mencapai lebih dari 144 juta jiwa, atau setara dengan 53,81% dari total penduduk Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa pandangan, sikap, dan pendapat kedua generasi ini memiliki bobot yang sangat besar dalam menentukan arus wacana publik di Indonesia saat ini, termasuk dalam menilai tokoh-tokoh sejarah bangsa.

Sebagai sosok yang pernah memimpin Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Jenderal Besar TNI (Purn.) H.M. Soeharto menjadi salah satu tokoh yang paling banyak dibicarakan di ruang publik, baik secara lisan maupun di media sosial. Berbagai pandangan muncul, mulai dari yang memuji keberhasilan pembangunan hingga yang mengkritik tajam kebijakan-kebijakan di masa pemerintahannya. Perbedaan pandangan ini tampak sangat jelas ketika dilihat dari sudut pandang generasi yang berbeda, terutama Generasi Milenial dan Gen Z yang tumbuh di era setelah berakhirnya masa kekuasaan Soeharto.


Laporan ini disusun untuk memantau dan menganalisis sentimen negatif yang muncul dari Generasi Milenial dan Gen Z terhadap sosok Soeharto di berbagai platform media sosial, meliputi Facebook, Twitter (X), Instagram, YouTube, dan TikTok. Lebih dari 70% dari kedua generasi ini merupakan pengguna aktif media sosial, sehingga platform-platform ini menjadi ruang utama di mana pendapat mereka tersampaikan dan menyebar luas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran objektif tentang hal-hal yang menjadi perhatian dan kritikan utama generasi muda terhadap masa Orde Baru, serta menjadi dasar bagi upaya komunikasi dan pemahaman sejarah yang lebih baik.

 

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data melalui pencarian konten di lima platform media sosial utama, yaitu Facebook, Twitter (X), Instagram, YouTube, dan TikTok. Data diperoleh dari akun-akun media sosial yang memiliki jangkauan luas serta dari konten-konten yang mendapatkan jumlah komentar terbanyak terkait kata kunci “Bapak Soeharto” dengan tiga kategori utama: Pembangunan, Keamanan, dan Budaya. Pada setiap kategori, diambil sampel sebanyak 100 komentar untuk dianalisis tingkat sentimennya, kemudian dikelompokkan berdasarkan generasi untuk mengetahui kelompok mana yang paling dominan menyampaikan pandangan negatif.

Analisis dilakukan dengan membandingkan persentase sentimen negatif pada setiap platform, serta mengidentifikasi topik-topik yang paling sering memicu kritikan dari masing-masing generasi. Selain itu, juga diukur tingkat perhatian publik terhadap konten-konten tersebut melalui jumlah komentar, tayangan, dan pembagian ulang, untuk mengetahui platform mana yang paling efektif dalam menyebarkan wacana terkait sosok Soeharto di kalangan generasi muda.


Hasil Analisis per Platform Media Sosial

Facebook

Di platform Facebook, total sentimen negatif terkait sosok Soeharto mencapai 32%. Meskipun demikian, konten-konten dengan kata kunci “Bapak Soeharto” dalam kategori Pembangunan, Keamanan, maupun Budaya belum sepenuhnya didominasi oleh Generasi Milenial dan Gen Z, karena pengguna Facebook masih didominasi oleh Generasi X dan Baby Boomers (usia 43 tahun ke atas). Namun, jika dilihat dari penyumbang komentar negatif, Generasi Milenial justru menduduki peringkat teratas.

Pada kategori Pembangunan, sentimen negatif mencapai 30%. Kritikan terbanyak dari Generasi Milenial berkaitan dengan isu korupsi, kebijakan masa Orde Baru, dan pengaruh keluarga Cendana. Sementara pada kategori Keamanan, tingkat sentimen negatif mencapai 35%, dengan kritikan utama berhubungan dengan Tragedi Trisakti dan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Banyak yang menyoroti banyaknya korban dalam peristiwa tersebut serta belum tuntasnya penuntutan terhadap pihak yang bertanggung jawab. Pada kategori Budaya, sentimen negatif mencapai 30%, di mana Generasi Milenial banyak membahas tentang sejarah tahanan politik dan tokoh-tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer yang dianggap menjadi korban kebijakan pemerintah pada masa itu.

Berdasarkan temuan ini, disarankan agar dalam menyajikan konten terkait sosok Soeharto di Facebook, topik-topik seperti kerusuhan, perbandingan praktik korupsi, dan peristiwa Reformasi 1998 disajikan dengan sangat hati-hati karena rentan memicu reaksi negatif.

Twitter (X)

Twitter (X) menjadi platform dengan tingkat sentimen negatif tertinggi di antara semua platform yang diteliti, mencapai 40% secara keseluruhan. Berbeda dengan Facebook, di sini Generasi Milenial mendominasi sebagai penyumbang komentar negatif terbanyak pada ketiga kategori konten.

Pada kategori Pembangunan, sentimen negatif mencapai 46%. Generasi Milenial menyumbang 31% dari total sentimen negatif, terutama berkaitan dengan isu Hak Asasi Manusia (HAM) dan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Sementara itu, Gen Z menyumbang sekitar 10% dengan penekanan pada isu pelanggaran HAM. Pada kategori Keamanan, sentimen negatif mencapai 40%, dengan kritikan utama berfokus pada peristiwa Mei 1998 dan kasus Trisakti, serta peran militer dalam kehidupan bernegara pada masa Orde Baru. Pada kategori Budaya, sentimen negatif mencapai 35%, di mana Generasi Milenial banyak mengangkat isu peristiwa G30S/PKI dan pembatasan kebebasan berekspresi dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Gen Z juga menyampaikan kritikan terkait praktik korupsi dan narasi sejarah yang dianggap tidak lengkap.

Mengingat tingginya tingkat sentimen negatif di Twitter, disarankan agar dalam upaya penyampaian atau pemulihan citra sosok Soeharto di platform ini, topik-topik sensitif seperti HAM dan peristiwa Mei 1998 disajikan dengan kepekaan yang tinggi, tidak diabaikan, dan tidak dianggap sebagai hal yang tidak penting bagi generasi muda.

Instagram

Di Instagram, tingkat sentimen negatif relatif lebih rendah dibandingkan Twitter, yaitu rata-rata 24%. Generasi Milenial tetap menjadi kelompok yang paling banyak menyampaikan sentimen negatif, dengan Gen Z menyumbang sekitar 7–10%.

Pada kategori Pembangunan, sentimen negatif mencapai 28%, di mana Generasi Milenial banyak membahas tentang kebijakan ekonomi, utang negara, dan pola investasi yang dianggap kurang merata. Gen Z menyoroti isu korupsi dan sistem pemerintahan Orde Baru. Pada kategori Keamanan, sentimen negatif mencapai 25%, dengan kritikan utama berkaitan dengan pelanggaran HAM dan peristiwa kerusuhan Mei 1998. Pada kategori Budaya, sentimen negatif mencapai 25%, di mana muncul kritikan terkait kebijakan yang dianggap berpusat pada budaya Jawa atau Jawa-sentris, serta praktik KKN di lingkungan keluarga dekat Soeharto.

Disarankan agar konten di Instagram tidak terlalu menonjolkan pembangunan ekonomi yang terpusat di Jawa, serta lebih terbuka membahas isu-isu pelanggaran HAM dari sisi sejarah agar tidak menimbulkan kesan bahwa hal-hal tersebut diabaikan.

YouTube

YouTube memiliki total sentimen negatif sebesar 30%, dengan jangkauan tayangan yang sangat luas, berkisar antara 100 ribu hingga 10 juta penonton untuk setiap video populer. Hal ini menjadikan YouTube sebagai salah satu platform yang paling berpengaruh dalam membentuk pandangan masyarakat.

Pada kategori Pembangunan, sentimen negatif mencapai 40%, di mana banyak penonton dari Generasi Milenial menyebut Soeharto sebagai seorang diktator yang memegang kekuasaan terlalu lama. Gen Z juga menyampaikan kekhawatiran terkait praktik KKN dan sentralisasi kekuasaan. Pada kategori Keamanan, sentimen negatif mencapai 20%, dengan kritikan utama berkaitan dengan tanggung jawab atas peristiwa Mei 1998 dan kebijakan keamanan politik yang ketat pada masa Orde Baru. Pada kategori Budaya, sentimen negatif mencapai 30%, di mana banyak yang menyoroti pembangunan yang dianggap hanya berfokus di Pulau Jawa, serta kekayaan keluarga Soeharto yang dianggap berasal dari praktik korupsi.

Disarankan agar konten di YouTube menghindari penekanan berlebihan pada kekayaan keluarga Soeharto dan peristiwa Mei 1998, serta lebih banyak membahas keberhasilan pembangunan yang merata di seluruh wilayah Indonesia.

TikTok

TikTok menjadi platform dengan tingkat sentimen negatif terendah di antara semua platform, yaitu rata-rata 19%. Meskipun demikian, Generasi Milenial tetap menjadi penyumbang komentar negatif terbanyak, diikuti oleh Gen Z yang sangat aktif di platform ini.

Pada kategori Pembangunan, sentimen negatif mencapai 22%, dengan kritikan berkaitan dengan kekuasaan yang terlalu terpusat dan pengaruh keluarga dalam pemerintahan. Pada kategori Keamanan, sentimen negatif mencapai 15%, di mana muncul pembahasan tentang peralihan kekuasaan tahun 1966 melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dan dugaan keterlibatan kekuatan asing seperti CIA dalam pergantian kekuasaan tersebut. Pada kategori Budaya, sentimen negatif mencapai 20%, dengan pembahasan tentang kekerasan yang terjadi pada masa Orde Baru dan pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang dianggap terlalu berkaitan dengan kepentingan keluarga.

Disarankan agar konten di TikTok lebih banyak menyoroti aspek positif dari TMII sebagai sarana pelestarian budaya dan tempat belajar mengenal keberagaman Indonesia, serta menghindari penekanan pada aspek kekuasaan atau kepemilikan pribadi.

Analisis Umum dan Temuan Utama

Dari keseluruhan data yang diperoleh, terdapat beberapa hal penting yang menjadi benang merah dari sentimen negatif Generasi Milenial dan Gen Z terhadap sosok Soeharto. Pertama, Generasi Milenial mendominasi sentimen negatif di hampir semua platform, menunjukkan bahwa generasi ini, yang lahir dan tumbuh besar pada masa-masa akhir Orde Baru atau masa transisi Reformasi, memiliki kedekatan emosional maupun kognitif dengan peristiwa-peristiwa tersebut.

Kedua, isu-isu yang paling sering memicu sentimen negatif dapat dikelompokkan menjadi beberapa tema utama: pelanggaran Hak Asasi Manusia, peristiwa kerusuhan Mei 1998 dan Tragedi Trisakti, praktik korupsi serta kolusi dan nepotisme terutama yang berkaitan dengan keluarga dan lingkungan dekat, pemerintahan yang otoriter dan diktator, serta pembangunan yang dianggap tidak merata dan berpusat di Jawa.

Ketiga, setiap platform memiliki karakteristik dan topik yang berbeda. Twitter menjadi ruang di mana kritikan paling tajam muncul, terutama terkait HAM dan peristiwa politik. YouTube menjadi tempat di mana aspek pembangunan dan kesenjangan wilayah paling banyak dibahas. Sementara itu, TikTok lebih banyak membahas isu-isu yang bersifat ringkas, emosional, dan terkait dengan narasi sejarah yang lebih luas.

Keempat, Gen Z memiliki fokus kritikan yang sedikit berbeda dengan Generasi Milenial. Jika Generasi Milenial lebih banyak membahas peristiwa-peristiwa konkret yang terjadi pada masa Orde Baru, Gen Z cenderung lebih menyoroti isu-isu umum seperti korupsi, ketidakadilan, dan pengaruh kekuasaan terhadap kebijakan publik. Hal ini wajar karena Gen Z lahir setelah berakhirnya masa kekuasaan Soeharto, sehingga penilaian mereka lebih didasarkan pada narasi sejarah yang mereka pelajari dan informasi yang mereka temukan di media sosial.

Penutup dan Rekomendasi

Penelitian ini menunjukkan bahwa sosok Soeharto masih menjadi sosok yang sangat kontroversial dan membelah pandangan masyarakat, terutama di kalangan Generasi Milenial dan Gen Z. Tingginya persentase sentimen negatif di berbagai platform media sosial bukan berarti penolakan menyeluruh terhadap semua aspek masa Orde Baru, melainkan sebuah bentuk keterbukaan generasi muda untuk membahas sejarah secara kritis dan menyeluruh.

Berdasarkan hasil analisis ini, dapat disampaikan beberapa rekomendasi umum. Pertama, dalam menyampaikan narasi sejarah terkait masa Orde Baru, perlu dilakukan dengan cara yang seimbang—tidak hanya menampilkan keberhasilan pembangunan, tetapi juga mengakui dan membahas hal-hal yang menjadi kekurangan dan pelanggaran yang terjadi. Penyembunyian atau pengabaian terhadap hal-hal tersebut justru akan memicu lebih banyak keraguan dan sentimen negatif.

Kedua, perlu adanya pendekatan yang berbeda untuk setiap platform media sosial. Di Twitter, diskusi yang terbuka dan jujur terkait isu HAM dan peristiwa 1998 sangat diperlukan. Di Instagram dan YouTube, penekanan pada pembangunan yang merata dan keberhasilan di berbagai bidang dapat lebih banyak disampaikan, namun tetap disertai dengan pengakuan atas kelemahan-kelemahan yang ada. Di TikTok, pendekatan yang lebih ringkas, visual, dan bernilai edukatif seperti pelestarian budaya dan keberagaman dapat menjadi pintu masuk yang baik.

Ketiga, upaya pemahaman sejarah tidak boleh berhenti pada sekadar membicarakan satu tokoh, melainkan harus melihat gambaran yang lebih luas tentang perjalanan bangsa Indonesia—baik keberhasilan maupun kesalahan—agar generasi muda dapat mengambil pelajaran yang berharga untuk membangun masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih demokratis.

Sebagai penutup, perbedaan pandangan antar generasi terkait sosok-sosok sejarah adalah hal yang wajar dalam sebuah negara yang demokratis dan terbuka. Yang terpenting adalah bagaimana kita dapat saling mendengarkan, memahami berbagai sudut pandang, dan bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik, dengan tetap menghargai jasa para pendahulu sekaligus berani memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu.***


Penulis: Rozi H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Alasan Kita Harus Mendukung Pak Harto Jadi Pahlawan dan Sikap Masyarakat Avengers

Kalau Marvel punya Avengers Initiative, Indonesia punya Pahlawan Nasional Initiative. Di sana, para Avengers bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran; di sini, pahlawan nasional sering justru dipilih dari mereka yang pernah menciptakan kehancuran, lalu dianggap berjasa karena berhasil mengendalikannya. Dan kini, kandidat terbarunya: Bapak Soeharto. Bapak pembangunan, bapak stabilitas, bapak segala bapak. Mantan presiden RI ke-2 ini kembali ramai dibicarakan karena wacana pemberian gelar pahlawan nasional. Begitu wacana itu mencuat, negeri ini langsung pecah jadi dua kubu: yang mendukung dengan air mata nostalgia, dan yang menolak dengan nada moral tinggi. Kubu pertama bicara soal “jasa besar”: swasembada pangan, infrastruktur, harga stabil, dan rasa aman (yang sebenarnya lebih mirip rasa takut). Kubu kedua bicara soal tragedi 1965, penculikan aktivis, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga kehancuran lingkungan akibat industrialisasi serampangan. Tempo (2023) menulis, sebagian ...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...