Langsung ke konten utama

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

"Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry.

Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital.

Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang.


Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli

Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan. 

Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme bukan berarti pasrah atau acuh, tetapi latihan untuk tetap tenang menghadapi masalah.

Stoikisme, (tokoh-tokoh penting dalam stoikisme (seperti Marcus Aurelius atau Epictetus yang berasal dari Yunani) mendeskripsikan sebuah filosofi hidup yang menekankan pentingnya mengendalikan reaksi kita terhadap peristiwa, bukan peristiwa itu sendiri. 

Filosofi ini mengajarkan kita untuk membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan yang tidak, serta menerima kenyataan dengan lapang dada."

Latar Belakang dan Lompatan Menjadi Figur Publik

Ferry bukan lahir dari tradisi aktivisme mahasiswa—bukan sosok yang aktif demo, membaca teori perlawanan, atau tergabung organisasi pelopor. Ia tumbuh dalam jalur biasa: lulus kuliah, menjadi ASN, menjalani rutinitas birokrasi. 

Lompatan dari dunia birokrasi menuju kritik terbuka terhadap kondisi negara adalah kejutan yang membuatnya menarik. Bukan lagi sekadar influencer moral. Atau bikin konten yang penting view berjuta-juta, tidak.  

Ia menunjukkan pengorbanan ideal: peduli tapi rasional, empatik tapi kritis, sebuah bentuk idealisme yang tidak menuntut sorak-sorai di jalan. Dengan strategi dan pembacaan algoritma media sosial, Ferry mampu mengakomidir kegundahan publik dan memobilisasinya dengan sumber daya yang ia miliki, konten, jaringan influencer dan followers.
 
Dengan sebuah ketenangan ala stoikisme-mungkin bentuknya pun berubah sesuai pemahaman Ferry sendiri, ia mampu membuktikan perjuangan lewat garis yang lain, bukan jalan yang biasa dilalui.

Tapi apakah makna ketenangan itu sendiri benar-benar stabil? Dari kacamata dekonstruksi, ketenangan itu selalu menyimpan kontradiksi. 

Artinya, ketenangan berjuang yang terlihat rapi dan stabil bisa saja menyembunyikan kegelisahan atau ketegangan tersembunyi. 

Ketenangan Ferry terbentuk karena kontradiksi antara harapan, kekacauan sosial, dan tekanan digital. Tanpa kebisingan politik dan sosial, ketenangan itu kehilangan makna. 

Stoikisme ala Ferry adalah proses yang suatu saat bisa goyah, akan selalu dibayangi keraguan bila simulasi masa depan:  berpotensi menjadi apatisme individu jika akhirnya perlawanan ala ide-nya buntu atau dirinya yang akan memilih berjuang dari dalam menjadi sebuah apatisme publik berkelanjutan, mengingat sudah banyak mendaku aktifis seperti yang sudah-sudah jika masuk ke sistem politik yang banal, brutal dan tanpa pijakan jika tidak digandeng tangannya oleh rakyat banyak.

Tentu saja potensi-potensi ini akan ditertawai oleh bangunan logika stoikisme itu sendiri. "Fokuskan apa yang bisa kita kontrol bukan mengatur peristiwa yang sedang terjadi."

Aktivisme Digital dan Solidaritas Jarak Jauh

Apakah ketenangan Ferri adalah bentuk perlawanan sosial baru di era media sosial, di mana algoritma menuntut konsistensi narasi? 

Aktivisme kini bisa bergerak sendiri melalui jaringan digital, membangun solidaritas jarak jauh. Fenomena terdahulu yang memantik simpati publik seperti Arab Spring, Occupy Wall Street, dan Black Lives Matter menunjukkan bagaimana media sosial dapat memobilisasi massa global. 

Yah di konoha, tentu saja buzzer tidak akan tinggal diam. 

Namun, solidaritas digital bisa luntur; jika ekspektasi tidak terpenuhi, seseorang bisa merasa demoral—kehilangan semangat atau kecewa. 

Banyak contoh yang bisa kita ambil: misalnya ada beberapa eks-aktivis 1998 yang saya kenal. Ia mengorbankan masa muda demi perubahan sistem kemudian terlanjur kecewa ketika teman seperjuangan berkompromi dengan kekuasaan. 

Siapa yang capek mengorganisir di lapangan, siapa pula yang jadi selebritis di tv. Meskipun belasan tahun kemudian bisa ngopi-ngopi bareng lagi saat temannya sudah jadi komisaris atau wakil menteri.

Ini mengingatkan bahwa ketenangan individu, sekuat apapun, memiliki batas ketika menghadapi dinamika sosial dan politik yang kompleks.

Kontradiksi dan Jejak Ketenangan

Dinamika ini juga yang membuat "heroisme individu" seperti bebas dari kepentingan manapun- menjadi sumber kekuatan masyarakat media sosial. 

Mengingat sudah sangat muaknya publik dengan segala macam bentuk organisasi: dari ormas penjaga kawinan, ormas mahasiswa diundang ke kantor, partai politik dikuasai keluarga sampai organisasi gerakan sosial yang banyak warna benderanya.

Perlawanan katanya harus dipimpin oleh organisasi pelopor. Sejarah pasca 98 juga menunjukkan organisasi pelopor sering dipimpin elit oportunis, sehingga idealisme anggota muda terkikis. Selain itu banyak ribut-ribut yang menjadi riak dipoles dengan alasan perdebatan ideologis. Padahal untuk mengaburkan kejadian sepele seperti: rebutan pacar atau iri tidak diajak main proyek.

Dari sini lah Ferry muncul sebagai aktor tunggal, ketenangannya menyimpan kontradiksi: menjadi resistensi-bila semangat kritisisme publik membesar sekaligus risiko kooptasi-bila apatisme publik kembali menjadi yang sudah-sudah, solidaritas sekaligus rapuh. 

Jejak yang ia tinggalkan—fenomena solidaritas dari ketenangan dan refleksi—dapat dibaca ulang oleh teman maupun lawan. Dan di dunia nyata, definisi politik borjuis adalah bukan kawan atau lawan, tapi kepentingan abadi. 

Semoga saja Ferry lebih paham bahayanya pengkhianatan dari pada bacaan-bacaan ekonomi kapitalisme yang mungkin sudah ia pelajari sejak kuliah dulu.

Pertanyaan klasik sekali lagi: apakah Ferri akan tetap menjadi figur perlawanan bila suatu saat masuk ke dalam sistem, ataukah ia akan mengikuti nasib tokoh-tokoh lain yang bersinar di kala gelap lalu meredup saat terang tiba?

Kita tidak mau terjebak dengan narasi "yah paling kalau udah masuk sistem, sama aja sama mereka yang sekarang dikritik."

Tentu saja ini sebuah oposisi biner. Makanan empuk yang bisa kita dekonstruksikan. Dalam sistem vs luar sistem. Apakah Ferry akan tetap sama setelah masuk sistem? yang baik jadi tidak baik? atau masuk sistem jadi makin lebih baik? pertukaran tempat bukan otomatis pertukaran posisi. 

Baik dan buruk tidak jadi soal selama kepentinganmu tidak mengganggu kepentingan-yang lain. Siapa ini yang lain? 

Mungkin Ferry akan kebal dengan semua omongan dari luar yang tidak akan dipusingkannya. Tapi realitas akan berbicara lain. Ia butuh perlindungan dari banyak orang akan represifitas dan intimidasi dikemudian hari.

Ketenangan Sebagai Medium Perlawanan

Stoikisme akan selalu berpijak pada realisme. Ketenangan bukan kondisi murni, tetapi konstruksi sosial yang lahir dari kontradiksi. Ia bisa menjadi strategi untuk menutupi ketegangan internal, bergantung pada kebisingan sosial, dan selalu menyisakan kemungkinan goyah atau kuat. 

Sebab meskipun dengan batas-batas hasrat apa saja yang bisa dikontrol. Pada akhirnya semua carut-marut persoalan di semua lapisan masyarakat akan selalu bergejolak dan tidak terakomodir semua. 

Di sini lah kita tidak bisa berharap seorang atau dua orang bisa mengubah semuanya. Ke depan tentu saja kacamata solidaritas melampaui horizon Ferry Irwandi itu sendiri.

Sebab risiko paling ekstrim dari ketenangan yang paling stabil adalah sebuah bentuk apatisme klasik, baca: kepala batu. Akan tetapi ketenangan juga bisa menjadi medium perlawanan: memungkinkan refleksi, menciptakan ruang solidaritas baru, dan membangun idealisme yang tak mudah dikerdilkan oleh hiruk-pikuk digital.

Ferry Irwandi membuktikan bahwa perlawanan sosial bisa hadir dalam bentuk tidak konvensional. Kritis dan pengorbanannya akan menyisakan pertanyaan yang selalu terbuka tentang masa depan figur progresif di sistem yang kompleks.

Pada akhirnya mungkin siapapun yang sudah terasuki stoikisme- seperti yang dikatakan Martin Suryajaya “Stoikisme bukan tentang pasrah, tapi menguasai emosi agar tidak dikuasai keadaan.” Dan benar bahwa kebijakan sosial politik yang serakah tidak bisa dihadapi dengan benar-benar pasrah.

Lalu tentu saja dekonstruksi akan membuka kembali pintu-pintu yang coba ditutup rapat oleh Ferri sendiri, siapa yang menjadi sandaranmu untuk berjuang, Fer?***

Penulis: Rozi H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...