Langsung ke konten utama

Demokrasi Hari Ini: Bukan Sebuah Buku yang Membeku Atau Rakyat Khilaf

Apakah Demokrasi Hanya Ada di Buku?

Sering kali, demokrasi terasa seperti sebuah buku besar. Tebal, penuh jargon, diperdebatkan para elite dan intelektual di ruang seminar. Tapi setelah itu, seolah berhenti di sana. Kata-kata tentang partisipasi, kebebasan, dan kedaulatan rakyat membeku di kertas.

Namun, jika kita menoleh ke kehidupan sehari-hari, justru rakyat kecil yang menjalankan semangat demokrasi. Tanpa menyebut teori, mereka hidup dengan prinsip partisipasi dan kebersamaan.

Demokrasi yang Hidup di Desa

Ambil contoh di Cilawu, Garut. Serikat petani pasundan (SPP) namanya. Di sana warga yang mayoritas petani membangun organisasi berbasis gotong royong. Mereka berbagi benih, saling membantu di sawah, dan mengambil keputusan bersama.

Apakah mereka membaca teori demokrasi? Tidak. Tetapi praktik mereka jauh lebih dekat dengan demokrasi yang sejati: musyawarah, solidaritas, dan keadilan.

Retakan Antara Intelektual dan Rakyat

Mengapa ada jurang? Karena teori demokrasi sering dikemas dengan idealisme. Intelektual berdebat soal sistem dan konsep besar. Namun, pada saat yang sama, sebagian malah terjebak dalam politik praktis—dukungan kepada kandidat, euforia pemilu, atau kompromi dengan kekuasaan.

Di sinilah muncul retakan: demokrasi jadi narasi indah di buku, tetapi kehilangan pijakan di realitas rakyat

Demokrasi yang Sudah Dibajak?

Sejak reformasi 1998, kita menikmati ruang kebebasan politik. Tapi dalam dua dekade terakhir, kualitas demokrasi makin menurun.

Menurut laporan Indeks Demokrasi 2023 dari The Economist Intelligence Unit, Indonesia masuk kategori flawed democracy. Artinya, prosedur demokrasi masih ada, tapi kualitasnya melemah. Partai dikuasai elite, ruang sipil menyempit, pemodal besar mengendalikan politik.

Apakah ini masih demokrasi? Ataukah sudah menjadi permainan segelintir orang yang punya uang dan kekuasaan?

Filsuf Jacques Derrida menyebut demokrasi sebagai la démocratie à venir—demokrasi yang selalu “akan datang”. Artinya, demokrasi sejati tidak pernah final. Ia selalu terbuka untuk dikoreksi, dibongkar, dan diperjuangkan kembali.

Dengan kacamata dekonstruksi, kita bisa melihat: demokrasi bukan hanya soal prosedur lima tahunan. Demokrasi adalah ruang hidup, yang terus berubah, dan harus dibangun dari bawah.

Membalik Arah: Dari Rakyat ke Buku

Selama ini, demokrasi dipahami dari atas ke bawah. Buku ditulis, teori disebarkan, rakyat diminta mengikuti.

Tapi bagaimana jika arah itu dibalik? Dari rakyat ke buku. Dari praktik ke teori. Dari gotong royong di desa ke narasi akademik.

Bukankah lebih jujur jika buku lahir dari pengalaman rakyat, bukan rakyat yang dipaksa mengikuti buku?

Harapan di Tengah Retakan

Retakan antara teori dan praktik tidak harus membuat kita putus asa. Justru di celah itu, ada harapan. Demokrasi yang membeku di buku bisa dicairkan kembali lewat kehidupan nyata.

Di pabrik, di sawah, di kampung nelayan, di desa-desa, demokrasi tetap berdenyut. Ia tidak selalu tampak dalam bentuk formal, tapi hadir dalam solidaritas yang nyata

Penutup: Demokrasi yang Terus “Akan Datang”

Demokrasi di Indonesia hari ini memang paradoks. Di satu sisi, ia melemah oleh oligarki. Di sisi lain, ia hidup di tengah rakyat.

Di sinilah kita bisa belajar dari Derrida: demokrasi sejati bukan demokrasi yang selesai, melainkan demokrasi yang terus diperjuangkan. Demokrasi yang akan datang.

Maka, tugas kita adalah sederhana tapi mendasar: mengembalikan demokrasi ke pangkuan rakyat. Dari bawah ke atas. Dari praktik ke buku. Dari kehidupan sehari-hari ke teori.***


Penulis : Rozi H.

Catatan:

1. The Economist Intelligence Unit, Democracy Index 2023. Laporan lengkap: EIU Democracy Index.

2. Jacques Derrida, Politics of Friendship (1997) – gagasan la démocratie à venir.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...