Langsung ke konten utama

Feminisme Sehari-hari: Panggung Advokasi atau Identitas?

Dalam forum-forum advokasi perempuan, satu isu yang selalu muncul adalah soal siapa yang bicara. Identitas pembicara sering kali dijadikan ukuran keberpihakan. Seolah-olah, selama ada perempuan di depan panggung, forum otomatis sahih.

Saya pernah mengalaminya langsung. Dalam sebuah acara tentang perencanaan anggaran organisasi perlindungan perempuan, kami kehilangan pemateri perempuan di detik-detik terakhir. Waktu mepet, pengganti sulit dicari. 

Acara tetap berjalan dengan satu pemateri laki-laki. Untuk menjaga agar suara peserta perempuan tetap dominan, format diubah menjadi semi-FGD.

Sebagian peserta memahami. Tapi seorang ketua salah satu organisasi terundang menolak dengan keras. “Masa acara advokasi perempuan, pematerinya laki-laki?” protesnya.

Kritik itu sah. UN Women (2024) mencatat, hanya 22% forum publik di Asia Tenggara menghadirkan perempuan sebagai pembicara utama. Ketimpangan ini nyata. Namun, yang lebih penting dari sekadar siapa yang duduk di kursi pemateri adalah bagaimana forum itu membuka ruang partisipasi. 

Ironinya, bertahun-tahun kemudian tragedi muncul. Sosok perempuan yang paling keras menolak forum “didominasi laki-laki” itu, justru belakangan diduga melindungi anggota di organisasinya yang terjerat kasus pelecehan seksual. Tekanan publik memaksanya mundur dari jabatan. 

Ketaksadaran yang menyakitkan: simbol representasi ia bela mati-matian, tetapi keberpihakan yang seharusnya (ia sadari & diperjuangkan) pada korban ia khianati.

Di sinilah kita perlu jujur: identitas tidak identik dengan keberpihakan. Seorang laki-laki bisa bersuara lantang membela perempuan korban kekerasan, sementara seorang perempuan bisa terjebak membela pelaku. Bell hooks sudah mengingatkan: “Being a woman does not automatically make one a feminist.”

Representasi perempuan memang penting. Tetapi jika representasi hanya berhenti pada simbol, ia bisa luntur. Ia mudah buyar begitu diuji oleh kenyataan. Yang kita butuhkan adalah tujuan mendasar feminisme: keberanian untuk berpihak pada korban, konsisten dalam praktik, dan integritas di ruang publik maupun privat.

Karena pada akhirnya, forum advokasi perempuan bukan tentang siapa yang duduk di depan. Ia tentang siapa yang benar-benar berdiri bersama korban.***

Penulis : Rozi H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Ironi Solidaritas: Aktivis, Borjuis dan Kita

Kita sering memulai dari buku. Dari Marx yang bicara tentang kelas, dari Kropotkin yang mengidealkan solidaritas, dari Lenin yang menekankan disiplin partai, sampai Derrida yang mengajarkan dekonstruksi terhadap segala struktur mapan.  Di halaman-halaman itu, dunia tampak jelas: ada yang menindas, ada yang ditindas; ada solidaritas, ada pengkhianatan. Jika teori dijalankan, maka perubahan besar bisa lahir. Namun, begitu teori itu masuk ke dunia nyata, ia seperti mengalami gempa.  Siapa yang menyangka dari peristiwa sepele: Pengalaman pahit memang bila seonggok charger HP baru ditukar seenaknya dengan yang sudah usang.  Anehnya, orang-orang di sekitar malah membela si penukar—hanya karena ia teman dekat. Solidaritas yang katanya “setia kawan” ternyata hanya berlaku untuk melindungi kawan yang salah, bukan untuk menegakkan prinsip. Hal yang remeh padahal. Yang bikin sedih adalah, mereka adalah anggota serikat buruh-merah yang pasti hafal luar-dalam teori progresif. Di titik...