Langsung ke konten utama

Melampaui Ego yang Abstrak: Dari Freud sampai Dunia Buruh

Ego itu abstrak atau hal yang bisa dijelaskan oleh bentuk nyata? sebagai bagian dari pikiran isi kepala manusia, kita bisa memulai dari sini.

Sigmund Freud, bapak psikoanalisis dari Austria, pernah membagi kepribadian manusia dalam tiga lapisan: id (dorongan naluriah), ego (penengah realistis), dan superego (suara norma dan moral). Ego di sini menjadi “jembatan” antara dorongan, aturan sosial, dan kenyataan sehari-hari.

Tapi, apakah ego hanya ada di dalam kepala? Atau ia juga muncul dalam relasi sosial, politik, bahkan dunia kerja?

Ego Abstrak dan Penampakan

Kalau ego dipahami secara abstrak, maka ia berbeda dari satu orang ke orang lain, karena setiap pengalaman hidup dan pola pikir pasti unik. Namun kalau dilihat dari sisi penampakan, ego muncul dalam relasi sehari-hari.

Misalnya, ego seorang pekerja depan komputer tentu berbeda dengan ego pekerja alat berat. Bahkan ketika orang pura-pura sabar atau pura-pura marah sampai ketaksadaran mengambil uang kas perusahaan-dari hasil tender yang korup, ego tetap tampil dalam bentuk yang “dikondisikan.”

Pengalaman Buruh dan Atasan

Saya pernah belajar bersama kawan-kawan buruh tentang arti penting serikat: melindungi dan memperjuangkan hak. Saat itu ego saya lebih dekat dengan solidaritas dan perjuangan.

Namun, suatu hari saya berkesempatan menjadi supervisor. Di posisi ini, ego saya berubah. Saya menemukan ada buruh yang curang. Sebagai atasan, saya harus menegakkan disiplin. Tapi saya juga tahu: kecurangan sering punya alasan—misalnya gaji yang tidak dibayar penuh atau janji lembur yang diingkari.

Ego saya pun berlapis-lapis: sebagai pembelajar yang membela buruh, sebagai buruh yang pernah merasa ditindas, dan sebagai atasan yang harus menegakkan aturan. Dari sini saya melihat, ego tidak pernah tunggal; ia selalu berubah mengikuti posisi kita dalam relasi sosial.

Dialektika Ego

Dalam bahasa dialektika, ego bergerak seperti sejarah: penuh pertentangan dan perubahan. Buruh dan atasan sering ditempatkan sebagai oposisi. Tapi relasi itu bisa berubah—anggota buruh bisa naik menjadi pimpinan, dan atasan bisa jatuh menjadi bawahan atau bangkrut dan jadi kelas buruh yang baru.

Ego ikut bergerak bersama kontradiksi itu. Ia bukan sekadar “penengah” dalam diri, tapi juga hasil tarik-menarik antara kekuasaan, pengalaman, dan kondisi nyata.

Yang menarik adalah, bila kita dekonstruksi makna buruh-atasan-curang, makna ini bisa cair. Buruh bisa berperan sebagai penindas bagi sesamanya. Atasan bisa jadi pelindung. “Curang” bisa lahir dari ketidakadilan. Logika ego tidak pernah stabil. Ia selalu bisa bergeser, tergelincir, bahkan berbalik arah.

Penutup

Freud mengajarkan ego sebagai penengah batin. Dialektika menunjukkan ego selalu lahir dari pertentangan sosial. Dekonstruksi menyingkap bahwa ego tak pernah punya makna tunggal-selama dikonstitusikan oleh realitasnya.

Pertanyaan yang tersisa untuk kita: Ego kita berpihak ke mana? Apakah ia hadir untuk memperkuat solidaritas, atau justru melanggengkan penindasan?***


Penulis: Rozi H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Ironi Solidaritas: Aktivis, Borjuis dan Kita

Kita sering memulai dari buku. Dari Marx yang bicara tentang kelas, dari Kropotkin yang mengidealkan solidaritas, dari Lenin yang menekankan disiplin partai, sampai Derrida yang mengajarkan dekonstruksi terhadap segala struktur mapan.  Di halaman-halaman itu, dunia tampak jelas: ada yang menindas, ada yang ditindas; ada solidaritas, ada pengkhianatan. Jika teori dijalankan, maka perubahan besar bisa lahir. Namun, begitu teori itu masuk ke dunia nyata, ia seperti mengalami gempa.  Siapa yang menyangka dari peristiwa sepele: Pengalaman pahit memang bila seonggok charger HP baru ditukar seenaknya dengan yang sudah usang.  Anehnya, orang-orang di sekitar malah membela si penukar—hanya karena ia teman dekat. Solidaritas yang katanya “setia kawan” ternyata hanya berlaku untuk melindungi kawan yang salah, bukan untuk menegakkan prinsip. Hal yang remeh padahal. Yang bikin sedih adalah, mereka adalah anggota serikat buruh-merah yang pasti hafal luar-dalam teori progresif. Di titik...