Banyak orang menuduh Jacques Derrida dengan dekonstruksinya hanya membawa kita pada nihilisme. Katanya, dekonstruksi bikin semua makna jadi relatif, tak ada kebenaran, dan akhirnya hanya permainan kata-kata.
Tapi bagi saya, pengalaman membaca Derrida justru lain.
Saya mengenal Derrida pertama kali lewat situs Indoprogress. Berawal dari perdebatan sengit atas karya sebuah buku berjudul "Materialisme-Dialektis, sebuah pembelajaran pengantar Marxisme dan Filsafat Kontemporer."
Sang penulis, filsuf muda Martin Suryajaya, dihajar habis-habisan oleh filsuf muda lainnya, yaitu Muhammad Al Fayydl, yang juga pengampu tulisan-tulisan tentang teologi islam progresif.
Sebelumnya, saya sudah mengenal Marxisme sejak kuliah semester satu, lewat pendidikan politik di salah satu organisasi-yang kemudian hari saya baru ketahui organisasi ini merupakan bentukan baru dari beberapa aktifis kiri tahun 90an yang turut andil dalam perjalanan menumbangkan rezim orde baru.
Mengapa harus dekonstruksi setelah belajar Marxis? saya mesti berterima kasih terhadap Muhammad Al Fayydl atas buku nya yang membahas Derrida sebagai pengantar untuk kajian ilmiah di Indonesia.
Dari sanalah, pergulatan pikiran yang saya pelajari sebelum-sebelumnya mulai mencair di tangan "Dekonstruksi".
Dekonstruksi membantu saya membongkar kemapanan wacana, terutama dari orang-orang yang terlihat pintar tapi kosong dalam praktik. Ia mengajari saya bahwa setiap teks, teori, bahkan jargon revolusioner sekalipun, selalu menyembunyikan sisi lain yang tak terlihat.
Misalnya kita suka bingung, ada orang berbicara revolusi, tapi malas bangun pagi. Berbicara lantang tentang moralitas dalam agama islam tapi malas salat.
Ternyata selalu ada kontradiksi dalam mode yang dilihat sebagai kesempurnaan.
Seseorang yang maniak mempelajari teks-teks filsafat dan menguasai berbagai literatur soal konsep berfikir, secara alamiah pasti akan merasa superior menghadapi sesuatu yang butuh dianalisis.
Pertanyaannya adalah, apakah teks secara otomatis membantu memahami konteks? Ada anekdot yang muncul: Berbeda ketika kamu belajar marxis di perpustakaan kampus dengan belajar marxis di demonstrasi bersama buruh pabrik.
Anekdot tersebut kenyataannya bisa bergeser: demonstrasi bersama buruh yang elit serikatnya sudah deal politik dengan-orangnya Presiden atau membaca buku sejarah gerakan buruh di Indonesia saat menyiapkan materi untuk diskusi pergerakan buruh besoknya. Bagaimana mempelajari marxis di situasi keduanya?
Pengalaman bertemu buruh, petani, bahkan menjadi pengangguran setelah kuliah dan sekarang bekerja sebagai pekerja serabutan bagi saya memberi tamparan keras apa artinya berfikir kritis tanpa reflektif.
Dari situ saya sadar, makna hidup sehari-hari jauh lebih kaya daripada slogan.
Suatu hari ada senior saya yang percaya dengan kemampuan analisis yang saya punya dan merekrut saya sebagai asisten konsultan untuk kerja-kerja proyek politik elektoral. Sesuatu yang sangat alergi buat saya sewaktu masih berkuliah dulu. Apakah saya terima? Sayangnya saya memang butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pada akhirnya dekonstruksi membantu saya membaca ulang pengalaman itu, tanpa harus tunduk pada garis ideologi kehidupan. Jargon tak harus sesuai ideologi di kepala atau klaim kebenaran belum tentu final menurut lidah orang lain.
Dekonstruksi selalu dituduh kurang praktis. Kalau kita belajar tentang filsafat awal. Kita akan selalu disuguhi pertanyaan khas "mengapa oh mengapa"? padahal yang paling penting adalah mengubah dan mempraktekannya, begitu kata Marx.
Apakah ini nihilisme? Sebuah bentuk bacot tanpa praktik? Menurut saya tidak. Derrida sendiri bilang: “Deconstruction is not destruction.” Dekonstruksi bukan menghancurkan makna, tapi membuka ruang bagi makna lain yang tersembunyi.
Saya justru melihatnya bisa berjalan bersama dialektika ala Marx. Dialektika memberi arah praksis, sedangkan dekonstruksi memberi kewaspadaan kritis agar praksis tidak membatu jadi dogma.
Dan sebenarnya, setiap orang yang mencoba mengurai makna sedang melakukan percobaan dekonstruksi. Ketika buruh mengkritik aturan kerja yang timpang, buruh perempuan yang memberontak karena pelecehan oleh buruh laki-laki di pabrik atau petani menggugat kebijakan pupuk serta petani menjual sawah untuk biaya anak masuk sekolah polisi, itu juga dekonstruksi. Derrida sendiri menulis: “Deconstruction takes place; it is an event.”
Maka bagi saya, dekonstruksi bukan nihilisme. Ia adalah jalan praksis: cara membaca hidup yang lebih jujur, terbuka, dan tidak terjebak pada otoritas semu.
Yang paling penting, dekonstruksi pun juga bukan sebuah dogma. Sesuatu yang harus kita hindari dalam kehidupan sehari-hari.***
Penulis: Rozi H

Komentar
Posting Komentar