Jika kamu disuruh bos untuk menyelesaikan target bulanan hari ini padahal masih sisa 10 hari lagi, apakah itu mungkin? Oh tidak, gigi saya semakin ketombean memikirkannya.
Target itu seperti jerawat di jidat: muncul di saat yang salah, mengganggu kepercayaan diri, tapi entah kenapa dianggap wajar oleh orang-orang yang tidak pernah mengalaminya.
Sore ini saya duduk di warung mie ayam, mangkok mengepul di depan mata. Tapi kepala saya penuh angka target bulanan. Mungkin nggak ya target bos bisa selesai hari ini? Otak saya muter kayak kipas angin low watt: panas, berisik, tapi nggak banyak guna.
Tepat saat saya masih bengong-bengong bego, tiba-tiba suara dari meja sebelah menyambar realitas saya.
“Mah, kok ada batu kecil sih di mie ayam ini?” protes seorang bocah perempuan dengan muka polos, tapi dengan nada seperti sedang membuka pintu dunia lain.
Emaknya mendekat, panik, lalu berkata dengan suara setengah berbohong, “Itu bukan batu, Nak… itu bumbu yang keras.”
Saya hampir tersedak kuah. Saya jelas-jelas melihatnya batu. Ukurannya mini sih, tapi kalo ketelen, gawat juga lah. Jadi, pertanyaan besar saya tentang target bos langsung kalah telak sama batu random di mangkok anak kecil. Semesta seolah menjawab: “Bukan cuma targetmu yang mustahil, Bro. Nih, bahkan mie ayam pun bisa menyelipkan batu.”
Saya merenung. Apakah batu di mie ayam itu “gak mungkin”? Kalau menurut logika sehat, jelas orang nggak seharusnya makan batu. Tapi kenyataannya, si bocah sudah menemukan. Jadi, “gak mungkin” bukan jawaban.
Yang ada adalah “ketidakmungkinan”—ruang absurd yang justru bisa dibaca ulang.
Lamunan saya terbang ke atas langit. Membayangkan dunia kuliner masa depan: restoran China membuka menu Kerikil Lada Hitam, pelanggan kaya raya rela antre demi sup granit pedas ala Szechuan. Lama-lama, ngemut batu bukan lagi aib, tapi simbol status. “Lu belum pernah coba basalt caramel? Waduh, kampungan banget.”
Jangan-jangan memang sudah terjadi? apakah sebuah trend memberi isyarat FOMO?
Ternyata ketidakmungkinan tidak membunuh ide, justru melahirkan tafsir baru. Dan saya sadar: batu di mie ayam itu bukan sekadar kecelakaan dapur, melainkan undangan filosofis.
Pepe, Double Order, dan Filsafat Jalan Raya
Belum habis saya menertawakan batu sebagai inovasi kuliner, datanglah kawan yang sifatnya semena-mena. Pepe masuk dengan helm masih nempel, jaket ojol sudah mirip lumut basah, dan wajahnya penuh ekspresi: campuran lapar, lelah, dan sedikit bengong ileran di depan layar hape.
Dia segera duduk, pesan segelas air putih, lalu menatap layar ponselnya yang terus bergetar. “Astagfirullah, kena dobel order,” gumamnya. “Satu mie ayam di sini, satu lagi kebab di ujung jalan. Customer kebab udah maksa minta cepet. Padahal kebabnya antri lama, dan rumahnya paling jauh.” Aduh gue mesti gimana yeh. Kata-kata yang sudah saya bilang semena-mena dari tadi.
Saya, yang baru saja hampir gigitin mangkok, langsung merasa diundang jadi dosen darurat.
Saya: “Widih gacor lau, dobel order nih.
Pepe: “Iya, ler." Satu mie ayam, satu kebab. Mana yang mesen kebab ribet banget lagi. Udah tahu orderan dia paling terakhir, kenapa minta paling cepet dianterin. Hadeh.
Saya: “Kalau tunggu mie ayam, kebab dingin?”
Pepe: “Bener banget.”
Saya: “Nah, itulah ketidakmungkinan.”
Pepe menatap saya, jelas menimbang apakah saya waras barangkali?
Saya melanjutkan dengan gaya presentasi sales yang sudah kebal penolakan: “Lo jangan baca ini sebagai masalah logistik. Baca sebagai narasi coy Kalau kebab sampai dingin, branding aja: Frozen Kebab Experience. Kalau mie ayam jadi lembek, bilang ke customer itu edisi nostalgia: mie kenyal masa kecil—sekarang sudah dewasa.”Huehehe.
Pepe: “pea lau. Customer bisa kasih bintang satu.”
Saya: “Justru itu seni dekonstruksi, coy. Lo bukan gagal, lo pionir. Bintang satu bisa jadi tren, orang berebut kasih review jelek demi gaya edgy. Order telat bisa jadi simbol perlawanan terhadap diktator waktu.”wkwkw saya tertawa setan.
Pepe garuk kepala.
Saya lanjut, menunjuk mangkok saya yang hampir kosong. “Tadi ada anak kecil nemu batu di mie ayam. Itu tanda dunia selalu ngasih ketidakmungkinan. Batu bisa jadi kuliner. Telat bisa jadi tren. Intinya, yang mustahil bukan buat diselesaikan, tapi dibaca ulang.”
Pepe terdiam lama. Saya bisa lihat matanya seolah berkata, “antara tercerahkan atau makin stres.”
Saya meneguk sisa kuah mie ayam, lalu menutup kuliah filsafat dadakan saya: “Logika formal bilang mustahil menyelesaikan dua order cepat sekaligus. Tapi seni membaca ketidakmungkinan bilang: di balik mustahil, selalu ada tafsir baru. Lo tinggal pilih: mau jadi korban bintang satu, atau pelopor frozen kebab.”
Pepe akhirnya tersenyum miring. “Elah coy kalau gitu mending lau aja yang anterin nih”, mendadak mager si Pepe.
Pepe pun akhirnya menunggu pesanan mie ayam dengan gundah. Dia sebenarnya berharap dapat trik licin dari saya. Hehe, saya hanya memberinya ide sedikit.
Di tengah absurditas itu, saya sadar ada ruang untuk akal-akalan. Saya balik ke Pepe, yang wajahnya udah kayak orang lagi baca ayat kursi sambil lihat notifikasi.
Saya bilang:
“Pep, banyak cara coy buat ngakalin dobel order. Emangnya gue gak pernah jadi ojol? Hehe. Nih, trik sales level jalanan: lo kasih ke customer seolah-olah dia dilayanin duluan. Chat aja pakai kalimat dramatis: ‘Halo Kak, orderan Kakak sudah di-pick up, saya lagi otw’. Padahal mah, lo masih di resto sebelah. Biar dia merasa eksklusif, padahal waktunya tetap sama.”
Pepe bengong, lalu ngakak. “Ler, itu manipulasi psikologis namanya!”
Saya angkat bahu. “Ya emang. Sales, ojol, politisi—semua pakai trik yang sama: bikin orang percaya dia prioritas, padahal semua diperlakukan sama. Ini bukan tipu-tipu, ini seni membaca ketidakmungkinan.”
Ada lagi kemungkinan lain, lo setelah bawa orderan mie ayam sama kebab, lo anter kebab duluan. Berarti jalannya muter yak. Aplikasi jangan lo pencet "antar pesanan", biar gak terdeteksi sistem. Asal lo jujur beneran anterin tuh kebab. Yah tapi resiko mie ayam tetap melar,
Atau kemungkinan lain, lo jujur dari awal, screenshot dapat dobel order. Biar dapat win-win solusi dari costumer kebab.
Dia nyeruput air putih, jelas mulai kepikiran buat nyoba. Saya lanjut:
“Intinya, Pep, dunia ini nggak bisa dipuaskan. Yang bisa lo kelola cuma narasi. Sama kayak target bos gue—mustahil selesai hari ini, tapi kalau gue bikin presentasi manis, seolah-olah progresnya udah 80%, bos langsung luluh. Padahal realitanya, progres baru 20%. Yang penting kan ilusi kemajuan.” Asal dikerjain beneran juga, hehe.
Pepe mengangguk, lalu nyeletuk: “Wah, lo kalau nggak jadi sales, cocok juga jadi dosen filsafat atau caleg.”
Saya ketawa: “Ah, kalau caleg nanti gue malah dobel order lebih parah: janji palsu ke rakyat + janji palsu ke sponsor. Bisa mampus gue.” Hahaha.
Kami berdua tertawa, di tengah hiruk pikuk motor dan asap kuah mie ayam yang masih nyangkut di baju.
Dan saat saya cabut, saya sadar: seni membaca ketidakmungkinan itu bukan tentang menyelesaikan masalah dengan jujur, tapi kadang justru dengan tipu-tipu kreatif. Karena di dunia yang absurd ini, kejujuran perumpamaan seperri batu di mie ayam—tidak diharapkan, tapi tetap ada.
Singkatnya: ketidakmungkinan itu justru membuat kita menemukan sejuta kemungkinan yang baru. Akan ada pembacaan situasi tanpa henti.
Seperti kapal titanic yang megah, ketidakmungkinan semegah itu bisa tenggelam. Dan nyata nya, benar-benar bisa tenggelam.
Saya pun menarik napas panjang, menyalakan motor, dan berbisik ke diri sendiri: “Sudahlah, Iroz. Dunia ini memang absurd. Tapi kalau bisa diketawain, kenapa harus dibikin serius?”***
Penulis : Rozi H

Komentar
Posting Komentar