Ketika idealisme berubah jadi kompromi, dan racun kecil itu bikin gerakan organisasi mengalami asam urat.
Apa itu Hipokrisi?
Sebelum jauh-jauh, mari kita sepakati dulu. Hipokrisi (atau bahasa sehari-hari: munafik) adalah sikap ketika ucapan dan tindakan tidak sejalan. Seseorang bisa mengaku memperjuangkan nilai tertentu, tapi perilakunya justru bertolak belakang.
Dalam dunia aktivis, hipokrisi sering muncul dalam bentuk: mengaku independen tapi bergantung pada donor, menolak politik tapi diam-diam bernegosiasi dengan partai, atau mengkritik LSM tapi tetap rajin mengajukan proposal.
Tentu, ini tidak berlaku untuk semua aktivis. Banyak juga kok yang lurus dan konsisten. Tapi sayangnya, yang segelintir hipokrit ini justru paling sering tampil menonjol, sehingga kesannya mereka mewakili wajah gerakan.
Menjauhi Politik, Menjauhi Realitas
Pasca-reformasi, banyak aktivis menjauh dari politik formal. Katanya biar tetap bersih, biar nggak terkontaminasi. Tapi menjauh itu artinya membiarkan panggung kosong, dan panggung itu langsung diisi oleh elit lama dengan kostum baru. Demokrasi yang dulu diperjuangkan mati-matian, kini malah semakin buyar harapannya.
Makanya jangan heran sering para orang tua bilang: Aduh enakan jaman Pak Soeharto.
Satir Kecil: Kritik Oligarki, Tapi Siap-Siap Nego
Ambil contoh diri saya sendiri biar nggak terkesan menggurui. Saya sering nulis kritik oligarki, cerewet soal bahaya dominasi modal. Tapi siapa bisa jamin kalau besok ada oligark nawarin proyek kerjaan, saya nggak tergoda? Jangan-jangan saya malah bilang: “Ya udah deh, toh cuma proyek kecil, nggak masalah kan?”
Nah, di titik itu, saya juga ikut masuk klub hipokrisi. Bedanya, mungkin belum ketahuan aja. Wkwk.
Dekonstruksi: Membongkar Kontradiksi
Kalau pakai dekonstruksi, hipokrisi itu adalah kontradiksi yang disembunyikan. Aktivis bisa mengklaim dirinya paling “murni,” tapi justru di balik layar tergantung penuh pada struktur yang ia kritik. Klaim independen menyimpan jejak ketergantungan, klaim perlawanan menyimpan bayangan kompromi.
Hegemoni: Aktivis Sebagai Aparatus Kuasa
Gramsci menyebut hegemoni sebagai kuasa yang bekerja halus, membuat orang patuh bukan karena dipaksa, tapi karena merasa itu pilihan sendiri. Hipokrisi aktivis justru ikut mereproduksi hegemoni itu. Basis percaya sedang melawan, padahal diarahkan masuk ke orbit elite yang sama. Aktivis di atas kompromi dengan partai, sementara aktivis di bawah sibuk menginstruksikan “perlawanan.”
Psikoanalisis: Trauma yang Jadi Larangan Baru
Dalam kacamata psikoanalisis, hipokrisi adalah trauma lama yang kembali. Generasi 98 dulu sering dilarang—dilarang bicara, dilarang berkumpul. Setelah beberapa tahun, sebagian justru gemar melarang orang lain. Melarang aktivis muda ini-itu, marah bila tidak menurut kemauannya, dll. Trauma berubah jadi kebiasaan. Adagium sinis pun lahir: “dilarang-melarang.”
Hipokrisi, dengan kata lain, adalah cara ego menutupi konflik batin: idealisme masih di mulut, tapi kebutuhan praktis mendorong langkah berbeda. Racunnya: kita mulai percaya kontradiksi itu normal.
Kalau Hipokrisi Itu Racun, Apa Obatnya?
Kadang hipokrisi lahir bukan semata-mata karena keserakahan pribadi, tapi karena adanya dilema antara idealisme dan realitas. Supaya lebih gampang, mari pinjam cerita dari film Doctor Strange.
Di sana, Ancient One—guru para penyihir—mengajarkan murid-muridnya untuk tidak menyentuh kekuatan gelap dari Dormammu. Namun ternyata, diam-diam ia sendiri memakai kekuatan itu. Murid-murid lain menilainya sebagai hipokrit: melarang orang lain, tapi dirinya melanggar. Namun, Doctor Strange kemudian sadar: Ancient One tidak melakukan itu untuk kepentingan pribadinya semata, melainkan demi menjaga keseimbangan kosmos yang lebih besar.
Artinya, hipokrisi kadang muncul sebagai strategi bertahan. Ia bisa jadi semacam kompromi kecil untuk mencegah keruntuhan yang lebih besar. Dalam dunia nyata, kita juga bisa menemukan contoh serupa:
Negosiator buruh yang menerima sebagian tuntutan upah, bukan karena menyerah, tapi agar pekerja tetap bisa bekerja dan perusahaan tidak bangkrut.
Aktivis lingkungan yang kadang bekerja sama dengan perusahaan “nakal,” bukan karena setuju dengan praktik mereka, tapi agar punya ruang untuk mendorong perubahan bertahap dari dalam.
Tentu, ini bukan pembenaran total. Tapi ia menunjukkan bahwa hipokrisi tidak selalu hitam-putih. Kadang ada motif melindungi ide atau kepentingan yang lebih besar. Masalahnya, garis tipis antara kompromi strategis dan pengkhianatan sering kabur—dan di titik itulah racun hipokrisi bisa menyebar.
Obatnya mungkin bukan menghilangkan hipokrisi total—karena manusia selalu penuh kontradiksi. Tapi dosisnya bisa dibatasi. Caranya:
1. Refleksi jujur – akui bahwa kita semua rentan.
2. Kembali ke basis material – perjuangan bukan hanya wacana demokrasi, tapi soal tanah, upah, pendidikan, kesehatan.
3. Bangun komunitas sehat – biar ada yang saling mengingatkan ketika mulai tergelincir.
Penutup: Racun Kecil, Obat atau Bencana?
Hipokrisi mungkin tak bisa hilang total. Dalam dosis kecil, ia bisa jadi pengingat bahwa kita manusia biasa, penuh kompromi. Tapi jika dibiarkan menumpuk, ia jadi racun yang membuat gerakan mati pelan-pelan.
Maka yang perlu kita lakukan adalah tertawa dulu di depan cermin, lalu mulai meracik obatnya bersama-sama.***
Penulis : Rozi H.

Komentar
Posting Komentar