Obrolan biasanya dimulai dari rokok yang masih banyak dan gelas kopi yang tinggal setengah...
Pepe sedang sibuk meniup gelas kopi hitamnya yang masih panas. Sementara itu, Iroz duduk di seberang, mengunyah gorengan yang bahkan sudah dingin sejak subuh tadi. Seperti biasa, topik mereka tak pernah ringan. Orang lain mungkin membahas skor bola atau utang warung, tapi Pepe dan Iroz lebih suka menabrak pikiran: filsafat, politik, sampai gosip tentang pemimpin yang katanya sakti.
“Roz,” kata Pepe sambil melinting rokok, “aneh ya, ada pemimpin yang kharismanya gede banget, massa loyal mati-matian, tapi nggak bisa dikritik. Orang luar bilang dia keras kepala, hedon, bahkan istrinya lebih dari satu. Tapi bagi pengikutnya, dia tetap bagai nabi kecil—gak pernah salah, gak pernah gagal.”
Iroz mendengus, “Itu kan klasik, Pep. Manusia cari figur buat dituhankan. Kayak kucing kalau dikasih makan, pasti balik lagi ke rumah kita. Bedanya, manusia lebih ribet, sambil bawa bendera dan orasi.”
Pepe nyengir. “Eh tapi menarik lho kalau kita ajak filsuf-filsuf besar bahas kasus ini. Bayangin Nietzsche nongol, Derrida ikut nimbrung, Marx gak ketinggalan.”
Iroz langsung menyambar, “Kalau Nietzsche sih pasti bilang itu pemimpin kayak übermensch setengah jadi—tapi kelewat narsis. Derrida? Pasti dekontruksiin semua simbol pidatonya. Marx? Ah, dia bakal gebrak meja sambil bilang, ‘itu semua cuma kamuflase kelas berkuasa!’”
Nietzsche dan Bayangan Sang Pemimpin
Nietzsche, tiba-tiba nongol dengan kumis tebalnya. Ia menatap langit-langit warung seolah ada dewa yang bergelayut di sana. “Lihatlah manusia itu,” katanya dengan suara berat. “Dia dikelilingi massa yang butuh makna. Pemimpin macam itu dipuja bukan karena dia sempurna, tapi karena manusia takut hidup tanpa arah. Mereka rela tunduk, bahkan menutup mata pada cacatnya.”
Pepe melotot pura-pura serius. “Wih, Roz, berarti pemimpin kayak gitu itu obat mujarab buat orang-orang yang gak bisa hidup sendiri ya? Nietzsche lagi ngegas nih.”
Iroz ngakak. “Obat atau candu, Pep. Nietzsche kan paling doyan ngeledek moral-moral massal. Baginya, pemimpin yang dikultuskan itu contoh gimana kehendak berkuasa berubah jadi tontonan. Si pemimpin percaya dia übermensch, padahal bisa jadi cuma aktor yang jago main retorika.”
Pepe menimpali, “Jadi kayak penjual obat kuat di pasar malam dong. Pidatonya meyakinkan, isi botolnya entah apa.”
Iroz manggut-manggut. “Ya, bedanya, kalau botol kosong, paling penonton kecewa. Kalau pemimpin kosong, satu negara bisa babak belur.”
Derrida Mengacak-acak Kata-kata
Lalu datanglah Derrida. Ia tak membawa kumis seperti Nietzsche, tapi membawa sekantong kata yang siap dibongkar. Ia menatap pemimpin itu bukan dari auranya, tapi dari retorika yang dipakai. “Kalian dengar?” katanya sambil menirukan pidato. “‘Demi rakyat, demi bangsa, demi keadilan.’ Tapi kata ‘rakyat’ siapa? Bangsa yang mana? Keadilan versi siapa?”
Pepe nyengir licik. “Nah lho, Derrida emang suka bikin orang bingung. Kata-kata jadi nggak pernah jelas.”
Iroz ikut menyambar, “Itu dia esensi dekonstruksi, Pep. Dia bukan cuma bilang kata-kata bisa menipu, tapi juga bahwa makna nggak pernah final. Jadi waktu pemimpin bilang ‘demi rakyat’, sebenarnya itu kayak amplop kosong—bisa diisi apa aja, tergantung siapa yang pegang.”
Pepe ketawa terbahak. “Berarti kayak nasi bungkus warung sebelah ya, Roz. Kertasnya gede, isinya kadang cuma sejumput.”
Derrida seakan mengangguk. “Betul sekali, Pepe. Jangan pernah percaya bahwa kata-kata sudah selesai. Justru karena tak selesai, pemimpin bisa seenaknya main di situ. Simbol jadi senjata, dan rakyat kadang ikut menutup mata karena terlalu cinta.”
Marx Turun Tangan
Tiba-tiba, Marx masuk dengan langkah berat, seakan baru turun dari demonstrasi buruh. Ia tidak sabar mendengar obrolan estetis Nietzsche dan Derrida. “Kalian terlalu pusing dengan kata dan kharisma,” katanya. “Masalahnya sederhana: siapa yang punya alat produksi? Pemimpin itu besar bukan karena semata charisma atau retorika, tapi karena dia menopang dan ditopang oleh struktur ekonomi-politik. Tanpa itu, dia hanyalah orator di pinggir jalan.”
Pepe melotot, “Lho, jadi charisma itu cuma aksesoris ya?”
Marx menatap tajam. “Charisma hanyalah topeng. Selama pemimpin itu menjaga kepentingan kelas yang berkuasa—entah pengusaha, militer, atau birokrasi—maka massa akan diarahkan untuk percaya. Bahkan kalau istrinya tiga, empat atau lima kalau dia hobinya foya-foya, selama kelas dominan senang, dia akan bertahan.”
Iroz menepuk meja. “Jleb! Nah ini yang nggak pernah disentuh Nietzsche dan Derrida. Mereka bahas individu atau bahasa, tapi lupa struktur kelas yang membentuk semua itu.”
Pepe terkekeh, “Berarti kalau pemimpin punya villa megah, mobil banyak, itu bukan sekadar hedon, tapi ekspresi kelasnya ya?”
Marx menatapnya dingin. “Persis. Hedonisme adalah estetika kelas dominan. Dan rakyat yang loyal itu bukan bodoh, tapi karena sudah terjebak dalam relasi material yang menundukkan mereka.”
Ketika Marx Dikritik Balik
Nietzsche menepuk bahu Marx. “Kawan, kau terlalu kaku. Hidup tidak sesederhana ekonomi. Ada kehendak berkuasa yang tak bisa direduksi jadi alat produksi. Pemimpin dengan charisma besar mungkin lahir justru dari semangat menolak sistem lama. Kalau semua dikurung di ‘kelas’, kita lupa bahwa manusia juga haus makna, haus simbol.”
Derrida ikut menyela, “Dan jangan lupa, Marx, bahasamu pun penuh tanda yang tak stabil. Kau bicara ‘kelas’, ‘proletar’, ‘borjuis’, seolah-olah makna mereka final. Padahal, bukankah istilah itu juga bisa bergeser?”
Marx menatap dua lawannya dengan wajah kesal. “Ah, kalian ini filsuf borjuis. Terlalu sibuk dengan kata dan simbol, lupa penderitaan nyata buruh di pabrik.”
Pepe berbisik ke Iroz, “Waduh, jadi makin panas. Kayak debat di medsos, cuma bedanya ini bintang tamunya filsuf semua.”
Iroz menahan tawa. “Ya beginilah, Pep. Filsafat itu kayak nasi padang. Ada yang bilang inti utamanya rendang, ada yang bilang justru gulainya. Semua benar, semua ngotot.”
Dari Pemimpin ke Pemimpin Dunia Nyata
Obrolan di warkop itu merembet. Mereka mulai menyebut nama-nama pemimpin yang belajar dari Marxisme tapi ujung-ujungnya otoritarian. Lenin di Uni Soviet, Mao di Tiongkok, Kim Jong Un di Korea Utara, bahkan Soekarno yang mengaku baca Marx tapi tetap mainkan charisma pribadinya.
Nietzsche menggeleng. “Lihatlah, mereka menjadikan ‘revolusi’ sebagai moral baru, tapi jatuh ke dogma. Mereka membunuh roh bebas.”
Derrida menambahkan, “Dan bahasa ‘demi rakyat’ atau ‘demi revolusi’ jadi mantra yang tak bisa digugat. Kata-kata itu tak pernah selesai, tapi diperlakukan seperti kitab suci.”
Marx terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Mungkin benar, banyak yang memakai namaku hanya sebagai legitimasi. Tapi ingat, itu bukan kesalahan teori, melainkan tafsir mereka yang keliru. Dialektika sejarah tetap bergerak, bahkan melawan tirani yang mengatasnamakan Marx.”
Pepe menimpali, “Berarti Marx itu kayak bapak yang anak-anaknya nakal semua ya? Satu jadi diktator, satu jadi penyair gagal, satu lagi buka usaha karaoke.”
Iroz ngakak sampai batuk. “Analogi ngawur, tapi ada benernya juga, Pep.
Kopi yang Mendingin, Ide yang Memanas
Jam terus berjalan, kopi mulai dingin, gorengan makin keras. Tapi perdebatan seolah tak ada ujungnya. Nietzsche terus bicara soal keberanian individu melawan moral massa. Derrida sibuk membongkar pidato politik jadi serpihan makna yang tak stabil. Marx tetap teguh bahwa kunci ada pada struktur ekonomi dan relasi kelas.
Pepe dan Iroz, meski cuma dua pengunjung warkop biasa, merasa seperti sedang jadi moderator debat filsafat terbesar abad ini. Kadang mereka bingung, kadang mereka ngakak, tapi satu hal jelas: topik soal pemimpin yang kharismatik namun anti kritik ternyata bisa membuka kotak pandora filsafat.
Pepe akhirnya bersandar, matanya setengah terpejam. “Roz, kayaknya semua filsuf ini benar di caranya masing-masing. Tapi rakyat tetap butuh nasi, bukan kutipan filsafat.”
Iroz mengangguk. “Ya, filsafat boleh bikin kita mikir. Tapi gorengan di meja ini yang bikin kita tetap hidup.”
---------------------------------
Suasana hening. Pepe tiba-tiba terkulai, kepalanya nyender di meja, ngorok halus. Ternyata sejak tadi ia ketiduran. Semua sosok Nietzsche, Derrida, dan Marx hanyalah parade mimpi yang tercipta dari kepalanya yang terlalu sering baca buku bekas sambil ngopi.
Iroz menatapnya heran. “Astaga, pantesan dia diam aja belakangan,” gumamnya. Ia lalu termenung. Bukan karena filsafat, tapi karena satu hal penting: ia baru sadar dompetnya ketinggalan di rumah. Gorengan yang tadi sudah setengah habis belum ada yang bayar.
Lamunan Iroz lebih filosofis daripada debat siapa pun: bagaimana caranya kabur dari warung tanpa malu? Apakah mungkin ia mengajukan dialektika kredit ke ibu warung? Atau harus bilang, “bu, demi rakyat, demi bangsa, izinkan saya hutang gorengan?”
Sementara itu, Pepe masih tenggelam di mimpinya, tertawa sendiri sambil bergumam, “Hidup adalah kehendak berkuasa… tapi utang gorengan juga tak bisa didustakan…”
Iroz mendesah panjang. “Dasar, Pep. Filsuf gadungan. Gue aja yang pusing mikirin bayar gorengan."
Catatan Istilah Biar Gak Bingung.**
Übermensch: konsep Nietzsche tentang manusia unggul yang berani melampaui moral lama.
Dekonstruksi: metode Derrida untuk membongkar makna teks yang tidak pernah final.
Dialektika: cara berpikir dengan melihat pertentangan dan perubahannya.
Hedonisme: gaya hidup mengejar kesenangan.
Alat Produksi: sarana untuk menghasilkan barang (tanah, pabrik, mesin).
Kelas Dominan: kelompok sosial yang berkuasa secara ekonomi dan politik.
Retorika: seni berbicara meyakinkan orang lain.
Simbol: tanda atau lambang yang membawa makna tertentu.
Revolusi: perubahan besar dan cepat dalam masyarakat atau politik.
Candu: metafora untuk sesuatu yang bikin orang ketergantungan.***
Penulis : Rozi H

Komentar
Posting Komentar