Langsung ke konten utama

Kita Semua Serakahnomics

Musuh dalam selimut dalam kehidupan etika-moral ekonomi adalah serakah. Sayangnya, sebagai kata sifat, serakah tidak selalu berkaitan langsung dengan perilaku ekonomi.

Seorang alim kaya raya yang dikenal dermawan, rajin nyumbang masjid, tiba-tiba tertangkap kasus korupsi. Seorang zalim yang dompetnya hobi tawuran, sering merampok orang lain, dikasih uang malah minta motor. Loh, yang alim saja bisa khilaf, apalagi yang zalim!


“Serakahnomics” sendiri lahir bukan dari buku teori ekonomi, bukan dari laboratorium akademik. Dia muncul dari podium politik. Pada 20 Juli 2025, istilah ini pertama kali meluncur dari Presiden Prabowo saat menutup Kongres PSI di Solo. Besoknya, 21 Juli, istilah ini kembali dipoles saat peresmian Koperasi Merah Putih. Seperti jargon baru dari kamus negara: musuh rakyat bukan lagi “kapitalisme”, bukan lagi “imperialisme”, melainkan serakahnomics—ekonomi rakus yang katanya menghisap darah petani. Darah rakyat banyak.

Lucunya, istilah ini terdengar seperti nama cabang ilmu ekonomi terbaru. Seakan setelah makroekonomi dan mikroekonomi, kita sekarang punya mata kuliah baru: Serakahnomics 101. Dosen tamunya? Koruptor yang lagi sidang di pengadilan tipikor. Fakultasnya? Mungkin Fakultas Serakahnomics dan Ilmu Manipulasi Publik—jurusan favorit para pejabat.

Tapi mari kita pecahkan bingkainya. Keserakahan bukan sekadar watak pedagang nakal di pasar beras, atau anggota dewan yang minta tunjangan berlebih saat gaji sudah selangit. Serakah adalah logika itu sendiri: sistem ekonomi yang selalu haus akumulasi. Sejak lama, kapitalisme lahir dari rahim serakahnomics, dan negara bukan korban murni, melainkan bidan yang membantu kelahirannya.

Maka, ketika presiden berkata “kita lawan serakahnomics,” ada drama komedi di sana. Apakah presiden sadar di lingkungannya sendiri banyak pejabat yang diduga serakah, sampai tanpa sengaja ia menuding cermin? Negara sedang menuding bayangan sendiri. Seperti orang gemuk yang ngos-ngosan berteriak, “awas kolesterol!”, sambil menelan sate kambing 30 tusuk—kebanyakan kecap. Atau seperti pemadam kebakaran yang menyiram bensin sambil teriak “api!”.

Bahaya serakahnomics bukan hanya kartel padi atau mafia distribusi. Bahaya yang lebih licik adalah ketika istilah ini berubah jadi pencuci tangan politik. Negara tampil suci, rakyat digiring bersorak, sementara oligarki tetap duduk manis di kursi empuknya.

Pantulan cermin kekuasaan itu juga ada di kehidupan kita sehari-hari. Gue punya iPhone, meski second, lu cuma punya HP Esia Hidayah tombolnya doll. Lu naik mobil matic nyicil, gue naik motor-motoran topeng monyet tapi cash. Sama-sama pamer, sama-sama gengsi, sama-sama serakah dengan ukuran masing-masing.

Kita semua, tanpa sadar, sudah menjadi bagian dari serakahnomics. Bukan hanya pejabat, bukan hanya pengusaha rakus, tapi juga kita yang masih sibuk adu gaya. Pantulan sistem kapitalis ternyata sudah menyamai kecepatan cahaya yang menembus cermin relasi kekuasaan berbentuk budaya.

Jadi, kalau benar serakahnomics adalah musuh rakyat, mari kita bertanya: siapa yang pertama kali memberi makan monster itu? Jangan-jangan, jawabannya ada di istana. Atau lebih menakutkan lagi: jangan-jangan, jawabannya ada di dompet kita sendiri.***

Penulis: Rozi H.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...