Langsung ke konten utama

Dekonstruksi Jaket Ojol: Melampaui Resleting Yang Sering Macet

Beberapa hari lalu, publik dihebohkan oleh kabar sekelompok orang dengan jaket hijau dan kuning-minus oren datang ke Istana menemui Mas Wapres Gibran. Mereka mengaku mewakili ojol. 

Netizen spontan geram: “Ojol yang mana? Yang tiap hari dihantam penalti aplikasi? Yang kehilangan kawan gara-gara polisi kemarin? Atau yang dompetnya bolong karena insentif dikurangi?”

Pertanyaan itu menggugah dilema lama: siapa sebenarnya ojol? Manusia di balik motor, atau sekadar warna jaket yang bisa dipakai siapa saja?

Sejarah Panjang, Resleting Yang Terbuka

Sejak 2014, ojek online tumbuh pesat. Awalnya tren, lalu jadi sandaran hidup jutaan orang. Tak terhitung demonstrasi terjadi: di kantor aplikator, kementerian, hingga DPR. Namun polanya selalu sama: ramai di jalan, tapi hasilnya? Kepentingan Ojol rentan ditunggangi.

Kekecewaan membuat sebagian driver pesimis. “Ngapain demo? Ujung-ujungnya aplikator tetap untung.” Ketidakpercayaan ini masuk akal, sebab posisi ojol di sistem kerja digital memang serba tanggung: disebut mitra, tapi dikendalikan algoritma layaknya karyawan tanpa hak.

Skala industri ojol bukan main. Menurut data dari pemerintah, ada lebih dari 7 juta pekerja transportasi daring di Indonesia. BPJS Ketenagakerjaan mencatat hanya 250 ribu yang terlindungi jaminan sosial; sisanya benar-benar telanjang tanpa perlindungan.

Pendapatan mereka pun menurun. Sebelum pandemi, rata-rata harian bisa Rp300 ribu. Saat pandemi anjlok ke Rp100 ribu, dan kini hanya pulih ke Rp174 ribu per hari. Itu pun dengan kerja rata-rata 11 jam, 42 km tempuh, 10 order per hari.

Survei Fairwork Indonesia 2024–2025 lebih menohok: mayoritas driver bekerja lebih dari 40 jam seminggu, sebagian bahkan 60–70 jam. Sebagian besar tidak memiliki asuransi kesehatan maupun kecelakaan. Skor keadilan platform di Indonesia rendah—rata-rata hanya 2–4 dari 10. Artinya, di balik jargon “mitra”, hubungan kerja ini hanyalah ilusi.

Jaket sebagai Identitas dan Jebakan Resleting Macet

Dalam keseharian, jaket ojol adalah identitas kolektif. Tanpa itu, seorang driver hanyalah pengendara motor biasa. Tapi justru di situlah jebakannya: identitas dibatasi oleh seragam.

Demo pun sering berhenti pada isu spesifik tarif, insentif, dan penalti. Padahal masalah yang dihadapi ojol tidak berbeda jauh dengan buruh pabrik, guru honorer, petani, atau pedagang kecil: sama-sama berjuang demi upah layak dan perlindungan kerja.

Sayangnya, jarang ada solidaritas lintas sektor. Pertanyaannya: apakah driver ojol mau berdiri bersama buruh dan guru honorer? Atau masih merasa bahwa perjuangan “bukan urusan kami”?

Pertarungan Sesama Ojol: Pakai Jaket atau Enggak!

Ketegangan internal juga nyata. Yang demo menuding yang tidak ikut sebagai “tidak solid”. Yang tidak demo balik curiga: “Demo ini siapa yang atur? Jangan-jangan kita cuma alat bargaining elit.”

Pertengkaran horizontal ini hanya menguntungkan aplikator. Ketika massa terpecah, algoritma tetap berkuasa.

Demo terakhir di DPR sebenarnya punya potensi melampaui isu ojol. Ia bisa menjadi pintu masuk ke problem rakyat yang lebih luas: jaminan sosial, perlindungan pekerja platform, dan relasi kerja yang adil. Namun lagi-lagi, narasi terkunci di simbol warna jaket.

Padahal penderitaan ojol hanyalah versi mini dari penderitaan rakyat Indonesia secara umum.

Melampaui Resleting Jaket

Di sinilah paradoks besar muncul. Jaket ojol bisa dipakai siapa saja: driver sungguhan, intel, rampok, bahkan “perwakilan” yang tiba-tiba nongol di Istana.

Artinya, simbol ini rapuh. Ia hanya punya makna politik kalau digunakan untuk membangun solidaritas lintas kelas. Kalau tidak, ia akan tetap jadi kostum kosong, mudah dipakai siapa saja untuk kepentingan sesaat.

Ke depan, rakyat dari berbagai sektor—buruh, guru, kantoran, petani, pegawai swasta atau freelancer dan pedagang kecil—akan semakin sadar bahwa nasib mereka terhubung. Ojol akan dikenang bukan karena jaketnya, melainkan karena berani berdiri bersama rakyat lain.

Itulah momen ketika jaket ojol benar-benar melampaui fungsinya: bukan hanya seragam kerja, tapi simbol solidaritas kelas bawah.

Singkatnya, jaket ojol memang bisa dipakai siapa saja—pejuang, oportunis, kriminal, atau tukang foto bersama pejabat yang suka laporan bagus-bagus aja ke Presiden.

Ojol sejati hanya bisa lahir kalau ada kesadaran politik: bahwa perjuangan mereka bukan sekadar tarif, melainkan soal martabat kerja dan solidaritas lintas kelas.

Kalau tidak, kita hanya akan terus menyaksikan drama lama: jaket ojol dipakai di panggung, tapi nasib  dan Ojol akan selalu gundah manakala resleting jaketnya tetap macet di jalanan.***

Penulis: Rozi H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...