Langsung ke konten utama

Ironi Solidaritas: Aktivis, Borjuis dan Kita

Kita sering memulai dari buku. Dari Marx yang bicara tentang kelas, dari Kropotkin yang mengidealkan solidaritas, dari Lenin yang menekankan disiplin partai, sampai Derrida yang mengajarkan dekonstruksi terhadap segala struktur mapan. 

Di halaman-halaman itu, dunia tampak jelas: ada yang menindas, ada yang ditindas; ada solidaritas, ada pengkhianatan. Jika teori dijalankan, maka perubahan besar bisa lahir.

Namun, begitu teori itu masuk ke dunia nyata, ia seperti mengalami gempa. 

Siapa yang menyangka dari peristiwa sepele: Pengalaman pahit memang bila seonggok charger HP baru ditukar seenaknya dengan yang sudah usang. 

Anehnya, orang-orang di sekitar malah membela si penukar—hanya karena ia teman dekat. Solidaritas yang katanya “setia kawan” ternyata hanya berlaku untuk melindungi kawan yang salah, bukan untuk menegakkan prinsip. Hal yang remeh padahal.

Yang bikin sedih adalah, mereka adalah anggota serikat buruh-merah yang pasti hafal luar-dalam teori progresif.

Di titik itu, aku sadar Kropotkin mungkin terlalu optimistis. “Mutual aid” atau tolong-menolong memang indah di atas kertas, tapi dalam praktik, solidaritas sering berubah jadi solidaritas semu—solidaritas bebal, melindungi kelompok sendiri meski jelas-jelas salah. 

Maka tidak usah heran kita sering temui kasus: Ketua melindungi anggotanya sebagai terduga kasus pelecehan atau organisasi melarang anggota nya berhubungan dengan Ketua dari organisasi lain-karena hubungan antar ketua sedang tidak baik.

Marx sudah mengingatkan, manusia dalam masyarakat kapitalis selalu terjebak dalam alienasi, bukan hanya dari kerja, tapi juga dari nilai yang mereka ucapkan.

Saya juga pernah berhadapan dengan wajah lain dari ironi ini. Kali ini anak-anak muda asyik mendaku anti kemapanan. Aktivis yang berteriak menolak otoritarianisme, yang mengutip teori anarkisme dan mengagungkan kebebasan, tanpa sekat dan menyanjung egaliter.

Namun ternyata bisa tenggelam dalam hedonisme. Mabuk-mabukan sampai diomelin tetangga sekretariat, ribut rebutan perempuan, berjudi-online, mana rungkat lagi. Bahkan akibatnya ada yang sampai menggelapkan uang organisasi.

Di level wacana, mereka dan kita semua sering bicara tentang kesetaraan dan solidaritas. Tapi di level kehidupan sehari-hari, justru egoisme yang berkuasa.

Lalu, bandingkan dengan pejabat borjuis—yang dalam teori Marx seharusnya jadi vampir penyedot nilai lebih. Saya pernah diajak bertemu salah satunya. Dan ironisnya, ia menyambut dengan ramah, memperlakukan manusia sebagai manusia, tidak kasar, bahkan terasa tulus. 

Saat itu tertegun: mengapa pejabat yang seharusnya jadi musuh kelas bisa tampil lebih beradab, sementara kawan seperjuangan justru jatuh ke dalam keburukan?

Gramsci bisa menjelaskan sebagian teka-teki ini. Ia menulis bahwa masyarakat luas diam karena hegemoni bekerja: norma dan nilai borjuis sudah mendarah daging, menjadikan kepatuhan terasa wajar. Hidup tenteram asal jangan ganggu produksi kapitalis.

Ketika elit korup atau anti-demokrasi, masyarakat hanya melawan dengan seruan moral. Žižek menambahkan, ini adalah bentuk fetisisme ideologis: kita tahu sistem rusak, tapi kita tetap bertingkah seakan-akan semuanya baik-baik saja.

Maka runtuhlah kategori hitam-putih itu.

Derrida sudah mengingatkan: jangan percaya pada oposisi biner—buruh tidak selalu mulia, borjuis tidak selalu bengis, aktivis tidak selalu progresif. 

Realitas membalikkan teori. Yang seharusnya jadi contoh justru mengkhianati nilai, sementara yang kita anggap lawan kadang lebih manusiawi dalam relasi sehari-hari. Dan ia tidak berhenti sampai disana. Akan ada terus perubahan. Semoga dekonstruksi bisa terdekonstruksi kembali.

Mungkin teori memang bukan harus dibuang, melainkan diperlakukan sebagaimana adanya: kompas, bukan jaminan moral. Marxisme, anarkisme, atau teori gerakan sosial lainnya bisa memberi arah, tapi tidak bisa mengendalikan nafsu manusia. 

Masalah kita bukan pada kurangnya teori, melainkan lemahnya internalisasi. Organisasi sering berhenti di level wacana—diskusi, kajian, kutipan—tapi ketika menyentuh praktik, nilai itu hilang.

Maka jadilah gerakan penuh paradoks: menyerang borjuis, tapi masih mempraktikkan nilai-nilai borjuis di dalam tubuh sendiri.

Ironinya, mungkin kita semua memang sedang belajar tertawa. Menertawakan charger yang hilang, uang kas yang kabur, solidaritas semu yang menutupi kesalahan, bahkan menertawakan moral yang lebih sering jadi jargon ketimbang laku. 

Karena dalam satir ini, kita dipaksa sadar: teori tidak otomatis membuat kita lebih mulia. Gerakan progresif bisa sama rapuhnya dengan sistem yang ia kritik.

Dan di titik ini, satir menampar kita: musuh terbesar gerakan progresif bukan kapitalisme di luar sana, melainkan borjuis kecil yang kita pelihara dalam diri sendiri.***


Penulis : Rozi H. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...