Sudah lama Pepe tidak bertemu Ojin. Entah karena kesibukan, kemalasan, atau memang kehidupan sudah terlalu mahal untuk sekadar ngopi.
Suatu sore Pepe akhirnya mengajak Ojin ketemu di warkop langganan. Tempatnya masih sama: kursi plastik, meja yang permukaannya sudah seperti peta kepulauan, suara motor lewat, dan televisi yang volumenya lebih besar daripada pendapat pelanggan. Baru duduk, Pepe langsung melihat berita di televisi. Rocky Gerung dilantik menjadi anggota Wantimpres oleh Presiden Prabowo.
“Jin, lihat tuh. Rocky Gerung jadi Wantimpres.”
Ojin yang sedang mengaduk kopi menoleh sebentar.
“Memang berat Rocky Gerung berapa kilo?”
Pepe diam. Mungkin dikiranya si Ojin batrenya ketuker sama batre tamagochi.
Lima detik.
Sepuluh detik.
“Bukan berat badan, Berat berita coyy” ah relep.
“Oh.”
Ojin menyeruput kopi.
“Kalau berat badan gue juga nggak tahu.”
Pepe mulai keki. Bukan karena pertanyaannya bodoh. Masalahnya, Ojin memang sering begitu. Kalau orang sedang membicarakan sejarah politik, dia bisa-bisanya bertanya ukuran sepatu. Kalau orang sedang membicarakan ideologi, dia bisa tiba-tiba membahas harga gorengan. Kadang-kadang Pepe curiga, jangan-jangan Ojin memang punya cara sendiri untuk menghadapi politik: tidak terlalu serius supaya tidak cepat kecewa.
Padahal kalau ditarik kembali ke 2019, Ojin pernah cukup serius membicarakan Rocky Gerung. Waktu itu Pepe dan Opan termasuk orang yang sangat mengagumi Rocky. Bagi mereka, Rocky adalah suara yang berani berhadapan dengan kekuasaan. Kritiknya terhadap Jokowi terdengar tajam, kalimatnya mudah dipotong menjadi kutipan, dan istilah “akal sehat” seperti menjadi semacam mantra.
Rocky bahkan pernah mengatakan bahwa jika Prabowo menjadi presiden, ia akan mengkritiknya 12 menit setelah dilantik, karena dirinya mengaku sebagai pengkritik kekuasaan.
Ojin waktu itu justru curiga. Bukan kepada Rocky sebagai manusia, tetapi kepada cara orang-orang mengubah seorang pengkritik menjadi semacam juru selamat politik.
Menurut Ojin, kritik terhadap kekuasaan tetap harus dibaca bersama posisi politik orang yang menyampaikannya. Ia melihat ada kemungkinan bahwa sebagian kritik Rocky terhadap Jokowi dibaca publik bukan semata-mata sebagai kritik kekuasaan, melainkan sebagai bagian dari pertarungan politik 2019.
Itu tafsir Ojin, tentu saja. Dan ketika ia menyampaikan kecurigaan itu di media sosial, balasannya sederhana: “Sok tahu" atau dih lu siape? begitulah alur diskusi di media sosial kekinian.
Ojin waktu itu malah semakin cerewet. “Kalian hati-hati. Suatu saat nanti kalian akan dikecewakan oleh orang yang kalian anggap juru selamat di dunia politik. Kritis itu penting. Tapi akal sehat bisa berubah jadi akal cair.” Tidak ada yang tahu apakah kalimat itu benar-benar akan terbukti.
Mungkin juga Ojin cuma sedang sok filosofis karena belum punya pekerjaan. Namanya juga Ojin. Kadang antara pemikiran dan pengangguran memang cuma dipisahkan satu gelas kopi.
Sekarang, tujuh tahun kemudian, Rocky benar-benar berada di dalam struktur kekuasaan sebagai Wantimpres. Yang menarik justru bukan sekadar perpindahannya dari luar ke dalam. Rocky sendiri mengatakan bahwa ia hanya “pindah dari luar ke dalam”, dan menjelaskan bahwa posisi Wantimpres memiliki fungsi etis untuk melihat ekses kebijakan serta memberi pertimbangan terhadap arah kebijakan pemerintah.
Pepe kemudian menatap Ojin agak serius.
“Jin, lu dulu pernah ngomong begini.”
“Ngomong apa?”
“Yang soal suatu hari orang bakal kecewa sama tokoh politik yang dianggap juru selamat.”
“Emang gue pernah ngomong gitu, yak?”
“Iya.”
“Serius?”
“Iya.”
Ojin terdiam. Bukan karena sedang berpikir. Dia memang lupa.
Pepe tertawa.
“Gawat lu, ler.”
“Kenapa?”
“Lu pernah meramal diri sendiri.”
“Meramal apaan?”
“Dulu lu bilang politik itu dinamis. Sekarang lu sendiri jadi asisten konsultan politik.”
Ojin langsung tertawa. Lalu mengambil gorengan dari piring Pepe tanpa izin.
“Ya berarti teori gue benar.”
“Bagian mananya?”
“Politik memang dinamis, kadang ojol kadang asisten politik kadang ngopiii.”
“Bukan dinamis, Jin. Lu cair.”
Ojin tertawa lebih keras. Pale lu cair. Kalo gue cair besok gw teraktir kopi liong, lau..hehe
Tapi di balik candaan itu ada satu hal yang mungkin memang tidak pernah selesai dalam politik: manusia bisa berpindah posisi. Orang yang dulu berdiri di luar kekuasaan bisa masuk ke dalamnya. Orang yang dulu mengkritik bisa suatu hari mendapat tugas memberi pertimbangan. Itu sendiri belum otomatis membuktikan seseorang kehilangan prinsip.
Justru di situlah pertanyaannya menjadi menarik: ketika posisi berubah, apakah prinsip ikut berubah, atau justru prinsip diuji dalam posisi yang baru?
Pepe menghabiskan kopinya.
“Jadi menurut lu gimana?”
Ojin mengangkat bahu.
“Gue nggak tahu.”
“Katanya dulu lu tahu.”
“Dulu gue belum terjun di dunia konsultan politik.”
“Terus sekarang?”
“Sekarang gue tahu satu hal.”
“Apa?”
Ojin menunjuk piring gorengan.
“Politik itu boleh berubah. Pendapat boleh berubah. Posisi juga bisa berubah.”
Pepe menunggu kelanjutannya.
Ojin mengambil bakwan terakhir.
“Tapi kalau sudah kenyang, jangan sampai lupa siapa yang dulu kita kritik ketika masih lapar.”***
Penulis: Rozi H

Komentar
Posting Komentar