Langsung ke konten utama

Marxism Bukan Agama, Derrida Bukan Musuh: Bro, Revolusi Kok Malah Jadi Lomba Paling Suci?

Ada yang menarik dari cara sebagian orang kiri menyerang Jacques Derrida. Kosakatanya dianggap njelimet, pemikirannya dicap tidak membumi, dan dekonstruksi dinilai tidak menghasilkan solusi konkret bagi buruh yang upahnya cekak, pekerja yang lembur sampai tumbang, atau masyarakat yang dihimpit kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kritik itu tidak sepenuhnya salah. Teori yang hanya berputar di kepala memang tidak otomatis mengenyangkan perut. Namun, ada pertanyaan yang lebih mengganggu: sejak kapan kesulitan memahami sebuah teori menjadi bukti bahwa teori tersebut tidak berguna? Dan sejak kapan Marxisme merasa cukup dengan mengutip Marx tanpa perlu mengoreksi cara dirinya sendiri bekerja?

Mari kita bedakan persoalannya. Ini bukan pembelaan membabi buta terhadap postmodernisme. Saya justru berangkat dari tradisi Marxis. 

Tetapi menjadi Marxis tidak berarti wajib memusuhi setiap pemikiran yang datang dari luar tradisi tersebut. Kalau Marx mengajarkan kita membaca kontradiksi, mengapa kontradiksi di dalam gerakan sendiri justru sering disembunyikan?

1. Derrida Tidak Mengusir Marx, Ia Mengusik Orang yang Merasa Sudah Memiliki Marx

Pada 1993, Derrida menerbitkan Specters of Marx. Buku ini lahir ketika kapitalisme liberal sedang merayakan kemenangan pasca-Perang Dingin, seolah keruntuhan Uni Soviet merupakan bukti bahwa kapitalisme telah menjadi akhir sejarah.

Derrida justru mempertanyakan kemenangan tersebut. Mengapa Marx masih menghantui dunia ketika banyak orang menyatakan Marxisme sudah mati?

Hantu di sini bukan sekadar metafora horor. Ia menandai sesuatu yang tidak sepenuhnya hadir, tetapi juga tidak bisa dihapuskan. Ketidakadilan, eksploitasi, ketimpangan, dan janji emansipasi yang belum terpenuhi membuat Marx terus kembali sebagai pertanyaan yang mengganggu tatanan kapitalisme.

Derrida tidak harus dianggap sebagai penerus Marx yang sempurna. Ia juga tidak menggantikan analisis kelas dengan permainan kata-kata. Ia mengajak kita memikirkan warisan Marx secara kritis: bagian mana yang masih hidup, bagian mana yang perlu ditinjau ulang, dan bagaimana janji emansipasi dapat dipertahankan tanpa mengubahnya menjadi doktrin tertutup.

Ironisnya, orang yang mengejek Derrida karena dianggap tidak praktis mungkin sedang melupakan satu hal: Marx sendiri tidak pernah menjadi milik eksklusif organisasi, partai, atau kelompok yang mengaku paling revolusioner.

Marx adalah warisan yang harus terus dipertarungkan, bukan sertifikat kesucian ideologis.

2. Ketika Marxisme Berubah Menjadi Agama Baru

Masalah dimulai ketika ajaran tentang pembebasan berubah menjadi mekanisme penentuan siapa yang paling benar.

Mahasiswa diajarkan untuk mengkritik borjuasi. Mereka belajar tentang eksploitasi, kepemilikan alat produksi, dan perjuangan kelas. Namun, ketika memasuki dunia organisasi, mereka menemukan kenyataan yang lebih rumit: pemimpin yang mengkritik elite ternyata bisa bernegosiasi dengan elite; organisasi yang berbicara tentang solidaritas dapat terjebak dalam konflik internal; serikat yang dibangun untuk memperjuangkan pekerja dapat mengalami pelecehan, penyalahgunaan wewenang, atau pertikaian perebutan posisi.

Tentu saja, tidak semua gerakan kiri mengalami hal tersebut. Kolaborasi politik juga tidak otomatis merupakan pengkhianatan. Dalam kondisi tertentu, kompromi dapat menjadi strategi untuk memenangkan tuntutan konkret.

Tetapi justru di sinilah persoalannya: jika kompromi selalu dibenarkan atas nama strategi, sementara penyimpangan internal selalu ditutup dengan alasan perjuangan, lalu siapa yang mengawasi para pengawas?

Kita bisa memiliki organisasi dengan jargon paling revolusioner, tetapi tetap mereproduksi relasi kuasa yang kita kutuk. Bahasa kesetaraan dapat hidup berdampingan dengan praktik hierarki. Retorika pembebasan dapat menjadi alat untuk membungkam kritik. Bahkan, kata revolusi bisa berfungsi seperti mantra yang membuat segala tindakan pemimpin seolah memperoleh pembenaran otomatis.

Ketika kritik terhadap kapitalisme tidak disertai kritik terhadap kekuasaan di dalam organisasi sendiri, revolusi berisiko sekadar mengganti siapa yang duduk di kursi penguasa.

Di sinilah dekonstruksi menjadi relevan. Ia tidak harus memberikan resep pendirian serikat atau rumusan upah minimum. Ia dapat membantu membongkar bagaimana bahasa revolusi, solidaritas, dan kesetiaan dipakai untuk menutupi kontradiksi yang seharusnya dihadapi.

3. Materialisme Tanpa Refleksi Bisa Berakhir Menjadi Dogma

Sebagian aktivis mungkin berkata, “Yang penting praksis, bukan debat teori.”

Baik. Tetapi praksis yang mana? Praksis yang memperjuangkan kenaikan upah, memperkuat posisi tawar buruh, dan membangun organisasi demokratis? Atau praksis yang sekadar sibuk mengutuk borjuasi, kapitalisme asing, dan pengkhianat revolusi tanpa mengukur hasil tindakannya?

Tidak setiap tindakan otomatis materialistis hanya karena dilakukan di dunia nyata. Tindakan juga bisa didorong oleh romantisisme, fanatisme, kepentingan pribadi, atau keinginan mempertahankan identitas sebagai orang paling radikal.

Sebaliknya, teori yang abstrak tidak otomatis sia-sia. Teori dapat membantu kita menemukan mekanisme dominasi yang tidak terlihat secara langsung. Persoalannya bukan memilih teori atau praksis, melainkan memahami hubungan keduanya secara dialektis.

Praksis tanpa refleksi berisiko mengulang kesalahan yang sama. Teori tanpa praksis berisiko menjadi kemewahan intelektual yang tidak menyentuh kehidupan masyarakat.

Ambil contoh kompromi elektoral. Mendukung kandidat dari kalangan elite tidak otomatis membuat gerakan kiri menjadi borjuis. Pertanyaan materialistisnya lebih konkret: tuntutan apa yang diperjuangkan, siapa yang memperoleh manfaat, konsesi apa yang berhasil diraih, apa biaya politiknya, dan apakah organisasi tetap memiliki otonomi untuk mengkritik sekutunya?

Kalau kompromi menghasilkan perlindungan pekerja, memperluas ruang politik, dan memperkuat organisasi, ia layak dievaluasi sebagai strategi. Namun, jika kompromi justru melumpuhkan kritik, menguntungkan elite, dan menjadikan organisasi sekadar mesin dukungan, maka nama strateginya tidak menghapus konsekuensi materialnya.

Kita tidak bisa menilai politik hanya dari kemurnian niat. Kita harus menilai hasil, relasi kuasa, dan kemampuan memperbaiki kesalahan.

4. Tidak Ada Revolusi yang Kebal dari Kritik

Di titik ini, Derrida dapat dibaca sebagai pengganggu yang produktif. Ia mengusik keyakinan bahwa sebuah konsep dapat hadir dalam keadaan sepenuhnya murni, bebas dari kontradiksi, dan tidak membutuhkan pemeriksaan ulang.

Dalam gerakan kiri, gagasan tentang revolusi kadang diperlakukan seperti tujuan suci yang tidak boleh dipertanyakan. Siapa pun yang berbeda strategi dianggap kurang revolusioner. Siapa pun yang tidak menguasai kosakata tertentu dianggap tidak memahami perjuangan kelas.

Padahal, buruh tidak membutuhkan kompetisi tentang siapa yang paling fasih menyebut nama Marx. Mereka membutuhkan upah yang layak, jam kerja manusiawi, jaminan sosial, lingkungan kerja aman, dan organisasi yang tidak memperlakukan anggotanya sebagai alat.

Tetapi kebutuhan konkret itu juga tidak mengharuskan kita membuang pemikiran abstrak. Justru kita membutuhkan teori untuk memahami mengapa eksploitasi terus berulang, mengapa organisasi bisa membusuk, dan mengapa cita-cita pembebasan dapat berubah menjadi sistem penindasan baru.

Tugas kita bukan memilih Marx atau Derrida seperti memilih dua kubu sepak bola. Kita perlu membaca Marx untuk memahami kapitalisme dan perjuangan kelas, sekaligus bersedia menguji bagaimana bahasa, identitas, otoritas, dan klaim kebenaran bekerja di dalam perjuangan itu sendiri.

Pada akhirnya, kritik paling serius terhadap Derrida bukanlah bahwa ia menggunakan kata-kata yang sulit. Kritik yang serius harus menunjukkan secara spesifik di mana pemikirannya gagal menjelaskan realitas, di mana argumennya tidak memadai, dan apa konsekuensinya bagi praksis.

Begitu pula sebaliknya: kritik paling serius terhadap Marxisme bukanlah bahwa ia pernah gagal, melainkan ketika sebagian pengikutnya menolak memeriksa kegagalan tersebut karena takut merusak citra kemurnian ideologis.

Marx masih menghantui kapitalisme karena kontradiksi yang ia soroti belum lenyap. Namun, Marx juga seharusnya menghantui kaum Marxis sendiri setiap kali mereka mengubah teori pembebasan menjadi alat pembenaran kekuasaan.

Revolusi bukan perlombaan menjadi manusia paling suci. Ia adalah perjuangan yang harus terus diuji oleh kenyataan, termasuk ketika kenyataan itu mempermalukan kita sendiri.

Kalau kita berani mengkritik borjuasi, seharusnya kita juga berani mengkritik organisasi sendiri. Kalau kita menolak eksploitasi, kita harus memeriksa relasi kuasa di antara sesama pejuang. Dan kalau kita percaya pada dialektika, kita tidak boleh takut ketika pemikiran kita sendiri dipertemukan dengan kontradiksinya.

Sebab, yang paling berbahaya bagi perjuangan kelas bukanlah semata-mata pemikiran yang sulit dipahami.

Melainkan keyakinan bahwa kita sudah benar, sehingga tidak perlu lagi memahami apa yang sebenarnya sedang kita lakukan.**

**Catatan rujukan: Jacques Derrida, Specters of Marx: The State of the Debt, the Work of Mourning and the New International (1993). Tulisan ini merupakan pembacaan kritis, bukan klaim bahwa Derrida menawarkan program politik praktis bagi gerakan buruh. 

Penulis: Rozi H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...

Alasan Kita Harus Mendukung Pak Harto Jadi Pahlawan dan Sikap Masyarakat Avengers

Kalau Marvel punya Avengers Initiative, Indonesia punya Pahlawan Nasional Initiative. Di sana, para Avengers bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran; di sini, pahlawan nasional sering justru dipilih dari mereka yang pernah menciptakan kehancuran, lalu dianggap berjasa karena berhasil mengendalikannya. Dan kini, kandidat terbarunya: Bapak Soeharto. Bapak pembangunan, bapak stabilitas, bapak segala bapak. Mantan presiden RI ke-2 ini kembali ramai dibicarakan karena wacana pemberian gelar pahlawan nasional. Begitu wacana itu mencuat, negeri ini langsung pecah jadi dua kubu: yang mendukung dengan air mata nostalgia, dan yang menolak dengan nada moral tinggi. Kubu pertama bicara soal “jasa besar”: swasembada pangan, infrastruktur, harga stabil, dan rasa aman (yang sebenarnya lebih mirip rasa takut). Kubu kedua bicara soal tragedi 1965, penculikan aktivis, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga kehancuran lingkungan akibat industrialisasi serampangan. Tempo (2023) menulis, sebagian ...