Langsung ke konten utama

MAAFKAN BAPAK, ANAKKU.

Sewaktu ku kecil, sewaktu aku masih dipangkuan ibuku, ibuku sering mengajakku berjalan-jalan dengan kereta bayi, aku sangat senang. Beberapa saat aku menangis manja, meminta perhatian ibuku, ibuku pun dengan cekatan, langsung memeperhatikanku dan menghiburku agar berhenti menangis......

Ayah melihatku sedang dimanja oleh ibuku, akupun membalasnya dengan tatapan manja, aku harap ayah juga datang menghampiriku untuk menghiburku..
kukira ayah menghampiriku untuk menghiburku..
ternyata tidak......

Aku sedang menggali tanah untuk mencari cacing, untuk umpan memancingku di kolam belakang rumah, beberapa saat aku melihat ayah sedang berjalan melewatiku, ketika ia berbalik, kuharap ayah menghampiriku untuk membantu menggali-kan tanah untukku,
kukira ayah menghampiriku untuk membantuku...
ternyata tidak.......

Aku memenangkan pertandingan semifinal kasti tingkat remaja di sekolah, dan kini aku ingin ayah menonton pertandingan finalku untuk menyemangatiku...., aku hanya bisa menitipkan selembar tiket pertandingan final untuk ayahku, karena kutahu ibuku sedang sibuk,
saat pertandingan, aku memukul home-run, aku berlari dan terjatuh, tapi tim ku memenangkan pertandingan, aku melihat sorak-sorai penonton mendukungku, kuharap ayah juga sedang ada disitu,
kukira ayah datang, untuk menonton pertandingan kasti untukku..
ternyata tidak........

Sumber gambar: voaindonesia.com

Kini, aku telah beranjak dewasa,dan aku kini sudah menikah, aku membutuhkan sebuah nasihat dan masukkan yang baik sebagai seorang kepala keluarga baru, hal itu tentu saja hanya bisa kudapat dari ayahku, beberapa kali aku ingin menemuinya, datang ke rumahku yang dulu, rumah yang membesarkanku, aku ingin berbagi pengalaman hidup dengan ayah, saling bertukar pikiran...., ibu apa kabar ? ayah sedang berada dimana ?? ayah sedang tidak berada di rumah
kukira hal itu yang juga diinginkan ayah...
ternyata tidak...........

dan,
dan, 
dan,

Kini, aku ialah seorang prajurit negara, 
tugas negara memanggilku, agar aku ikut berjuang di garis terdepan peperangan....
ketika aku ingin berangkat, aku mendapat kiriman surat, dan betapa bahagianya aku, aku membaca surat itu, dan setelahnya aku menjadi semangat untuk bertempur membela tugas negara...

dengan semangat yang berkobar, aku selalu mengingat isi surat dari ayah


"anakku, kau patriot bangsa, kau anakku yang gagah berani"
.................................................................................................................
.................................................................................................................
.................................................................................................................

namun, takdir berkata lain,
aku tertembak dan gugur di medan perjuangan

lanjutan surat :
 "anakku, kuharap kau pulang dengan selamat......"

ayah memintaku pulang dengan selamat....

"MAAFKAN AKU AYAH, AKU TIDAK DAPAT MEMENUHI PERMINTAANMU, AKU SAYANG AYAH "



ROZI HARIANSYAH, ditulis ulang dan dinukil dari akun facebook pribadi.



Inspirasi dan Adaptasi  :
Oleh Kim Donghwa, Kartunis asal Korea Selatan dalam buku cerita bergambar "Chiken soup for teen soul"
dengan sedikit perubahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Ironi Solidaritas: Aktivis, Borjuis dan Kita

Kita sering memulai dari buku. Dari Marx yang bicara tentang kelas, dari Kropotkin yang mengidealkan solidaritas, dari Lenin yang menekankan disiplin partai, sampai Derrida yang mengajarkan dekonstruksi terhadap segala struktur mapan.  Di halaman-halaman itu, dunia tampak jelas: ada yang menindas, ada yang ditindas; ada solidaritas, ada pengkhianatan. Jika teori dijalankan, maka perubahan besar bisa lahir. Namun, begitu teori itu masuk ke dunia nyata, ia seperti mengalami gempa.  Siapa yang menyangka dari peristiwa sepele: Pengalaman pahit memang bila seonggok charger HP baru ditukar seenaknya dengan yang sudah usang.  Anehnya, orang-orang di sekitar malah membela si penukar—hanya karena ia teman dekat. Solidaritas yang katanya “setia kawan” ternyata hanya berlaku untuk melindungi kawan yang salah, bukan untuk menegakkan prinsip. Hal yang remeh padahal. Yang bikin sedih adalah, mereka adalah anggota serikat buruh-merah yang pasti hafal luar-dalam teori progresif. Di titik...