Langsung ke konten utama

SEKARANG BAPAKNYA BERADA DIMANA?

MATEMATIKA BUKAN SEKADAR ILMU YANG MENYERAMKAN, KINI DENGAN MATEMATIKA AKU BISA BIKIN CERITA KONYOL NAN IDIOT.......

 Oleh: Rozi H.

Pernyataan :

Jika umur seorang ibu adalah 21 tahun lebih tua dari anaknya, 6 tahun kemudian ternyata umur ibunya 5 kali lipat dari umur anaknya..


Pertanyaannya : umur anaknya berapa sekarang ??
                            dan bapaknya lagi ada dimana ( emang ga nyambung sih.. udah lu baca aje,,,)

Jawab :   cekidot....

Sumber: Google.com

Diketahui ,
umur ibunya ( I = A + 21)  ( + 6 TAHUN KEMUDIAN )
Umur anaknya (A = ?? )       ( + 6 TAHUN KEMUDIAN, LIMA KALI LIPAT UMUR IBUNYA )  (  A +6) X 5




--- MASUK PERSAMAAN-----


                   1.      ( A + 21 + 6)  =  ( A + 6) X 5

                   2.    A + 27     =  5A+30

                   3.    (27 -30) =  ( 5A - A)

                   4.  -3  = 4A

                   5. A =  -3 /4

BERARTI UMUR ANAKNYA ( -3/4 DIKALI 12 BULAN ( 1 TAHUN = 12 BULAN) ) =  ( -3 /4 X 12 = -9 BULAN....., )

MAKA UMUR ANAKNYA ADALAH...  -9 BULAN, KEMUNGKINAN BELUM LAHIR KARENA SEORANG BAYI BILA AKAN LAHIR HARUS MENUNGGU 9 BULAN..


DAN SEKARANG PERTANYAAN AKHIR...

"Dimana BAPAKNYA" ????

karena umur anaknya adalah -9 bulan..., maka (TEORI KEMUNGKINAN) KEMUNGKINAN BESAR BAPAKNYA ADA DI....



( atas ibunya )



Yang ketawa berarti bapaknya.


HOHOHO



-Sumber //// buku COWOK VS CEWEK//////

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Alasan Kita Harus Mendukung Pak Harto Jadi Pahlawan dan Sikap Masyarakat Avengers

Kalau Marvel punya Avengers Initiative, Indonesia punya Pahlawan Nasional Initiative. Di sana, para Avengers bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran; di sini, pahlawan nasional sering justru dipilih dari mereka yang pernah menciptakan kehancuran, lalu dianggap berjasa karena berhasil mengendalikannya. Dan kini, kandidat terbarunya: Bapak Soeharto. Bapak pembangunan, bapak stabilitas, bapak segala bapak. Mantan presiden RI ke-2 ini kembali ramai dibicarakan karena wacana pemberian gelar pahlawan nasional. Begitu wacana itu mencuat, negeri ini langsung pecah jadi dua kubu: yang mendukung dengan air mata nostalgia, dan yang menolak dengan nada moral tinggi. Kubu pertama bicara soal “jasa besar”: swasembada pangan, infrastruktur, harga stabil, dan rasa aman (yang sebenarnya lebih mirip rasa takut). Kubu kedua bicara soal tragedi 1965, penculikan aktivis, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga kehancuran lingkungan akibat industrialisasi serampangan. Tempo (2023) menulis, sebagian ...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...