Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

Darurat Militer? Membaca Ulang Rakyat, Teror dan Hantu Stabilitas

Kerusuhan yang belakangan terjadi, bahkan penjarahan rumah pejabat, langsung diberi cap: rakyat berperilaku teroris dan makar. Dari sini biasanya logika negara bergerak cepat: karena ada teror, maka negara sah mengambil langkah darurat, bahkan darurat militer. Darurat militer adalah keadaan ketika pemerintahan sipil dinyatakan tidak mampu mengendalikan situasi, lalu fungsi pemerintahan (terutama keamanan dan hukum) diambil alih oleh militer. Dalam kondisi ini, hak-hak sipil yang dimiliki rakyat biasanya dibatasi ketat: jam malam, pembatasan media, pelarangan demonstrasi, penangkapan tanpa proses hukum normal, hingga pengadilan militer untuk warga sipil. Namun, justru di sinilah letak persoalannya. Siapa yang dimaksud rakyat? Apakah rakyat yang sehari-hari antre minyak goreng, membayar pajak yang terus naik, menanggung harga beras yang kian melambung, dan dibungkam buzzer setiap kali bersuara? Atau rakyat yang tertangkap kamera melakukan provokasi, merusak fasilitas negara, yang ternyat...

Kaki yang Berpijak, Akar yang Merantau

Biasanya orang-orang pergi ke kota untuk kehidupan yang lebih baik. Rela meninggalkan zona nyaman untuk kebutuhan hidup. Jauh dari rumah, orang tua sampai teman-temannya. Begini lah hidup, apapun dilakukan demi sebuah pencarian. Apa jadinya tiba-tiba arus berbalik. Bermula saya mengganti nama di akun whatsapp jadi Iroz. Saya berasal dari Jakarta-ralat ciledug, namun berani-beraninya nekat merantau ke pulau seberang. Lebih tepatnya ke kota Padang.  Biasanya kan orang dari suku Minangkabau pada rantau ke Jakarta—jadi pedagang, buka rumah makan, atau sekadar mencari kerja. Lah ini kebalik, orang gak punya suku-ngaku-ngaku Betawi yang sok-sok-an nyebrang ke Ranah Minang. Alasannya sederhana: nemenin istri lahiran di kampung kelahirannya. Sekalian lah saya nyari kerja. Eh, keterima dong jadi sales. Waduh, keos gue! Nggak bisa bahasa Minang, kagak hapal jalan, pengalaman sales terakhir aja jeblok penjualan. Mana ditempatin pula di daerah paling ujung: Pauh sama Lubuk Kilangan.  Oran...

Ojol, Jaket dan Martir yang Bukan Siapa-siapa

Turut berduka cita yang mendalam atas apa yang dialami rekan ojek online yang harus meregang nyawa akibat ditabrak-dan dilindas secara brutal oleh mobil rantis (kendaaan taktis) aparat brimob pada kamis malam, 28 Agustus 2025.  Akibatnya reaksi muncul dari ratusan sesama driver ojol sebagai tindakan solidaritas dengan mendatangi mako brimob di sekitaran jakarta. Ojek online atau ojol yang kita ketahui selalu dianggap sekadar kurir aplikasi: bekerja tanpa kontrak, dibayar per pesanan, dan dilupakan setelah log out. Namun jaket mereka bukan hanya seragam; ia menjelma tanda solidaritas di jalan. Dengan jaket itu, seorang driver bisa dikenali saat menolong korban kecelakaan, membantu sesama yang mogok, bahkan ikut membantu menghajar kriminal di jalan. Jaket adalah simbol kehadiran kelas pekerja jalanan yang terus bergerak. Ketika tragedi menimpa seorang ojol yang dilindas kendaraan aparat, luka itu bukan hanya pada tubuh, melainkan pada simbol solidaritas itu sendiri. Yang membuat iron...

Warung Kopi atau Warung Ojol?

Konflik kecil antara pemilik warung kopi dan pengemudi ojek online kembali mengemuka. Pemilik warung merasa rugi karena banyak ojol nongkrong berlama-lama hanya dengan membeli secangkir kopi murah. Sebaliknya, sebagian ojol merasa kehadiran mereka justru membantu warung tetap terlihat ramai. Kenyataannya, masalah ini tidak sesederhana “ojol merugikan warkop”. Sepinya warung dapat dipengaruhi banyak faktor: kualitas rasa, kenyamanan ruang, pemilik warkop tidak akrab hingga perilaku pelanggan lain, bisa ojol bisa juga gerombolan orang nongkrong yang lain.  Tuduhan sepihak terhadap ojol bisa jadi hanyalah cara mudah untuk mengalihkan persoalan. Apa ojol merasa asyik nongkrong berlama-lama karena bisa ngecas ponsel gratis dengan waktu yang lama? Bila begitu, pemilik warkop tinggal mencabut colokan listrik. Tapi masalah tidak sesederhana itu. Titik lokasi warkop bisa jadi spot gacor untuk mendapatkan order. Hubungan ojol dan warkop juga tidak selalu bersifat saling bergantung. Ojol bisa...

Ojol Mau Kerja

Pepe melaju pelan di jalan raya, seragam ojol hijau-oranye melekat di tubuhnya. Di belakang, seorang penumpang menempel erat sambil sibuk dengan ponsel. Saat berhenti sebentar di depan gang, seorang tetangga menyapa. “Pe, mau ke mana? Udah dapat kerjaan belum?” Pepe cuma cengar-cengir. “Lah, ini kan bawa penumpang. Lagi kerja, Bu. Hehe.” Tetangganya balas senyum kecut, seolah jawaban itu tak cukup meyakinkan. --- Selesai mengantar, Pepe mampir ke warung kopi. Ia menyulut rokok, menyesap teh manis hangat. Dari kejauhan, terdengar teriakan rombongan buruh berbaris menuju Istana Negara. Di sebelahnya, dua pegawai kantoran juga sedang rehat. “Wah, ngapain sih buruh demo? Bikin macet jalan aja,” kata pegawai pertama sambil geleng-geleng. Pegawai kedua menimpali, “Biarin. Kalau tuntutan mereka dikabulkan, kita juga ikut ngerasain kok. UMR naik, BPJS jelas, outsourcing dihapus. Tapi ya… itu perjuangan mereka, bukan kita.” Pepe menghela napas. Dalam hati ia bergumam: Kalau buruh aja masih dian...

Para Penitip Nasib

Pagi itu, kantin kampus ramai oleh obrolan soal rencana aksi. Puluhan mahasiswa anggota BEM sudah bersiap: spanduk, toa, dan selebaran bertuliskan “Tolak Pendidikan Mahal! Turunkan Menteri Pendidikan!”. “Bro, ayo ikut turun ke jalan. Kalau diem aja, kapan kuliah kita murah?” seru seorang aktivis. Beberapa mahasiswa mengangguk bersemangat. Tapi tidak sedikit yang menolak. “Aduh, gua ada kuis nanti. Lagi pula demo nggak selalu ada hasilnya,” jawab seorang mahasiswa dengan ragu. Mereka yang menolak diejek, “Dasar penitip nasib! Enak banget cuma duduk di kelas, biarin kami yang teriak di jalan.” Di tengah keramaian itu, seorang mahasiswa yang awalnya enggan akhirnya luluh. “Yaudah deh, ikut. Tapi absen kuliah gua gimana, bang?” “Titip aja sama temen lo. Lah, penitip nasib juga jadinya,” sahut yang lain sambil tertawa. --- Siang itu, massa mahasiswa berbaris di depan Gedung DPR. Panas terik tak menghalangi teriakan mereka. “Toa! Toa!” teriak koordinator lapangan. Suara membahana: “Apakah ka...

Sang Perantau di Jalan Politik

Ada seorang anak muda yang tumbuh di pinggiran kota. Ia menyukai sains, gemar mengamati daun yang berfotosintesis, tertarik pada hukum gravitasi dan gerak bintang. Hidupnya terasa sederhana: ia ingin menjadi ilmuwan yang meneliti kehidupan. Namun takdir membelokkannya: pintu sains tertutup, dan ia justru dilemparkan ke sebuah dunia asing bernama Politika. Politika adalah sebuah kota besar yang penuh suara: ada yang berteriak lantang di alun-alun, ada yang berdebat di kedai kopi, ada pula yang mengangkat poster sambil berlari dari kejaran prajurit kota. Anak muda itu datang dengan hati penuh tanya. Ia hanya duduk di pinggir jalan, mendengar, mengamati. “Cita-citamu apa?” tanya seorang senior di suatu ruangan dengan lampu yang berpendar. “Menjadi pengusaha,” jawabnya ragu. Ia pernah mendengar bahwa pengusaha bisa menjadi penguasa. Jawaban itu mungkin bisa membuatnya diterima, tapi sekaligus membuatnya merasa asing. Hari-hari berlalu. Ia diajak berbaris. Ternyata bukan dengan para mahasis...

DPR, Joget , dan Marah yang Tak Pernah Usai di Media Sosial

Oleh : Rozi H. Belakangan media sosial ramai memperbincangkan video anggota DPR yang terlihat berjoget. Beberapa memang, tidak semua.Di saat yang sama, publik sedang dirundung isu kenaikan biaya pajak bumi dan bangunan (PBB) serta kabar gaji anggota yang naik. Reaksi warganet pun meledak: kemarahan, sindiran, hingga tuntutan agar DPR dibubarkan. Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perilaku berjoget. Dalam kondisi ekonomi sulit, rakyat semakin sensitif terhadap simbol. Joget di ruang publik bisa dimaknai sebagai bentuk selebrasi atas kenaikan gaji. Tetapi mungkin tidak ada kaitannya sama sekali. Namun hal ini menandakan kurang etisnya sebagai Lembaga yang diartikan-mewakili rakyat. Dengan kata lain, yang dipersoalkan bukan hanya tindakan, tetapi juga tanda yang melekat padanya. Sejak lama, citra DPR sudah lekat dengan stigma negatif: korupsi, absen sidang, hingga keputusan yang tidak pro rakyat. Maka, setiap perilaku “tidak biasa” akan langsung dilabeli...