Langsung ke konten utama

Sang Perantau di Jalan Politik

Ada seorang anak muda yang tumbuh di pinggiran kota. Ia menyukai sains, gemar mengamati daun yang berfotosintesis, tertarik pada hukum gravitasi dan gerak bintang. Hidupnya terasa sederhana: ia ingin menjadi ilmuwan yang meneliti kehidupan. Namun takdir membelokkannya: pintu sains tertutup, dan ia justru dilemparkan ke sebuah dunia asing bernama Politika.

Politika adalah sebuah kota besar yang penuh suara: ada yang berteriak lantang di alun-alun, ada yang berdebat di kedai kopi, ada pula yang mengangkat poster sambil berlari dari kejaran prajurit kota. Anak muda itu datang dengan hati penuh tanya. Ia hanya duduk di pinggir jalan, mendengar, mengamati.

“Cita-citamu apa?” tanya seorang senior di suatu ruangan dengan lampu yang berpendar.

“Menjadi pengusaha,” jawabnya ragu. Ia pernah mendengar bahwa pengusaha bisa menjadi penguasa. Jawaban itu mungkin bisa membuatnya diterima, tapi sekaligus membuatnya merasa asing.

Hari-hari berlalu. Ia diajak berbaris. Ternyata bukan dengan para mahasiswa seperti dirinya, melainkan bersama kaum pekerja pabrik. Mereka berjalan tertib, membawa spanduk sederhana. Namun tiba-tiba, langit kota Politika dipenuhi asap: gas air mata. Ia batuk, matanya perih, kepalanya berputar. Di tengah kekacauan, ia melihat kenyataan: yang rusuh di depan adalah mahasiswa, tapi yang terkena pukulan adalah buruh.

Di malam hari, ia merenung di kamar sempitnya:

“Apakah inilah wajah politik? Apakah keadilan memang selalu timpang begini?”

Sejak itu, ia mulai mencatat, merenung, menyusun pertanyaan demi pertanyaan. Nilai akademiknya tinggi, tetapi batinnya merasa kosong. Ia merasa belajar politik bukan hanya soal membaca buku, tetapi juga menafsirkan luka yang dirasakan tubuh.

                                     **

Di kota Politika, ia bertemu banyak tokoh:

Para idealis, yang berteriak tentang revolusi, namun diam-diam memperebutkan kursi ketua. Para realistis, yang menyelinap ke istana demi secuil pengaruh. Para pencari makna, yang tetap bertahan bersama rakyat meski dicibir. Ia belajar dari semuanya, meski tidak selalu percaya pada mereka. 

Tahun-tahun berlalu. Anak muda itu lulus dari akademi Politika. Namun, ia sadar bahwa jalan sebenarnya baru dimulai di luar tembok kampus. Ia menyaksikan rakyat kecil di pasar, sopir ojek yang bertengkar soal order, buruh yang khawatir upahnya dipotong. Berbeda dengan yang hanya dilihat sehari-hari di layar kaca. Ia melihat bahwa politik bukan hanya di parlemen atau istana, melainkan di setiap interaksi manusia.

Ia akhirnya menyadari:

Politik bukan sekadar ambisi menjadi pengusaha, bukan sekadar demo di jalan, bukan pula sekadar angka IPK di rapor.

Politik adalah perjalanan spiritual: menghubungkan teori dengan pengalaman, menghubungkan ideal dengan realitas, menghubungkan manusia dengan manusia.

Anak muda itu tersenyum. Ia bukan lagi “si anak IPA yang tersesat di jurusan politik.”

Ia kini adalah seorang perantau yang menemukan makna di jalan politik—jalan yang keras, pernah penuh asap gas air mata, tapi juga penuh cahaya renungan atau pun meja kerja bersih di ruangan berpendingin tapi penuh was-was.

15 tahun yang sudah berlalu. Perantau itu tentu saja bukan aku.***


*Penulis : Rozi H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...