Langsung ke konten utama

Ojol Mau Kerja

Pepe melaju pelan di jalan raya, seragam ojol hijau-oranye melekat di tubuhnya. Di belakang, seorang penumpang menempel erat sambil sibuk dengan ponsel.

Saat berhenti sebentar di depan gang, seorang tetangga menyapa.

“Pe, mau ke mana? Udah dapat kerjaan belum?”

Pepe cuma cengar-cengir.

“Lah, ini kan bawa penumpang. Lagi kerja, Bu. Hehe.”



Tetangganya balas senyum kecut, seolah jawaban itu tak cukup meyakinkan.

---

Selesai mengantar, Pepe mampir ke warung kopi. Ia menyulut rokok, menyesap teh manis hangat. Dari kejauhan, terdengar teriakan rombongan buruh berbaris menuju Istana Negara.

Di sebelahnya, dua pegawai kantoran juga sedang rehat.

“Wah, ngapain sih buruh demo? Bikin macet jalan aja,” kata pegawai pertama sambil geleng-geleng.

Pegawai kedua menimpali, “Biarin. Kalau tuntutan mereka dikabulkan, kita juga ikut ngerasain kok. UMR naik, BPJS jelas, outsourcing dihapus. Tapi ya… itu perjuangan mereka, bukan kita.”

Pepe menghela napas. Dalam hati ia bergumam: Kalau buruh aja masih dianggap bukan pekerja, terus ojol kayak gue ini apa? Tukang main game di jalanan?

---

Matanya berkeliling. Di seberang, ada pedagang rokok melayani pembeli. Tak jauh, wartawan sibuk melaporkan keramaian. Seorang pria lain mengetik cepat di laptopnya—kerja jarak jauh, mungkin. Semua tampak sibuk dengan “kerjanya” masing-masing.

Pepe menunduk pada ponsel. Di grup Facebook ojol ada pertanyaan:

“Hay kawan-kawan, mending saya aplikasi oren apa kerja ya?”

Pepe tertawa kecil. Lah, yang bikin status ini nggak sadar apa? Aplikasi oren itu juga kerja, sama kayak hijau, kuning, atau biru. Kecuali kalau pertanyaannya: mending ngopi, tidur, main gaplek apa kerja ya… nah baru nyambung.

---

Lamunan Pepe buyar saat mendengar suara familiar.

“Eh, lau Pe! Dari tadi gue kira siapa yang berisik dalam hati,” seru seseorang dari balik meja kasir warung.

Pepe menoleh. “Lah, Jek? Lu sekarang di sini aja, belum kerja lagi?”

Temannya tertawa keras.

“Bego! Gue yang punya warung ini!”

Pepe garuk kepala, lalu ngakak.

“Oh iya juga ya… wkwkwk.”

Dan di antara kepulan asap kopi dan hiruk pikuk demo di jalan, Pepe sadar satu hal: ternyata pengertian “kerja” sering kali lebih rumit daripada sekadar seragam, kantor, atau gaji bulanan. Kadang, kerja itu ya… sesederhana bikin orang lain salah paham.

"Yang penting jangan kebanyakan ngelamun jorok aja kali ye. Hehe."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...