Langsung ke konten utama

Warung Kopi atau Warung Ojol?

Konflik kecil antara pemilik warung kopi dan pengemudi ojek online kembali mengemuka. Pemilik warung merasa rugi karena banyak ojol nongkrong berlama-lama hanya dengan membeli secangkir kopi murah. Sebaliknya, sebagian ojol merasa kehadiran mereka justru membantu warung tetap terlihat ramai.

Kenyataannya, masalah ini tidak sesederhana “ojol merugikan warkop”. Sepinya warung dapat dipengaruhi banyak faktor: kualitas rasa, kenyamanan ruang, pemilik warkop tidak akrab hingga perilaku pelanggan lain, bisa ojol bisa juga gerombolan orang nongkrong yang lain. 

Tuduhan sepihak terhadap ojol bisa jadi hanyalah cara mudah untuk mengalihkan persoalan.

Apa ojol merasa asyik nongkrong berlama-lama karena bisa ngecas ponsel gratis dengan waktu yang lama? Bila begitu, pemilik warkop tinggal mencabut colokan listrik. Tapi masalah tidak sesederhana itu. Titik lokasi warkop bisa jadi spot gacor untuk mendapatkan order.

Hubungan ojol dan warkop juga tidak selalu bersifat saling bergantung. Ojol bisa mencari titik lain untuk menunggu orderan, sementara warkop dapat mengandalkan pelanggan di luar komunitas ojol. Bahkan posisi keduanya bisa bergeser: suatu saat ojol dapat membuka warung sendiri, sementara pemilik warung terdorong menjadi ojol.

Tapi tunggu dulu. Apakah sifat akan sama setelah posisi pindah? Mantan ojol yang buka warkop pun tidak otomatis senang kalau banyak abang-abang ojol pada nongkrong tapi gak jajan. Setiap pemilik usaha tidak mau rugi. Itu sifat manusiawi.

Karena itu, problem nongkrong-tapi gak jajan ini sebaiknya tidak dilihat sebagai konflik antara dua pihak, melainkan sebagai persoalan tata ruang dan perilaku oknum. 

Tata ruang gabungan warkop yang nyaman, bisa ngecas ponsel, kursi panjang, tersedia asbak dan tidak ada warkop lain di sekitarnya. Sementara abang ojolnya lagi tak anyep, tak main tuyul dan semoga saja tidak main judi online. 

Kalau pemilik warkop yakin lokasinya nyaman dan bisa menarik pelanggan lain, usir paksa saja ojol yang sudah buat tidak nyaman?  

Daripada saling menyalahkan. Warkop dapat mengubah strategi—memperluas fungsi menjadi yang lain. Menjadi konter pulsa, kelontong, atau depot galon. Itu pun kalau mau. 

Sementara komunitas ojol perlu menjaga sikap agar tetap diterima di ruang sosial. Tak sadar kah kita sudah menindas orang lain saat eksistensi kerja kita ingin diakui secara sosial?

Dengan begitu, ketegangan sederhana tidak berkembang menjadi stigma dan saling tuduh yang berkepanjangan.

Maka kita akhiri saja polemik ini pakai cara biasa. Pemilik menutup warung dan "silahkan cabut bang ojol, keliling cari orderan."***

*penulis: Rozi H.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...