Langsung ke konten utama

DPR, Joget , dan Marah yang Tak Pernah Usai di Media Sosial


Oleh : Rozi H.

Belakangan media sosial ramai memperbincangkan video anggota DPR yang terlihat berjoget. Beberapa memang, tidak semua.Di saat yang sama, publik sedang dirundung isu kenaikan biaya pajak bumi dan bangunan (PBB) serta kabar gaji anggota yang naik. Reaksi warganet pun meledak: kemarahan, sindiran, hingga tuntutan agar DPR dibubarkan.

Fenomena ini memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar perilaku berjoget. Dalam kondisi ekonomi sulit, rakyat semakin sensitif terhadap simbol. Joget di ruang publik bisa dimaknai sebagai bentuk selebrasi atas kenaikan gaji. Tetapi mungkin tidak ada kaitannya sama sekali. Namun hal ini menandakan kurang etisnya sebagai Lembaga yang diartikan-mewakili rakyat. Dengan kata lain, yang dipersoalkan bukan hanya tindakan, tetapi juga tanda yang melekat padanya.

Sejak lama, citra DPR sudah lekat dengan stigma negatif: korupsi, absen sidang, hingga keputusan yang tidak pro rakyat. Maka, setiap perilaku “tidak biasa” akan langsung dilabeli sebagai tidak etis. Rakyat tidak lagi memberi ruang tafsir positif. Di titik ini, DPR sebenarnya perlu lebih hati-hati: simbol kecil bisa memperbesar jurang antara wakil rakyat dan rakyat yang diwakili.

Namun, ada hal lain yang jarang disadari. Media sosial bukan hanya cermin kemarahan rakyat, melainkan juga arena manipulasi. Bukan ruang hampa. Sejarah mencatat, setiap perlawanan selalu ada "penggerak". Ada kemungkinan kemarahan sengaja dipantik dan diperbesar oleh si penggerak, entah untuk keuntungan finansial (konten adsense yang viral) atau kepentingan politik tertentu. Siapa penggeraknya? Dalam dikotomi aksi rakyat vs elit dan elit vs sesama elit. Bisa jadi aksi-aksi rakyat vs elit selalu ditumpangi oleh elit yang lain. Dengan kata lain, “penumpang gelap” ikut menyalakan api di tengah keresahan publik.

Masalah mendasarnya adalah relasi yang retak antara pemerintah, DPR, dan rakyat. DPR sering kali berperan sebagai kepanjangan tangan pemerintah, bukan sebagai representasi rakyat. Contohnya jelas terlihat saat pengesahan Omnibus Law yang dilakukan secara tergesa dan minim partisipasi publik pada beberapa tahun silam. Maka tak heran jika rakyat memiliki ingatan kolektif dan merasa tidak memiliki wakil sejati di parlemen.

Ironisnya, sikap rakyat sendiri kerap terjebak dalam siklus tanpa ujung. Kritik terhadap DPR terus menggema di media sosial, tetapi jarang berbuah tindakan nyata di ruang politik praktis. Setiap pemilu, wajah DPR tetap sama. Bahkan wacana boikot pemilu hampir mustahil dilakukan karena regulasi mewajibkan partisipasi, dengan ancaman pidana bagi yang mengajak golput. Kita sudah sadar pemilu nanti akan berpotensi menghasilkan anggota legislatif yang buruk. Artinya kemungkinan ada peluang melahirkan pengkhianat rakyat. Di sistem demokrasi yang buas dan politik transaksional, siapa pun bisa tergoda sebagai kepanjangan tangan kelas yang berkuasa. Anda jujur, anda akan tersingkir bahkan terancam hidupnya.

Kritik pun akhirnya menjadi semacam “ritual digital” yang melegakan emosi, tetapi tidak mengubah realitas. Kita bersatu saat marah. Teriakkan bubarkan Lembaga DPR menggema atas nama benci, namun kita sendiri menginginkan rehabilitasi terhadapnya. Sebuah simptom/gejala pengulangan pola yang sama. Siapa yang bubar? Atau kemarahan spontan yang tidak akan pernah selesai?

Jika demikian, apa yang bisa dilakukan? Pertama, DPR perlu menyadari bahwa legitimasi mereka rapuh. Kehati-hatian dalam bertindak di ruang publik adalah keharusan, apalagi ketika rakyat sedang menderita. Kedua, masyarakat perlu menggeser energi marah dari sekadar kritik simbolik menuju praksis yang lebih nyata: literasi politik, advokasi publik, hingga dorongan aksi-aksi lintas sektor (tidak ada sekat pemisah misalnya, perempuan, mahasisiwa, pedagang, wartawan, buruh, ojol, petani, manajer sampai pengangguran).

Apabila kita memang "masih cinta", masyarakat bisa mendorong reformasi sistem pemilu agar benar-benar menghadirkan representasi.

Pada akhirnya, marah kepada DPR memang wajar. Tetapi tanpa arah yang jelas, marah hanya akan berputar-putar dalam siklus yang sama: rakyat kecewa, DPR joget, netizen ribut, lalu lupa. Yang dibutuhkan bukan sekadar marah, melainkan jalan politik baru yang melibatkan rakyat lebih luas dan lebih dalam. Dengan melampaui emansipasi alam demokrasi yang binal, transaksional dan penuh tipuan.***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...