Langsung ke konten utama

Kaki yang Berpijak, Akar yang Merantau

Biasanya orang-orang pergi ke kota untuk kehidupan yang lebih baik. Rela meninggalkan zona nyaman untuk kebutuhan hidup. Jauh dari rumah, orang tua sampai teman-temannya. Begini lah hidup, apapun dilakukan demi sebuah pencarian.

Apa jadinya tiba-tiba arus berbalik.

Bermula saya mengganti nama di akun whatsapp jadi Iroz. Saya berasal dari Jakarta-ralat ciledug, namun berani-beraninya nekat merantau ke pulau seberang. Lebih tepatnya ke kota Padang. 

Biasanya kan orang dari suku Minangkabau pada rantau ke Jakarta—jadi pedagang, buka rumah makan, atau sekadar mencari kerja. Lah ini kebalik, orang gak punya suku-ngaku-ngaku Betawi yang sok-sok-an nyebrang ke Ranah Minang. Alasannya sederhana: nemenin istri lahiran di kampung kelahirannya. Sekalian lah saya nyari kerja.

Eh, keterima dong jadi sales. Waduh, keos gue! Nggak bisa bahasa Minang, kagak hapal jalan, pengalaman sales terakhir aja jeblok penjualan. Mana ditempatin pula di daerah paling ujung: Pauh sama Lubuk Kilangan. 

Orang Padang pasti tahu wilayah ini. Tiga puluh menit lah dari pusat kota. Seribu koma empat setengah jam dari pusat peradaban atlantis. 

Dengan bermodal dengkul, saya berani menaklukan rasa takut jadi takut beneran. Tapi ternyata ketakutan tuh cuma bisa ditaklukin kalau kita berani ngerasain takut duluan. Eh ternyata orang-orang di kampung yang saya singgahi malah seneng saya pake bahasa Indonesia. 

Saya sudah takut-takut "indak pandai baso minang lai", kadang-kadang saya coba berbahasa minang. Eh malah yang terdengar (mungkin) bagi orang warung seperti: Uia....Uia...Ui....

Kenyataannya meskipun saya cuma bisa ngangguk-ngangguk metal, mereka tetap menilai saya dari sopan santun. Pembawaan saya katanya adem, nggak meninggi, bukan stereotip anak gaul jakarta, yang sering ngomong gue-elu. Padahal saya sendiri sering manggil temen "coy" atau "ler".

Ternyata dagang lumayan lancar ternyata loh. Yah, kadang nombok juga sih, huhu. Beberapa pembeli bangga cerita kalo mereka pernah ke Jakarta atau ada sodara di sana.

Eh tapi jangan kira semuanya manis. Di kantor, kawan-kawan kerjanya ramah, tapi suka usil manggil saya: “Jawa, Jawa, Jawa.” 

Awalnya risih. Di Jakarta mah, kawan lintas suku udah biasa—Batak, Sunda, Minang, Papua, semua campur. Kalau kita rasis malah dianggap aneh. Kadang malah kita sama-sama ngaku “Betawi” biar gampang, haha.

Tapi saya sadar itu cuma becandaan. Sama aja kayak orang Jakarta nyebut semua orang Minang itu “orang Padang.” Padahal kan Minang banyak: Solok, Payakumbuh, Padang Panjang, Agam, entah apa lagi. Apalagi di Kota Padang sendiri, penduduknya campur-campur—Medan, Nias, Bugis, Jawa juga ada. Intinya, nggak semua orang Padang itu Minang, dan nggak semua orang Minang itu Padang. Tapi bahasa Minang-lah yang bikin mereka menyatu.

Nah, kalau sama-sama orang Minang terus coba-coba pakai bahasa Indonesia, bisa diejek. Katanya sombong, sudah lupa identitas. Bahasa Indonesia dianggap bahasa “kekuasaan.” Jadi wajar kalau saya yang fasih Indonesia dipanggil “Jawa.” Maksudnya mungkin biar saya jangan lupa: ada identitas lokal yang mesti dihormati.

Di tempat kerja, saya lebih sering diam. Meskipun sering juga garuk-garuk kaki. Padahal di Jakarta...beh...pendiam juga sih. Meskipun bukan diam-diam nahan berak. 

Dulu saya tukang ngoceh pas kuliah: suka demo, nulis status panjang di FB, isinya kritis-kritis tapi dompet tipis, wkwk. Mengapa di dunia kerja jadi pendiam?

Terkadang saya tidak suka atasan yang berlindung di otoritas tapi kualitas ENOL. Prinsip saya sederhana: jangan mau diatur sama orang yang lebih goblok dari kita.

Tapi di Padang ini, saya nggak pernah sampai berantem sama atasan. Atasan baik kok. Yah kadang-kadang ribut-ribut kecil biasalah. Misalnya debat bola, pegang Real Madrid apa Barcelona, pilih Ronaldo atau Messi dan yang paling gak masuk akal, dukung Trump apa Chris John. 

Paling debat kecil. Teman-teman lebih milih diam, tapi karena saya lahir dari tradisi forum diskusi, jadi nggak bisa telan bulat-bulat disuruh-suruh yang nggak masuk akal. 

Yah, lama-lama itu bikin saya nggak nyaman juga. Tapi itu bukan alasan saya yang memutuskan untuk tidak lanjut kerja pada akhirnya.

Saya sering ditanya: lebih enak mana, Padang atau Jakarta? Pertanyaan itu mengingatkan saya waktu ban sepeda motor nyusruk kena tayik kebo di hamparan sawah yang elok.

Enak apaan. Emangnya Kota Padang atau Jakarta bisa dimakan? Lah, kota mah bukan makanan. Tapi kalau makanan, gampang jawabnya: yang penting yang gratis, wkwk. 

Kalau disuruh milih, jujur aja, saya nggak pilih Padang atah Jakarta juga. Saya pilih Depok. Lah wong rumah saya deket perbatasan Depok-Bogor, bukan tengah Jakarta.

Akhirnya saya sadar, perbandingan “lebih enak mana” nggak relevan. Kita harus tanggung jawab di mana kaki berpijak. Sekarang kaki saya lagi nempel di Padang. Kerja nggak tetap: kadang ojol makanan, kadang pengawas buruh kapal, kadang nulis riset politik, kadang nganter galon pakai becak.

Saya mungkin sudah tidak bekerja di kantoran lagi. Tapi ibarat pohon, akar saya tertinggal di kota lahir saya. Kota Padang sudah memberikan banyak makna, tapi saya harus kembali.

Mungkin saat saya tiba di Jakarta. Kota tersebut bisa saja tak lagi sama. Atau ketika saya balik lagi ke Padang, pasti suasana sudah berbeda.

Dimana pun saya berada, yah tetap beginilah saya: kadang serius, kadang gokil.***

penulis : rozi h.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...