Langsung ke konten utama

Ojol, Jaket dan Martir yang Bukan Siapa-siapa

Turut berduka cita yang mendalam atas apa yang dialami rekan ojek online yang harus meregang nyawa akibat ditabrak-dan dilindas secara brutal oleh mobil rantis (kendaaan taktis) aparat brimob pada kamis malam, 28 Agustus 2025. 

Akibatnya reaksi muncul dari ratusan sesama driver ojol sebagai tindakan solidaritas dengan mendatangi mako brimob di sekitaran jakarta.

Ojek online atau ojol yang kita ketahui selalu dianggap sekadar kurir aplikasi: bekerja tanpa kontrak, dibayar per pesanan, dan dilupakan setelah log out. Namun jaket mereka bukan hanya seragam; ia menjelma tanda solidaritas di jalan. Dengan jaket itu, seorang driver bisa dikenali saat menolong korban kecelakaan, membantu sesama yang mogok, bahkan ikut membantu menghajar kriminal di jalan. Jaket adalah simbol kehadiran kelas pekerja jalanan yang terus bergerak.

Ketika tragedi menimpa seorang ojol yang dilindas kendaraan aparat, luka itu bukan hanya pada tubuh, melainkan pada simbol solidaritas itu sendiri. Yang membuat ironi semakin getir: bisa jadi korban bukan pendemo, melainkan driver yang sekadar mengantar pesanan, terjebak di antara aparat dan massa. Sejarah sering menunjukkan, martir lahir dari mereka yang tidak dianggap siapa-siapa.

Inilah wajah ketidakadilan struktural. Negara gagal membedakan siapa perusuh dan siapa rakyat pekerja. Padahal koruptor, rampok dan begal uang negara lah yang lebih rusuh daripada anak stm yang turun ke jalan membela guru nya yang dianggap "beban negara".

Bagi sistem represif, semua tubuh yang berada di jalan disamaratakan, tak peduli bahwa ada yang sekadar mencari nafkah. 

Gig economy-istilah sistem kerja yang melibatkan kontrak jangka pendek aau sementara- memperlihatkan kerapuhan ini dengan telanjang: kerja keras tanpa jaminan, eksistensi tanpa pengakuan, dan nyawa yang bisa hilang sering kali cepat dilupakan dengan berlindung dari kata "maaf" tanpa mengakhiri akar masalah tersebut.

Ojol bukan sekadar "pekerja aplikasi". Mereka adalah bagian dari ruang publik, saksi dan korban dari kekerasan struktural. Dan sekali lagi, sejarah membuktikan: seringkali yang menjadi martir perjuangan adalah mereka yang bahkan bukan siapa-siapa.

Selama ini yang dianggap bukan siapa-siapa, justru yang memantik energi solidaritas tanpa batas.***

penulis: rozi h.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Ironi Solidaritas: Aktivis, Borjuis dan Kita

Kita sering memulai dari buku. Dari Marx yang bicara tentang kelas, dari Kropotkin yang mengidealkan solidaritas, dari Lenin yang menekankan disiplin partai, sampai Derrida yang mengajarkan dekonstruksi terhadap segala struktur mapan.  Di halaman-halaman itu, dunia tampak jelas: ada yang menindas, ada yang ditindas; ada solidaritas, ada pengkhianatan. Jika teori dijalankan, maka perubahan besar bisa lahir. Namun, begitu teori itu masuk ke dunia nyata, ia seperti mengalami gempa.  Siapa yang menyangka dari peristiwa sepele: Pengalaman pahit memang bila seonggok charger HP baru ditukar seenaknya dengan yang sudah usang.  Anehnya, orang-orang di sekitar malah membela si penukar—hanya karena ia teman dekat. Solidaritas yang katanya “setia kawan” ternyata hanya berlaku untuk melindungi kawan yang salah, bukan untuk menegakkan prinsip. Hal yang remeh padahal. Yang bikin sedih adalah, mereka adalah anggota serikat buruh-merah yang pasti hafal luar-dalam teori progresif. Di titik...