Langsung ke konten utama

Para Penitip Nasib

Pagi itu, kantin kampus ramai oleh obrolan soal rencana aksi. Puluhan mahasiswa anggota BEM sudah bersiap: spanduk, toa, dan selebaran bertuliskan “Tolak Pendidikan Mahal! Turunkan Menteri Pendidikan!”.

“Bro, ayo ikut turun ke jalan. Kalau diem aja, kapan kuliah kita murah?” seru seorang aktivis.

Beberapa mahasiswa mengangguk bersemangat. Tapi tidak sedikit yang menolak.

“Aduh, gua ada kuis nanti. Lagi pula demo nggak selalu ada hasilnya,” jawab seorang mahasiswa dengan ragu.

Mereka yang menolak diejek, “Dasar penitip nasib! Enak banget cuma duduk di kelas, biarin kami yang teriak di jalan.”

Di tengah keramaian itu, seorang mahasiswa yang awalnya enggan akhirnya luluh.

“Yaudah deh, ikut. Tapi absen kuliah gua gimana, bang?”

“Titip aja sama temen lo. Lah, penitip nasib juga jadinya,” sahut yang lain sambil tertawa.

---

Siang itu, massa mahasiswa berbaris di depan Gedung DPR. Panas terik tak menghalangi teriakan mereka.

“Toa! Toa!” teriak koordinator lapangan. Suara membahana:

“Apakah kalian pejabat pro rakyat? Kami mahasiswa menitipkan nasib kami pada kalian! Berikan pendidikan yang lebih baik!”

Terjadi ironi: mereka mengecam kekuasaan, tetapi pada saat yang sama menitipkan harapan pada orang-orang di balik pagar besi.

Seorang mahasiswa yang ikut karena solidaritas terdiam. Dalam hati ia bertanya:

“Di kelas, aku menitip absen pada kawan. Di jalan, aku menitip suara pada massa. Di hadapan negara, aku menitipkan masa depanku pada pejabat. Jadi... siapa sebenarnya penitip nasib itu?”

---

Malam hari, aksi bubar. Mahasiswa kembali ke kos-kosan, lelah dan lapar. Tapi kata-kata itu masih terngiang: penitip nasib.

Mungkin label itu bukan hinaan untuk yang malas ikut. Mungkin kita semua, dengan cara masing-masing, sedang menitipkan nasib: pada teman, pada gerakan sosial, pada negara.

Dan mungkin, titipan itu tak pernah benar-benar kembali pada pemiliknya.***

*penulis : Rozi H.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

ROMEO DAN OPERASI PEMBEBASAN MANTAN

Kalau kamu sekarang merasa jadi orang yang paling tidak beruntung dalam menjalani kisah cinta di dunia yang fana ini, lebih baik kamu membaca ulang sebuah cerita karangan terkenal oleh seorang penulis sandiwara dan aktor berkebangsaan Inggris yang sangat populer, William Shakespeare (1564-1616). Sudah ketebak, pasti yang akan dibicarakan adalah sebuah kisah cinta dari karya “Tragedi Romeo dan Julia (Juliet)”. Apa sih isinya? klimaks dalam cerita  tersebut adalah Romeo yang mati meminum racun dan Juliet yang menusuk dirinya sendiri dengan pisau belati. Jadi cerita nya Romeo kaget setengah mati melihat si Juliet yang tergeletak tak berdaya dan dikira sudah modar (padahal cuma kecapekan habis mencuci baju). Merasa kehilangan harapan hidup karena dikira Juliet sudah tiada, akhirnya Romeo pun memutuskan untuk meminum racun obat panu yang baru dipakai oleh Juliet. Eh, Juliet nya ternyata malah bangun dan kaget melihat Romeo yang keburu tepar. “Romeo kamu kenapa minum obat panu? i...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...