Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Si Paling Teks dan Wahabi Lingkungan

Malam itu, di studio dingin Kompas TV, perdebatan tentang tambang nikel berubah menjadi semacam sandiwara semantik. Seorang aktivis lingkungan—yang sehari-harinya bertemu sungai berwarna logam, tanah terkelupas, dan hutan yang hilang seperti rambut rontok era modern—duduk dengan tenang.  Wajahnya adalah campuran antara kesabaran dan keletihan: lelah harus terus menjelaskan bahwa kerusakan itu nyata. Di seberangnya, seorang tokoh ormas keagamaan besar duduk rapi, membawa wibawa moral yang licin dan diksi-diksi seminar yang lajunya mengalir lebih lancar daripada sungai-sungai yang kini berubah coklat pekat. Lalu muncullah istilah yang aneh sekaligus lucu: aktivis itu disebut seperti “ingin pemurnian teks”, bahkan cenderung “Wahabi lingkungan”. Padahal ia tidak sedang memegang kitab suci ekologis; ia memegang laporan lapangan, foto udara, dan video sungai yang mati. Istilah itu seperti dilempar dari mulut yang lebih terbiasa memurnikan dokumen ketimbang memurnikan udara. Justru ironi ...

Ketika Hiper-Logika Lebih Mistis dari Hantu Itu Sendiri

Ada masa ketika kepercayaan tentang dunia gaib berpindah dari cerita nenek, kasak-kusuk kampung, suara musang yang dikira kuntilanak, atau potongan video kabur penuh “semut”.  Di masa itu, pesan bisa berubah sesuai siapa yang menceritakan: makin jauh dari sumber, makin absurd. Sekarang? Dunia digital membalik keadaan. Konten horor muncul berkali-kali lipat lebih banyak, diproduksi tanpa henti oleh para pemburu viewer, kreator yang mengejar adsense, dan editor yang memoles suara jangkrik sampai terdengar seperti tangisan. Andaikan video seorang anak yang dikutuk jadi ikan pari tersebar hari ini, apakah view-nya bisa lebih banyak dibandingkan video lainnya tentang seorang pelatih paus orca yang dimangsa oleh peliharaannya sendiri? Ledakan Horor Digital dan Lahirnya Manusia Hiper-Logika Inilah era ketika horor menjadi industri. Ketika “pengalaman mistis” dipaketkan dalam format 60 detik lengkap dengan judul bombastis seperti “Jangan Nonton Jam 3 Pagi”, padahal isinya mungkin hanya kuc...

Pahlawan di Negeri yang Tak Punya Ingatan

Tiba-tiba lawak.   Kadang sejarah terasa seperti sebuah lelucon panjang yang tidak pernah tamat, seperti sinetron dengan plot yang terus diulang tapi para pemainnya berganti wajah. Tahun 2025, kita menyaksikan babak baru dari serial “Indonesia Hebat”: pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional , dan entah bagaimana, dalam daftar yang sama, ada juga nama Marsinah , buruh perempuan yang mati mengenaskan karena melawan ketidakadilan pada masa yang sama. Siapa yang menulis naskahnya, tapi naskah ini jelas punya selera humor yang tinggi—dan gelap. Sebab bagaimana mungkin sejarah yang berdiri di dua kutub bisa disatukan dalam satu piagam kehormatan yang sama? Seolah-olah negara sedang bercanda sambil menepuk bahu rakyatnya, berkata: “Sudahlah, semua punya jasa. Pelaku dan korban pun bisa berdamai—asal sudah wafat.” Di masa Orde Baru, Soeharto dikenal sebagai Bapak Pembangunan , julukan yang bahkan kini masih terngiang di telinga sebagian orang tua kita dengan nada nostalgia. ...

Alasan Kita Harus Mendukung Pak Harto Jadi Pahlawan dan Sikap Masyarakat Avengers

Kalau Marvel punya Avengers Initiative, Indonesia punya Pahlawan Nasional Initiative. Di sana, para Avengers bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran; di sini, pahlawan nasional sering justru dipilih dari mereka yang pernah menciptakan kehancuran, lalu dianggap berjasa karena berhasil mengendalikannya. Dan kini, kandidat terbarunya: Bapak Soeharto. Bapak pembangunan, bapak stabilitas, bapak segala bapak. Mantan presiden RI ke-2 ini kembali ramai dibicarakan karena wacana pemberian gelar pahlawan nasional. Begitu wacana itu mencuat, negeri ini langsung pecah jadi dua kubu: yang mendukung dengan air mata nostalgia, dan yang menolak dengan nada moral tinggi. Kubu pertama bicara soal “jasa besar”: swasembada pangan, infrastruktur, harga stabil, dan rasa aman (yang sebenarnya lebih mirip rasa takut). Kubu kedua bicara soal tragedi 1965, penculikan aktivis, pelanggaran HAM, pembungkaman pers, hingga kehancuran lingkungan akibat industrialisasi serampangan. Tempo (2023) menulis, sebagian ...

Influencer Progresif dan Luka Lama Gerakan Sosial : Sebuah Tanggapan Tulisan

Mungkin memang ada semacam alergi yang belum sembuh di tubuh gerakan progresif kita setiap kali mendengar kata “influencer.” Istilah itu, dalam banyak kepala yang terbentuk oleh romantisisme aktivisme klasik, segera diasosiasikan dengan segala yang dangkal, banal, dan terkooptasi oleh algoritma kapitalisme digital.  Maka ketika muncul sosok-sosok yang mengusung wacana keadilan sosial, kesetaraan gender, atau demokrasi radikal lewat media sosial—dan kemudian jadi viral—refleks pertama sebagian kalangan adalah curiga: “itu bukan gerakan sejati, mereka tidak memiliki agenda ideologis yang jelas untuk disalurkan. Mereka itu cuma kelas menengah tanpa arah.” Namun, apakah benar semua yang viral otomatis kehilangan nilai politisnya? Bukankah dalam dunia yang kini dikendalikan oleh atensi, justru ruang viral itulah medan baru pertarungan ideologis? Tulisan Indoprogress tentang “Aksi Para Aktivis 178 dan Problem Gerakan Kelas Menengah” https://indoprogress.com/2025/10/aksi-para-aktivis-178-...

Menolak Stoikisme Pasif dalam Kontra-Politik: Studi atas Demokrasi Indonesia Kontemporer

Filsafat selalu menjadi cermin bagi zaman. Ketika dunia modern dilanda ketidakpastian, ketegangan sosial, dan kemerosotan moral politik, banyak orang kembali mencari pelipur batin pada ajaran lama—salah satunya Stoikisme.  Dalam beberapa tahun terakhir, Stoikisme menjelma menjadi “spiritualitas rasional” baru bagi masyarakat urban. Buku-buku seperti Meditations karya Marcus Aurelius kembali dicetak ulang, sementara berbagai kanal media sosial menyebarkan kutipan Epictetus atau Seneca dengan pesan menenangkan: kendalikan diri, jangan terpengaruh hal di luar kendali, dan fokus pada kebajikan pribadi. Namun, di balik daya tarik itu, terdapat problem serius ketika Stoikisme dipahami secara sempit: ia berpotensi menumbuhkan sikap pasif terhadap realitas politik dan sosial. Di tengah krisis demokrasi Indonesia yang semakin nyata sejak 2014—ketika kebebasan sipil menurun, pelanggaran hak asasi meningkat, dan ruang publik dikooptasi—sikap stoikisme pasif dapat berperan sebagai ideologi yan...

Seni Membaca Ketidakmungkinan: Filosofi Absurd dan Proyek Anti Mager

Jika kamu disuruh bos untuk menyelesaikan target bulanan hari ini padahal masih sisa 10 hari lagi, apakah itu mungkin? Oh tidak, gigi saya semakin ketombean memikirkannya. Target itu seperti jerawat di jidat: muncul di saat yang salah, mengganggu kepercayaan diri, tapi entah kenapa dianggap wajar oleh orang-orang yang tidak pernah mengalaminya. Sore ini saya duduk di warung mie ayam, mangkok mengepul di depan mata. Tapi kepala saya penuh angka target bulanan. Mungkin nggak ya target bos bisa selesai hari ini? Otak saya muter kayak kipas angin low watt: panas, berisik, tapi nggak banyak guna. Tepat saat saya masih bengong-bengong bego, tiba-tiba suara dari meja sebelah menyambar realitas saya. “Mah, kok ada batu kecil sih di mie ayam ini?” protes seorang bocah perempuan dengan muka polos, tapi dengan nada seperti sedang membuka pintu dunia lain. Emaknya mendekat, panik, lalu berkata dengan suara setengah berbohong, “Itu bukan batu, Nak… itu bumbu yang keras.” Saya hampir tersedak kuah. ...

“Menjadi Bangsa Saiyan: Belajar Dialektika dari Son Goku”

Apa jadinya kalau Dragon Ball dibawa ke warung kopi? Melalui dialog antara seorang ojol dan sales, kita belajar bahwa logika dialektika ala Hegel, Marx, hingga Tan Malaka ternyata hidup dalam tubuh bangsa Saiyan. Sore itu hujan baru saja reda. Asap rokok bercampur bau kopi hitam memenuhi udara warung kecil di pojokan jalan. Pepe, seorang ojol yang baru kelar narik, duduk leyeh-leyeh sambil mengipas jaketnya yang basah. Motor diparkir seadanya di depan, helm masih meneteskan air. Di seberang meja, datanglah Iroz, sales keliling yang wajahnya kusut tapi matanya tetap menyala. Ia menaruh tas selempang berisi brosur produk rumah tangga yang sudah lusuh di kursi sebelah. “Capek, Roz. Tadi dapet orderan, dianter jauh, pas sampe malah dibatalin. Rasanya pengen nge-ki blast ke rumah customer,” keluh Pepe sambil menyesap kopi. Iroz ngakak, “Kalau bisa ki blast, lu udah jadi Super Saiyan ojol, Pep. Target gue juga gila, tiap hari ditolak. Kadang pengen gue final flash atasan gue sendiri.” Mereka...

Pemimpin, Warkop, dan Bayangan Filsafat yang Mabuk Kopi

Obrolan biasanya dimulai dari rokok yang masih banyak dan gelas kopi yang tinggal setengah... Pepe sedang sibuk meniup gelas kopi hitamnya yang masih panas. Sementara itu, Iroz duduk di seberang, mengunyah gorengan yang bahkan sudah dingin sejak subuh tadi. Seperti biasa, topik mereka tak pernah ringan. Orang lain mungkin membahas skor bola atau utang warung, tapi Pepe dan Iroz lebih suka menabrak pikiran: filsafat, politik, sampai gosip tentang pemimpin yang katanya sakti. “Roz,” kata Pepe sambil melinting rokok, “aneh ya, ada pemimpin yang kharismanya gede banget, massa loyal mati-matian, tapi nggak bisa dikritik. Orang luar bilang dia keras kepala, hedon, bahkan istrinya lebih dari satu. Tapi bagi pengikutnya, dia tetap bagai nabi kecil—gak pernah salah, gak pernah gagal.” Iroz mendengus, “Itu kan klasik, Pep. Manusia cari figur buat dituhankan. Kayak kucing kalau dikasih makan, pasti balik lagi ke rumah kita. Bedanya, manusia lebih ribet, sambil bawa bendera dan orasi.” Pepe nyengi...

Demokrasi Hari Ini: Bukan Sebuah Buku yang Membeku Atau Rakyat Khilaf

Apakah Demokrasi Hanya Ada di Buku ? Sering kali, demokrasi terasa seperti sebuah buku besar. Tebal, penuh jargon, diperdebatkan para elite dan intelektual di ruang seminar. Tapi setelah itu, seolah berhenti di sana. Kata-kata tentang partisipasi, kebebasan, dan kedaulatan rakyat membeku di kertas. Namun, jika kita menoleh ke kehidupan sehari-hari, justru rakyat kecil yang menjalankan semangat demokrasi. Tanpa menyebut teori, mereka hidup dengan prinsip partisipasi dan kebersamaan. Demokrasi yang Hidup di Desa Ambil contoh di Cilawu, Garut. Serikat petani pasundan (SPP) namanya. Di sana warga yang mayoritas petani membangun organisasi berbasis gotong royong. Mereka berbagi benih, saling membantu di sawah, dan mengambil keputusan bersama. Apakah mereka membaca teori demokrasi? Tidak. Tetapi praktik mereka jauh lebih dekat dengan demokrasi yang sejati: musyawarah, solidaritas, dan keadilan. Retakan Antara Intelektual dan Rakyat Mengapa ada jurang? Karena teori demokrasi sering dikemas de...

Bila Frieza Jadi Presiden: Membaca Dragon Ball Z Sebagai Refleksi Kekuasaan

Bayangkan: langit meledak oleh cahaya emas, bumi bergetar, dan seorang bocah desa dengan hati polos tiba-tiba menjelma jadi legenda yang menumbangkan tiran paling ditakuti di alam semesta.  Adegan Goku berubah menjadi Super Saiyan di hadapan Frieza, sang kadal luar angkasa bukan hanya klimaks sebuah pertarungan, tapi juga penggambaran bagaimana mitos kekuasaan bisa runtuh dalam sekejap. Seperti halnya diktator yang tampak abadi, Frieza tumbang bukan oleh pasukan besar, tapi oleh seorang anak yang lahir di pinggiran, yang bahkan tak pernah peduli pada politik. Dragon Ball Z bukan hanya kisah jurus pamungkas dan otot berotot. Ia adalah drama sosial tentang kekuasaan, kebenaran, dan kontradiksi politik-manusia.  Dari asal-usul Goku sebagai “penjajah” yang justru menjadi penyelamat, hingga Vegeta yang meledakkan dirinya demi harga diri dan keluarga, sampai Mr. Satan yang penuh kebohongan tapi justru diakui rakyat sebagai pahlawan—semuanya terasa sangat dekat dengan dunia nyata kit...