Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Seni Membaca Ketidakmungkinan: Filosofi Absurd dan Proyek Anti Mager

Jika kamu disuruh bos untuk menyelesaikan target bulanan hari ini padahal masih sisa 10 hari lagi, apakah itu mungkin? Oh tidak, gigi saya semakin ketombean memikirkannya. Target itu seperti jerawat di jidat: muncul di saat yang salah, mengganggu kepercayaan diri, tapi entah kenapa dianggap wajar oleh orang-orang yang tidak pernah mengalaminya. Sore ini saya duduk di warung mie ayam, mangkok mengepul di depan mata. Tapi kepala saya penuh angka target bulanan. Mungkin nggak ya target bos bisa selesai hari ini? Otak saya muter kayak kipas angin low watt: panas, berisik, tapi nggak banyak guna. Tepat saat saya masih bengong-bengong bego, tiba-tiba suara dari meja sebelah menyambar realitas saya. “Mah, kok ada batu kecil sih di mie ayam ini?” protes seorang bocah perempuan dengan muka polos, tapi dengan nada seperti sedang membuka pintu dunia lain. Emaknya mendekat, panik, lalu berkata dengan suara setengah berbohong, “Itu bukan batu, Nak… itu bumbu yang keras.” Saya hampir tersedak kuah. ...

“Menjadi Bangsa Saiyan: Belajar Dialektika dari Son Goku”

Apa jadinya kalau Dragon Ball dibawa ke warung kopi? Melalui dialog antara seorang ojol dan sales, kita belajar bahwa logika dialektika ala Hegel, Marx, hingga Tan Malaka ternyata hidup dalam tubuh bangsa Saiyan. Sore itu hujan baru saja reda. Asap rokok bercampur bau kopi hitam memenuhi udara warung kecil di pojokan jalan. Pepe, seorang ojol yang baru kelar narik, duduk leyeh-leyeh sambil mengipas jaketnya yang basah. Motor diparkir seadanya di depan, helm masih meneteskan air. Di seberang meja, datanglah Iroz, sales keliling yang wajahnya kusut tapi matanya tetap menyala. Ia menaruh tas selempang berisi brosur produk rumah tangga yang sudah lusuh di kursi sebelah. “Capek, Roz. Tadi dapet orderan, dianter jauh, pas sampe malah dibatalin. Rasanya pengen nge-ki blast ke rumah customer,” keluh Pepe sambil menyesap kopi. Iroz ngakak, “Kalau bisa ki blast, lu udah jadi Super Saiyan ojol, Pep. Target gue juga gila, tiap hari ditolak. Kadang pengen gue final flash atasan gue sendiri.” Mereka...

Pemimpin, Warkop, dan Bayangan Filsafat yang Mabuk Kopi

Obrolan biasanya dimulai dari rokok yang masih banyak dan gelas kopi yang tinggal setengah... Pepe sedang sibuk meniup gelas kopi hitamnya yang masih panas. Sementara itu, Iroz duduk di seberang, mengunyah gorengan yang bahkan sudah dingin sejak subuh tadi. Seperti biasa, topik mereka tak pernah ringan. Orang lain mungkin membahas skor bola atau utang warung, tapi Pepe dan Iroz lebih suka menabrak pikiran: filsafat, politik, sampai gosip tentang pemimpin yang katanya sakti. “Roz,” kata Pepe sambil melinting rokok, “aneh ya, ada pemimpin yang kharismanya gede banget, massa loyal mati-matian, tapi nggak bisa dikritik. Orang luar bilang dia keras kepala, hedon, bahkan istrinya lebih dari satu. Tapi bagi pengikutnya, dia tetap bagai nabi kecil—gak pernah salah, gak pernah gagal.” Iroz mendengus, “Itu kan klasik, Pep. Manusia cari figur buat dituhankan. Kayak kucing kalau dikasih makan, pasti balik lagi ke rumah kita. Bedanya, manusia lebih ribet, sambil bawa bendera dan orasi.” Pepe nyengi...

Demokrasi Hari Ini: Bukan Sebuah Buku yang Membeku Atau Rakyat Khilaf

Apakah Demokrasi Hanya Ada di Buku ? Sering kali, demokrasi terasa seperti sebuah buku besar. Tebal, penuh jargon, diperdebatkan para elite dan intelektual di ruang seminar. Tapi setelah itu, seolah berhenti di sana. Kata-kata tentang partisipasi, kebebasan, dan kedaulatan rakyat membeku di kertas. Namun, jika kita menoleh ke kehidupan sehari-hari, justru rakyat kecil yang menjalankan semangat demokrasi. Tanpa menyebut teori, mereka hidup dengan prinsip partisipasi dan kebersamaan. Demokrasi yang Hidup di Desa Ambil contoh di Cilawu, Garut. Serikat petani pasundan (SPP) namanya. Di sana warga yang mayoritas petani membangun organisasi berbasis gotong royong. Mereka berbagi benih, saling membantu di sawah, dan mengambil keputusan bersama. Apakah mereka membaca teori demokrasi? Tidak. Tetapi praktik mereka jauh lebih dekat dengan demokrasi yang sejati: musyawarah, solidaritas, dan keadilan. Retakan Antara Intelektual dan Rakyat Mengapa ada jurang? Karena teori demokrasi sering dikemas de...

Bila Frieza Jadi Presiden: Membaca Dragon Ball Z Sebagai Refleksi Kekuasaan

Bayangkan: langit meledak oleh cahaya emas, bumi bergetar, dan seorang bocah desa dengan hati polos tiba-tiba menjelma jadi legenda yang menumbangkan tiran paling ditakuti di alam semesta.  Adegan Goku berubah menjadi Super Saiyan di hadapan Frieza, sang kadal luar angkasa bukan hanya klimaks sebuah pertarungan, tapi juga penggambaran bagaimana mitos kekuasaan bisa runtuh dalam sekejap. Seperti halnya diktator yang tampak abadi, Frieza tumbang bukan oleh pasukan besar, tapi oleh seorang anak yang lahir di pinggiran, yang bahkan tak pernah peduli pada politik. Dragon Ball Z bukan hanya kisah jurus pamungkas dan otot berotot. Ia adalah drama sosial tentang kekuasaan, kebenaran, dan kontradiksi politik-manusia.  Dari asal-usul Goku sebagai “penjajah” yang justru menjadi penyelamat, hingga Vegeta yang meledakkan dirinya demi harga diri dan keluarga, sampai Mr. Satan yang penuh kebohongan tapi justru diakui rakyat sebagai pahlawan—semuanya terasa sangat dekat dengan dunia nyata kit...

Tertawa di Depan Cermin: Aktivisme, Hipokrisi, dan Kita Semua

Ketika idealisme berubah jadi kompromi, dan racun kecil itu bikin gerakan organisasi mengalami asam urat. Apa itu Hipokrisi? Sebelum jauh-jauh, mari kita sepakati dulu. Hipokrisi (atau bahasa sehari-hari: munafik) adalah sikap ketika ucapan dan tindakan tidak sejalan. Seseorang bisa mengaku memperjuangkan nilai tertentu, tapi perilakunya justru bertolak belakang.  Dalam dunia aktivis, hipokrisi sering muncul dalam bentuk: mengaku independen tapi bergantung pada donor, menolak politik tapi diam-diam bernegosiasi dengan partai, atau mengkritik LSM tapi tetap rajin mengajukan proposal. Tentu, ini tidak berlaku untuk semua aktivis. Banyak juga kok yang lurus dan konsisten. Tapi sayangnya, yang segelintir hipokrit ini justru paling sering tampil menonjol, sehingga kesannya mereka mewakili wajah gerakan. Menjauhi Politik, Menjauhi Realitas Pasca-reformasi, banyak aktivis menjauh dari politik formal. Katanya biar tetap bersih, biar nggak terkontaminasi. Tapi menjauh itu artinya membiarkan...

“Antara Jakarta dan Kathmandu: Dekonstruksi Gerakan Anak Muda, Kesenjangan Sosial, dan Politik Elit”

  Pendahuluan Demonstrasi merupakan salah satu bentuk paling nyata dari artikulasi politik rakyat terhadap negara. Dalam banyak kasus, pemuda selalu tampil sebagai motor penggerak perlawanan. Dari perlawanan kolonial sampai gerakan mahasiswa 1998 di Indonesia. Lalu muncul demonstrasi Gen-Z di Nepal pada 2025 dengan pola yang muncul relatif serupa: anak muda menjadi subjek kolektif yang menantang tatanan yang dianggap tidak adil.  Esai ini mencoba membandingkan dinamika demonstrasi di Nepal dan Indonesia dengan menekankan pada peran pemuda, kondisi sosial-ekonomi yang memprihatinkan, kelemahan partai politik penguasa, hingga transformasi media sosial sebagai arena kontestasi. Pada akhirnya, pendekatan dekonstruksi akan digunakan untuk membongkar lapisan-lapisan wacana yang mengitari gerakan tersebut. Anak Muda sebagai Motor Perlawanan Sejarah Indonesia mencatat peran penting anak muda dalam setiap fase perubahan. Pada era kolonial, Sumpah Pemuda 1928 menjadi simbol kesadaran na...

Tenang Bukan Berarti Kebal: "Membongkar Stoikisme Ferry Irwandi”

" Saya siap menghadapi semuanya, saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Saya sampaikan satu hal, ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara," kata Ferry melalui unggahannya di akun Instagram @irwandiferry. Ferry Irwandi muncul sebagai konten kreator publik di media sosial dan kadang di televisi, tepat ketika masyarakat merasa cemas dengan situasi politik dan sosial. Ia bukan sekadar influencer progresif; ia menjadi suara yang menyalurkan keresahan kolektif, menenangkan sekaligus menuntun pengikutnya untuk merenung di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Gaya bicaranya yang tenang dan terukur memberi kesan bahwa ia mampu membaca situasi negeri dengan cermat, mengayunkan logika dan emosi secara seimbang. Stoikisme: Tenang tapi Tetap Peduli Pengendalian diri dan ketenangan sering dikaitkan dengan stoikisme, filosofi yang mengajarkan cara mengendalikan emosi dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan.  Seperti dijelaskan Ferry di  Kanal YouTube miliknya, stoikisme buka...

Melampaui Ego yang Abstrak: Dari Freud sampai Dunia Buruh

Ego itu abstrak atau hal yang bisa dijelaskan oleh bentuk nyata? sebagai bagian dari pikiran isi kepala manusia, kita bisa memulai dari sini. Sigmund Freud, bapak psikoanalisis dari Austria, pernah membagi kepribadian manusia dalam tiga lapisan: id (dorongan naluriah), ego (penengah realistis), dan superego (suara norma dan moral). Ego di sini menjadi “jembatan” antara dorongan, aturan sosial, dan kenyataan sehari-hari. Tapi, apakah ego hanya ada di dalam kepala? Atau ia juga muncul dalam relasi sosial, politik, bahkan dunia kerja? Ego Abstrak dan Penampakan Kalau ego dipahami secara abstrak, maka ia berbeda dari satu orang ke orang lain, karena setiap pengalaman hidup dan pola pikir pasti unik. Namun kalau dilihat dari sisi penampakan, ego muncul dalam relasi sehari-hari. Misalnya, ego seorang pekerja depan komputer tentu berbeda dengan ego pekerja alat berat. Bahkan ketika orang pura-pura sabar atau pura-pura marah sampai ketaksadaran mengambil uang kas perusahaan-dari hasil tender y...

Ironi Solidaritas: Aktivis, Borjuis dan Kita

Kita sering memulai dari buku. Dari Marx yang bicara tentang kelas, dari Kropotkin yang mengidealkan solidaritas, dari Lenin yang menekankan disiplin partai, sampai Derrida yang mengajarkan dekonstruksi terhadap segala struktur mapan.  Di halaman-halaman itu, dunia tampak jelas: ada yang menindas, ada yang ditindas; ada solidaritas, ada pengkhianatan. Jika teori dijalankan, maka perubahan besar bisa lahir. Namun, begitu teori itu masuk ke dunia nyata, ia seperti mengalami gempa.  Siapa yang menyangka dari peristiwa sepele: Pengalaman pahit memang bila seonggok charger HP baru ditukar seenaknya dengan yang sudah usang.  Anehnya, orang-orang di sekitar malah membela si penukar—hanya karena ia teman dekat. Solidaritas yang katanya “setia kawan” ternyata hanya berlaku untuk melindungi kawan yang salah, bukan untuk menegakkan prinsip. Hal yang remeh padahal. Yang bikin sedih adalah, mereka adalah anggota serikat buruh-merah yang pasti hafal luar-dalam teori progresif. Di titik...

Feminisme Sehari-hari: Panggung Advokasi atau Identitas?

Dalam forum-forum advokasi perempuan, satu isu yang selalu muncul adalah soal siapa yang bicara. Identitas pembicara sering kali dijadikan ukuran keberpihakan. Seolah-olah, selama ada perempuan di depan panggung, forum otomatis sahih. Saya pernah mengalaminya langsung. Dalam sebuah acara tentang perencanaan anggaran organisasi perlindungan perempuan, kami kehilangan pemateri perempuan di detik-detik terakhir. Waktu mepet, pengganti sulit dicari.  Acara tetap berjalan dengan satu pemateri laki-laki. Untuk menjaga agar suara peserta perempuan tetap dominan, format diubah menjadi semi-FGD. Sebagian peserta memahami. Tapi seorang ketua salah satu organisasi terundang menolak dengan keras. “Masa acara advokasi perempuan, pematerinya laki-laki?” protesnya. Kritik itu sah. UN Women (2024) mencatat, hanya 22% forum publik di Asia Tenggara menghadirkan perempuan sebagai pembicara utama. Ketimpangan ini nyata. Namun, yang lebih penting dari sekadar siapa yang duduk di kursi pemateri adalah b...

Melewati Badai Nihilisme: Dekonstruksi dan Dialektika Praksis

Banyak orang menuduh Jacques Derrida dengan dekonstruksinya hanya membawa kita pada nihilisme. Katanya, dekonstruksi bikin semua makna jadi relatif, tak ada kebenaran, dan akhirnya hanya permainan kata-kata. Tapi bagi saya, pengalaman membaca Derrida justru lain.  Saya mengenal Derrida pertama kali lewat situs Indoprogress. Berawal dari perdebatan sengit atas karya sebuah buku berjudul "Materialisme-Dialektis, sebuah pembelajaran pengantar Marxisme dan Filsafat Kontemporer." Sang penulis, filsuf muda Martin Suryajaya, dihajar habis-habisan oleh filsuf muda lainnya, yaitu Muhammad Al Fayydl, yang juga pengampu tulisan-tulisan tentang teologi islam progresif. Sebelumnya, saya sudah mengenal Marxisme sejak kuliah semester satu, lewat pendidikan politik di salah satu organisasi-yang kemudian hari saya baru ketahui organisasi ini merupakan bentukan baru dari beberapa aktifis kiri tahun 90an yang turut andil dalam perjalanan menumbangkan rezim orde baru. Mengapa harus dekonstruksi ...